Beranda Headline Dirobohkannya Masjid Kami, Sebuah Kisah Nyata Intoleransi Mayoritas pada Minoritas

Dirobohkannya Masjid Kami, Sebuah Kisah Nyata Intoleransi Mayoritas pada Minoritas

12
BAGIKAN
Masjid Baitul Muttaqin Desa Pule, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, tampak rata dengan tanah (foto Suzana Babat)
Masjid Baitul Muttaqin Desa Pule, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, tampak rata dengan tanah (foto Suzana Babat)

PWMU.CO – Ini bukan tentang Cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis yang sangat terkenal itu. Ini adalah kejadian nyata. Kejadian yang sangat memilukan: Dirobohkannya Masjid Baitul Muttaqin, di Desa Pule, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Perobohan mushala atau (disebut) masjid milik Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pule ini memang telah terjadi 23 tahun silam. Tapi perlu ditulis, untuk menjadi pelajaran berharga, tentang pentingnya toleransi dan kerukunan antarumat Islam. Tentang pentingnya mayoritas Muslim melindungi minoritas Muslim. Sebelum jauh-jauh berbicara tentang hubungan antarumat beragama.

(Baca: Kisah Terusirnya Tokoh Muhammadiyah Yungyang dari Mushala, tapi Akhirnya Dapat Hadiah Masjid)

Kasus ini juga menjadi relevan diangkat bersamaan dengan ramai diberitakannya pelarangan pembangunan Masjid At-Taqwa Muhammadiyah di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh yang dilakukan segerombolan orang yang mengatasnamakan warga Juli Keude Dua. Mereka melakukan protes ke Polsek Juli dan meminta acara peletakan pertam pembangunan masjid dibatalkan. Jika tidak, mereka akan mengancam melakukan perlawanan.

Kronologis Peristiwa
Pada siang bolong, 4 Maret 1993 saat Kardi, pengurus Masjid Baitul Muttaqin, dan beberapa jamaah sedang membenahi teras masjid. Tiba-tiba 5 orang tergopoh-gopoh menuju masjid. Ternyata kedatangan mereka itu bukan untuk shalat. Sukimin, Sarijan, Atemi, Sumirah, dan Nadi justru merusak masjid berukuran 5 x10 M yang sedang diperbaiki tadi. Mereka naik ke atas dan menurunkan genteng.

Belum selesai semua genteng diturunkan, datang seorang lagi bernama Sarim sambil memberi komando, “Terusno ae entekno total (Teruskan saja sampai habis total).” Ia pun ikut naik menurunkan genteng sampai tuntas.

Tentang bukti otentik kronologi peristiwa bisa didownload di link berikut: Bukti kesaksian tertulis para saksi (1) dan Bukti kesaksian tertulis para saksi (2) 

Melihat keganasan perusakan tersebut, seorang guru ngaji bernama Maftuhin melaporkan kejadian itu pada Ketua RT 03/RW 02 Wijianto bahwa Masjid Baitul Muttaqin dirusak oleh enam orang tanpa izin pemangku.

Wijianto segera datang dan memeringatkan ke-6 itu agar menghentikan perusakan tersebut. Tapi peringatan Ketua RT tidak dihiraukan sama sekali. Bahkan, Sumirah malah melecehkan Wijianto. “Halah RT ero Jawane opo? (Halah Ketua RT tahu apa).” Sukimin ikut menimpali, “Ayo terusno ae, wis diijini Pak Kasun (Ayo diteruskan, sudah mendapat ijin dari Kasun).” Baca sambungan hal 2 …

12 KOMENTAR

  1. Kondisi yang dialami oleh saudara-saudara kami di atas hampir secara keseluruhan sama dengan yang dialami oleh warga Muhammadiyah di Desa Juli Keude Dua Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Adanya pelarangan, diskriminasi dan intimidasi yang selalu terjadi terhadap warga Muhammadiyah disana.

  2. Mudah_mudahan Allah memberi kemudahan dalam menyiarkan Agama Islam semoga Dakwah Muhammadiyah menjadi pencerah bagi seluruh umat #muhammadiyahmantoh

  3. Komentar:saya rasa sekarang bnyk m
    umat yang mementingkan golongan daripada islam itu sendiri..terbukti masjid sekarang diberi embel2 organisasi…masjid golonganA masjid golonganB dst…kenapa gak masjid saja…yg berarti masjid tempat ibadah semua umat muslim..

  4. Sebuah. Teladan baik untuk muslim sejati, senantiasa berjuang untuk agama allah dimanapun dan kapanpun , salut ust wajib dkk semoga allah melimpahkan berkah dan kekuatan iman dan kesabaran

Tinggalkan Balasan