Tugas Mendidik Anak pada Ayah, Bukan Ibu apalagi Sekolah

Tugas Mendidik Anak pada Ayah, Bukan Ibu apalagi Sekolah

2049
0
BAGIKAN
Ir Misbahul Huda dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid Attaqwa WSI Menganti Ahad (5/6/2016) (Foto Nurfatoni)
Ir Misbahul Huda dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid Attaqwa WSI Menganti Ahad (5/6/2016) (Foto Nurfatoni)

PWMU.CO – Siapakah yang menjadi penanggung jawab utama bagi pendidikan anak? Apakah sekolah dan pesantren? Ataukah orang tua? Jika orang tua, apakah tanggung jawab utamanya pada ayah atau ibu? Pertanyaan-pertanyaan itu mengemuka dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Attaqwa, Wisma Sidojangkung Indah, Desa Sidojangkung, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Ahad (5/6).

(Baca: Orang Tua Jangan Merasa Aman dengan Perpu Kebiri dan Pentingnya Paradigma Pendidikan Berkemajuan di Muhammadiyah)

Dalam pengajian yang bertema “Pendidikan Anak di Era Digital” ini, Ir Misbahul Huda membuka diskusi tentang siapa penanggung jawab utama pendidikan anak. “Siapa di dalam keluarga yang harus punya peran utama? Apakah ayah, ibu, atau keduanya?” tanya Huda, panggilan akrabnya, pada jamaah pengajian. Beragam jawaban yang diberikan jamaah. Ada yang menjawab ayah. Ada menjawab yang ibu. Dan ada yang menjawab ayah dan ibu.

(Baca juga: Masjid Harus Sediakan Wifi, Buku, dan Kopi agar Lebih Menarik dari Warkop)

Tapi menurut Huda, ayahlah yang menjadi penanggung jawab utama dalam pendidikan anak. “Saya selalu berusaha untuk menghadiri acara raportan anak-anak saya. Dan biasanya saya paling ganteng sendiri, karena kebanyakan yang hadir adalah ibu-ibu,” katanya. Menurut Huda, seharusnya para ayah yang hadir untuk mengambil raport. “Itu sebagai bentuk kecil tanggung jawab ayah dalam pendidikan anak.”

(Baca juga: Pentingnya Pendidikan Agama di Tengah Godaan Setan Global dan Ketika Pendidikan Muhammadiyah Tidak Lagi Modern)

Huda berpendapat, dalam keluarga harus ada satu yang menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak. Menurutnya, ayahlah seharusnya yang mengemban amanah itu. Menurut penulis buku Bukan Ayah Biasa ini, Alquran memberi contoh-contoh kisah ayah yang menjadi sentral pendidikan. “Nabi Adam yang menyelesaikan masalah antara Habil dan Qabil. Dan bukan Siti Hawa,” kata Huda yang menyebut teladan lainnya seperti Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, atau Lukamnul Hakim. “Ada kewibawaan ayah yang tak tergantikan oleh ibu.”

Penasehat Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gayungan Surabaya ini memberi contoh-contoh kecil dalam rumah tangga bagaimana peran ayah lebih efektif dibanding ibu. “Anak-anak di rumah, kalau ibunya yang membangunkan untuk shalat subuh, sulitnya bukan main. Kalau sudah begitu, ibunya menyerahkan pada ayahnya. Begitu mendengar gerakan sandal ayahnya, anak-anak sudah pada bangun,” ujarnya, yang disambut tawa hadirin.

Oleh karena itu, Huda yang lulusan Teknik Elektro UGM ini mewanti-wanti pada para ayah untuk benar-benar terlibat dalam pendidikan anak. “Jangan sampai ayah tidak hadir dalam diri anak karena merasa sudah mencari nafkah. Lalu urusan anak, diserahkan sepenuhnya pada ibu,” ujarnya.

(Baca juga: Jihad di Bidang Pendidikan adalah Salah Satu Fokus Muhammadiyah dalam Mengurus Umat dan Anies Baswedan: Ahmad Dahlan Pelopor Pendidikan Modern Indonesia)

Dalam masa perkembangan anak, kehadiran ayah, menurut Huda, mutlak diperlukan. “Beberapa kasus anak nakal, itu problemnya karena kurang perhatian ayah,” ungkap Huda sembari memberi contoh bagaimana ia menangani problem ”nakal” yang pernah dialami anaknya.

“Dalam waktu 4-6 bulan problem anak saya itu bisa selesai,” tuturnya. Resepnya, kata Huda, anak jangan selalu dianggap anak kecil. Mereka perlu diperlakukan secara dewasa. Huda menceritakan kasus anaknya yang suka usil ngerjain adik-adiknya. Ia juga suka memodifikasi motor ibunya, sampai ibunya tak lagi memakainya karena malu sepeda gaya anak muda. Dari situ Huda menyelidiki, ternyata anaknya suka modifikasi kendaraan.

(Baca: Ternyata, Gurulah yang Membuat Mantan Wapres Boediono Sangat Terkesan sebagai Alumni SD Muhammadiyah! dan 5 Cara Emas Mendidik Anak Menurut Imam Al-Ghozali)

Huda bercerita, suatu saat ada pameran modifikasi mobil. Menurut Huda, anaknya tak mau mengajak ibunya, karena dianggap tak memahami seluk-beluk kendaraan. Maka ia ajak anaknya melihat pameran itu. Dari situlah anak merasa diperhatikan. Setelah sang anak dianggap dewasa dan dipahami apa keinginannya, akhirnya ia kembali jadi baik. “Jadi ayah harus masuk dalam psikologi anak. Memarahi anak tak banyak membawa manfaat. Mereka harus dipahami dan dibimbing. Bahkan mereka perlu dipeluk para ayah,” ujar ayah dari 6 anak ini.

Huda mengkritik para orang tua yang sepenuhnya memercayakan sekolah sebagai penanggung jawab pendidikan anak. “Tugas pendidikan anak itu tanggungjawab orang tua, khususnya ayah.” Huda juga berpesan kepada para orang tua agar tidak merasa aman atas lahirnya Perpu Kebiri, karena akan membuat kehilangan kewaspadaan. (Nurfatoni)

TIDAK ADA KOMENTAR