Generasi Z di Mata Pengusaha dan Politisi Sukses Masfuk

Generasi Z di Mata Pengusaha dan Politisi Sukses Masfuk

1054
0
BAGIKAN
Mantan Bupati Lamongan H Masfuk SH mampu menggairkan semangat peserta konsolidasi PDM Gresik dengan gaya orasi yang baik: joke dan gerak tubuh yang atraktif (foto Nurfatoni)
Mantan Bupati Lamongan H Masfuk SH mampu menggairkan semangat peserta konsolidasi PDM Gresik dengan gaya orasi yang penuh joke dan gerak tubuh yang atraktif (foto Nurfatoni)

PWMU.CO –Selain banyak berbicara soal ekonomi, Mantan Bupati Lamongan H Masfuk SH juga berbicara tentang Generasi Z. Generasi yang lahir tahun 1995-2010 ini diyakini akan menjadi pemegang kendali masa depan. Oleh karena itu, sifat dan kecenderungan mereka harus dipelajari.

Hal itu disampaikan Masfuk di hadapan peserta acara “Konsoslidasi dan Sosialisasi Program Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik Periode 2015-2020” di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik, Jalan Permata No 7 Graha Bunder, Ahad (5/6).

(Baca: Umat Islam Akan Habis jika Tak Bangkit di Bidang Ekonomi)

Menurut pengusaha kelahiran Lamongan, 6 Juni 1962 ini, ada 4 ciri yang melekat pada Generasi Z. Pertama, humble. Banyak senyum. Ramah. Nyemanak (kekeluargaan). “Semakin mbetutut gak payu (semakin cemberut tidak disukai),” kata Masfuk.

Kedua, menghargai perbedaan. “Dulu NU otomatis milih PKB dan Muhammadiyah pilih PAN. Ada mbleset-mbleset dikit paling ke Golkar. Sekarang sudah cair. Di Madura ada anggota Dewan banyak dari PAN,” kata Ketua DPW PAN Jatim ini memberi contoh bahwa di masa depan perbedaan itu semakin mencair.

(Baca juga: Pentingnya Niat Baik dalam Gerakan Dakwah)

Ketiga, mengenal medsos (media sosial), karena sekarang ideologinya IT (informasi teknologi). “Saya terpaksa belajar medsos. Sampeyan ndelek opo ae ono (Anda lihat apa saja ada). Apa Sampeyan punya Twitter, Facebook, WhatsApp, atau Instagram?” tanya Masfuk.  “Jangan sampai orang bilang Instagram, Anda anggap bertanya ‘berapa gram?’,” canda Masfuk yang disambut gerr hadirin.  Menurut Masfuk, perkembangan teknologi seperti ini harus diikuti warga Muhammadiyah.

Keempat, bicaranya menggunakan bahasa biasa. Merakyat. “Tapi di Muhammadiyah beda. Mungkin karena KHA Dahdan menyuruh pinter, terus kebawa saat berkomunikasi ke bawah. Bahasanya tertata. Usul saja harus angkat tangan,” kata Masfuk menyindir. Menurutnya, ke depan orang lebih menyukai komunikasi yang mudah dipahami dan setara sehingga seseorang menjadi bagian di dalamnya.

CEO PT Eka Group ini mencontohkan gaya bicara Presiden Joko Widodo, yang sangat sederhana dan terkesan lugu. “Tetapi itu banyak disukai rakyat. Terbukti Jokowi terpilih jadi Presiden RI,” ujarnya. Warga Muhammadiyah, menurut Masfuk, harus paham ciri-ciri ini sehingga bisa melakukan dakwah yang tepat sasaran. (MN)

TIDAK ADA KOMENTAR