Bagaimana Anak Cucu KHA Dahlan sampai Tinggal di Thailand dan Dituduh Ahmadiyah?...

Bagaimana Anak Cucu KHA Dahlan sampai Tinggal di Thailand dan Dituduh Ahmadiyah? Ini Kisah Cicitnya, Diah Purnamasari

11259
3
BAGIKAN
Djumhan alias Erfan Dahlan, anak ke-5 KHA Dahlan yang tinggal di Thailand (foto dok keluarga)
Djumhan alias Erfaan Dahlan, anak ke-5 KHA Dahlan yang menetap di Thailand (foto dok keluarga)

PWMU.CO – Dari 8 anak KHA Dahlan, ternyata ada satu yang menetap di Thailand. Ia adalah Djumhan atau yang dikenal dengan Erfaan Dahlan, anak ke-5 KHA Dahlan dari istri pertamanya, Nyai Siti Walidah. Sampai sekarang anak keturuan Djumhan masih menetap di Negeri Gajah itu.

Bagaimana kisah Djumhan sampai tinggal di Thailand. Melalui percakapan dengan pwmu.co, Diah Purnamasari, cicit Kyai Dahlan dari anak ke-6, Siti Zuharoh, mengungkap panjang lebar soal itu. Wawancara dilakukan dua kali yaitu tanggal 26/5 dan 2/6/2016.

“Awalnya Eyang Djumhan dikirim ke Lahore Pakistan oleh PP Muhammadiyah, setahun setelah KHA Dahlan wafat. Saat itu beliau berusia 14 tahun,” kata Diah membuka cerita. Di Lahore Djumhan belajar ke perguruan milik Ahmadiyah. Karena waktu itu, Muhammadiyah belum tahu apa, siapa, dan bagaimana Ahmadiyah.

(Baca: Mengapa KH Ahmad Dahlan Berpoligami? Inilah Penjelasan yang Diungkap oleh Keluarga Besarnya)

“Jadi beliau dikirim ke Lahore untuk menyelidiki sambil belajar di sana,” jelasnya. Menurut Diah, Djumhan termasuk orang yang jenius. “Eyang menguasai 9 bahasa asing, sesuatu yang masih langka di zaman itu,” ujarnya.

Selain Djumhan, sebenarnya ada 8-9 orang lainnya yang juga dikirim ke Lahore. “Akan tetapi yang sampai lulus hanya Eyang,” kata putri dari Chayatul Huriyah, anak Siti Zuharoh binti Ahmad Dahlan. “Entah suatu kebetulan atau bagaimana, atau ada politik tertentu, di masa itu, tidak tahu… Yang pasti ketika Eyang Djumhan lulus dan bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba muncul keputusan Majelis Tarjih bahwa Ahmadiyah itu sesat,” cerita Diah.

(Baca juga: Masjid Kiai Dahlan saat Bertetirah di Pasuruan yang Sudah Berubah)

Oleh karena itu, yang belum lulus lalu ditarik pulang ke Tanah Air. “Dan Eyang yang sudah lulus tahun 1930 ditinggal di Pakistan. Karena dianggap sudah jadi Ahmadiyah. Padahal sama sekali tidak,” katanya. Sejak itu Djumhan terlunta-lunta di Lahore. “Eyang sempat hidup sengsara di Lahore. Bekerja apa saja untuk hidup,” kata Diah yang tinggal di Yogyakarta dan Bogor ini.

Saat ditanya pwmu.co mengapa hal itu bisa terjadi? Diah dengan ekpresi sedih berujar, “Karena sebagai kader Muhammadiyah, beliau tidak diakui oleh Ahmadiyah. Sementara sebagai alumni perguruan Ahmadiyah, beliau juga tidak diterima kembali oleh PP Muhammadiyah.” Baca sambungan di hal 2 ….

3 KOMENTAR

  1. Saling klaim mengklaim dlm ormas Islam kadang2 mnjadi kebiasaan, sebetulnya jangan dijadikan kebiasaan yg dpt meretakkan tali2 dan sendi2 kehidupan keagamaan.
    Ini juga pembelajaran bagi Persyarikatan yg tadinya dpt mewarnai pemahamannya, tapi malah diwarnai dan keluar dari Persyarikatan, dpt saja dibelakang menjelek- jelekkan Muhammadiyah. Dan dahulu barang kali blm ada AUM yg spt Pesantren/ Muallimin/ mat. Memang anggota persyarikatan harus dibina untuk kasus2 yg lain, spy yang tadinya anggota Persyarikatan tetap ber-Muhammadiyah. Terutama Pemuda, walaupun yg bukan Pemuda juga dapat lebih cepat melirik klp lain karena merasa diperhatikan oleh klp lain dari bebagai sebab yg lain.
    “PEMBELAJARAN BAGI MUHAMMADIYAH”.