Cara Muhammadiyah Sosialisasikan Lagu Indonesia Raya pada Tahun 1930

Cara Muhammadiyah Sosialisasikan Lagu Indonesia Raya pada Tahun 1930

688
0
BAGIKAN
Cara Muhammadiyah menyosialisasikan lagu kebangsaan: Lirik lagu "Indonesia Raya" di Majalah Soeara Moehammadijah, Januari 1930 (foto: doc)
Cara Muhammadiyah menyosialisasikan lagu kebangsaan: Lirik lagu “Indonesia Raya” di Majalah Soeara Moehammadijah, Januari 1930 (foto: doc)

PWMU.CO – Dalam setiap seremoni kegiatan Muhammadiyah, lagu Indonesia Raya berkumandang. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini menjadi kekuatan sayap Republik ini dalam memasyarakatkan lagu ciptaan WR Soepratman ini. Tidak berselang lama, hanya 14 bulan setelah lagu ini dikumandangkan dalam arena “Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928”, Muhammadiyah menyebarluaskan ke seluruh anggotanya.

Bukti otentik itu secara jelas tercetak dalam Majalah “Soeara Moehammadijah” (kini Suara Muhammadiyah) Nomor 17 Tahun XI edisi 1 Ramadhan 1348 H 31 Januari 1930, halaman 350. Dalam Rubrik yang bernama “Aneka Warna”, Redaksi Soeara Moehammadijah mengkhususkan 1 halaman penuh untuk menyosialisasikan lagu Indonesia Raya.

(Baca: Ketika KH Ahmad Dahlan Jadi Tuan Rumah Kongres Boedi Oetomo dan Pidato Lengkap pendiri Boedi Oetomo saat Resmikan RS Muhammadiyah yang Dikelolanya)

“Keberanian untuk menyediakan satu halaman khusus ini menunjukkan betapa lagu kebangsaan ini bagi Muhammadiyah sangat penting bagi Indonesia menuju kemerdekaan,” begitu jelas sejarahwan dari Universitas Airlangga Surabaya, Arya Wanda Wirayuda MA. Terlebih lagi, pada zaman itu, masih sedikit organisasi yang berani terang-terangan menyanyikan, apalagi mengajarkan, lagu ini di depan umum. Sebab, liriknya memang cukup provokatif bagi bangsa ini untuk segera meraih kemerdekaannya dari penjajahan Belanda.

“Tapi, Muhammadiyah berani melakukannya lewat majalah resmi yang diterbitkan,” urai Arya sambil menyatakan bahwa lagu ini pun mulai tertanam kuat dalam warga Muhammadiyah. Pentingnya lagu Indonesia Raya bagi Indonesia, dan lebih-lebih umat Islam, tambah Arya, secara jelas juga termaktub dalam pengantar Rubrik itu. Redaksi Soeara Muhammadiyah menekankan lagu itu sebagai penghibur hati sekaligus penggerak-beramal.

(Baca: Kyai Dahlan Dirikan Sekolah Nasionalis 11 Tahun sebelum Ki Hajar Dewantara dan Salah Satu Aspek Perbandingan antara Kartini dan Siti Walidah)

“Oentoek penghiboer hati dan penggerak-beramal, maka di bawah ini kita soentingkan njanjian,” begitu tulis Soeara Moehammadijah memberi pengantar untuk lagu Indonesia Raya. Artinya, sungguh sangat keterlaluan dan sangat tidak memahami sejarah bangsa Indonesia, jika ada orang kekinian yang menyatakan Muhammadiyah tidak berkontribusi banyak untuk kelahiran Republik ini.

Belum lagi, begitu banyak kader Muhammadiyah yang jadi tulang punggung negeri ini di medan perang. Sebuah catatan sejarah yang tentu saja tidak cukup ditulis hanya dalam satu halaman ini. Berikut di bawah ini adalah lirik lagu “Indonesia Raja” yang disosialisasikan Muhammadiyah lewat Soeara Moehammadijah itu! (Iqbal paradis)

Indonesia Raja

Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia Kebangsaankoe,
Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe:
“Indonesia Bersatoe”.

Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah negerikoe,
Bangsakoe, djiwakoe semoea,
Bangoenlah rajatkoe,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.

Penoetoep:
Indones’, Indones’,
Moelia-moelia,
Tanahkoe, negerikoe jang koetjinta
Indones’, Indones’,
Moelia, moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s’lama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka,
Poesaka kita semoea,
Marilah kita berseroe:
“Indonesia Bersatoe”.Soeboerlah tanahnja,
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoea
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.Penoetoep: idem IIII

Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang terkoetjintai,
Marilah kita berdjandji:
“Indonesia Bersatoe”S’lametlah rajatnja,
S’lametlah poetranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg’rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.

Penoetoep: idem I dan II

TIDAK ADA KOMENTAR