Sebagai Kekuatan Politik, Muhammadiyah Tak Harus Jadi Partai Politik

Sebagai Kekuatan Politik, Muhammadiyah Tak Harus Jadi Partai Politik

474
1
BAGIKAN
Dr. Abdul Mu'ti, Sekjen PP Muhammadiyah, dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta. Kompas/Imam Prihadiyoko (MAM)
Dr. Abdul Mu’ti, Sekjen PP Muhammadiyah. (Foto Kompas)

PWMU.CO – Sebagai salah satu organisasi terbesar di Indonesia, gerak langkah politik Muhammadiyah selalu menjadi sorotan. Ada yang berpendapat sebaiknya Muhammadiyah tetap konsisten menjadi organisasi dakwah. Ada juga yang berpandangan supaya Muhammadiyah berafiliasi dengan partai politik agar bisa berperan lebih banyak untuk kemajuan bangsa.

Terkait dengan hal itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti berpendapat bahwa Muhammadiyah memang harus ikut berperan dalam percaturan politik. Namun, hal itu buka berarti Muhammadiyah harus menjadi partai politik.

(Baca Juga: Muhammadiyah Berkemajuan, Jawaban Islam Indonesia Masa Depan)

“Muhammadiyah harus menjadi kekuatan politik tanpa harus menjadi partai politik dengan cara memberikan kontribusi pemikiran untuk bangsa dan negara,” kata Abdul Mu’ti dalam sambutannya di acara pelantikan bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah,Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Ngawi, Ahad (22/5).

Mu’ti menyampaikan, Muhammadiyah sebaiknya menjadi political lobby. Dia berharap lobi politik Muhammadiyah mampu mempengaruhi kebijakan-kebijakan bangsa dan negara. “Dengan demikian, Muhammadiyah bisa tetap berperan aktif dalam mengawal pembangunan negeri ini,” tuturnya.

(Baca juga: Abdul Mu’ti: Jangan Curigai Muhammadiyah)

Selain itu, dia juga berharap Muhammadiyah mampu menjadi political pressure untuk memberikan kontribusi kepada negara menuju kebaikan bangsa dan Negara. Menurutnya, warga muhammadiyah harus menyebar di berbagai titik politik.

“Keterlibatan Muhammadiyah dalam politik menjadi sebuah keharusan demi mengawal kebijakan penguasa negeri ini. Karena pemimpin negara mempunyai kewenangan yang luar biasa dan itu sangat berpengaruh terhadap berjalannya dakwah amar makruf nahi munkar,” kata Mu’ti. (mukayat/ilmi)

1 KOMENTAR