Ketika MU dan NU Tidak Saling Bertanding … Fenomena Jepara

Ketika MU dan NU Tidak Saling Bertanding … Fenomena Jepara

2327
2
BAGIKAN
Logo Muhammadiyah NU (ilustrasi pwmu.co)
MU dan NU (ilustrasi oleh pwmu.co)

PWMU.CO – Kabupaten Jepara merupakan salah satu basis Nahdliyin terkuat di Jawa Tengah. Jepara juga satu-satunya kabupaten di Jawa Tengah yang setiap pemilu dan pilkada selalu dimenangi oleh PPP, bahkan sejak zaman Orde Baru.

Meski budaya dan ritual keagamaan dengan nuansa Nahdliyin begitu kental, selama puluhan tahun hubungan warga Muhammadiyah (MU) dengan Nahdlatul Ulama (NU) terlihat rukun. Ukhuwah Islamiyah jauh lebih menonjol dibandingkan dengan nuansa rivalitas dua ormas terbesar di Indonesia ini.

(Baca: Din Syamsuddin Pernah Jadi Kapten Kesebelasan MU Lawan NU)

Oleh karena itu, menjadi pemandangan yang lumrah bila Muhammadiyah punya gawe besar membangun amal usaha, misalnya masjid, klinik, dan sekolah, banyak warga NU ambil bagian. Begitu pula sebaliknya.

Juga bukan hal aneh bila warga Muhammadiyah menjadi makmum di masjid yang dikelola NU. Ketika remaja, saya juga berulang-ulang menyaksikan Ali Basyir, tokoh Muhammadiyah di Jepara, menjadi imam shalat fardu di masjid NU. Bahkan, sebagian lahan amal usaha Muhammadiyah merupakan wakaf warga NU, atau setidaknya secara kultural dan ritual berafiliasi ke NU.

(Baca: Setelah Kongres Boedi Oetomo di Rumah Kyai Dahlan, Inilah Dampak Positifnya bagi Muhammadiyah)

Alun-alun Jepara, yang bersebelahan dengan Masjid Agung, juga menjadi favorit tempat shalat Idul Fitri dan Adha warga Nahdliyin ketika masjid tersebut tidak mampu menampung jamaah shalat id. Masjid As Salam, Potroyudan, milik Muhammadiyah, setiap shalat Jumat juga lebih banyak disesaki jamaah yang secara kultural berafiliasi ke NU. Karena daerah tersebut memang salah satu kantong Nahdliyin.

Salah satu pengalaman mengesankan saya pada 1980-an yakni saat pemindahan sementara kegiatan belajar mengajar Madrasah Assuada, Saripan, yang dikelola Muhammadiyah ke salah satu ruangan di Masjid An Nur milik NU. Saat itu madrasah diniyah tersebut sedang direnovasi. Pengurus masjid sehabis shalat Asar menyediakan ruangan cukup besar untuk puluhan siswa madrasah.

(Baca juga: Apa yang Terjadi jika Warga Muhammadiyah Jadi Imam Jamaah Nahdhiyin?)

Setelah 30 tahun lebih meninggalkan Kota Ukir tersebut, saya lihat kebersamaan warga dua ormas paling berpengaruh di negeri ini masih tetap terjaga. Jalinan bisnis mebel kedua warga kian memperkuat jalinan ukhuwah Islamiyah kedua warga ormas tersebut.

Masjid An Nur hingga kini masih menjadi tempat favorit warga Muhammadiyah di sekitar masjid itu untuk menunaikan shalat fardu. Termasuk pada shalat subuh, meski mereka tidak mengangkat tangan doa qunut pada shalat tersebut. (*)

Oleh Achmad Zaenal M, pekerja media. Simpatisan Muhammadiyah.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan