Kisah Amien Rais yang Gagal Disingkirkan Soeharto pada Muktamar Muhammadiyah Aceh

Kisah Amien Rais yang Gagal Disingkirkan Soeharto pada Muktamar Muhammadiyah Aceh

3574
2
BAGIKAN
Prof Dr HM Amien Rais (foto tukangngarang.wordpress.com)
Prof Dr HM Amien Rais (foto tukangngarang.wordpress.com)

PWMU.CO – Pada sidang Tanwir di Makasar 2004 muncul keinginan agar Kartu Anggota Muhammadiyah cukup dikeluarkan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), tidak perlu dari Pimpinan Pusat (PP). Ini lebih efisien dan sesuai era otonomi. Terjadi pro kontra. PWM DKI Jakarta termasuk yang tidak setuju diubah. Alasannya kartu anggota yang ditandatangani ketua PP bisa menjadi kebanggaan tersendiri. “Malah bisa jadi ‘juru selamat’, itu pengalaman saya,” katanya.

Utusan DKI bercerita, di Jakarta ia pernah salah jalan lalu dihentikan polisi. Pasti kena tilang, pikirnya. Ketika diminta menunjukkan SIM dan STNK, segara ia teringat Kartu Anggota Muhammadiyah yang ditandatangani Pak Amien Rais, lalu ia keluarkan kartu itu, bukan SIM dan STNK. “Apa ini?” tanya polisi heran. “Saya akan menemui beliau ini pak,” jawabnya mantap sambil menunjuk nama Pak Amien, Ketua MPR, yang tertera di kartu Muhammadiyah miliknya. Polisi diam. “Kartu dikembalikan, lalu saya disuruh hati-hati dan terus jalan. Saya selamat dari tilang,” katanya ketawa.

(Baca: Din Syamsuddin Pernah Jadi Kapten Kesebelasan MU Lawan NU)

“Haram! Itu memperalat Muhammadiyah dan Ketua (Umum) PP!” sa­hut seorang peserta. Gerr…. Semua tertawa. Namun dengan ala­san agak konyol ini, DKI berhasil mempertahankan kartu tetap di­keluarkan PP.

Anekdot kecil ini menggambarkan nama Amien Rais, sang lo­komotif reformasi punya wibawa luas sampai ke bawah. Bahkan Pak Harto sejak awal sudah merasa to­koh dengan sorot mata tajam ini akan menjadi penghalang langkahnya. Maka men­jelang muktamar di Aceh 1995, Pak Harto segera bertanya kepada Deputi Badan In­telejen Nasional tentang peluang Amien menjadi ketua PP. “Pertanyaannya halus khas Jawa. Tetapi pesannya tegas, saya tidak boleh terpilih karena Soeharto tidak meng­hendakinya,” cerita Pak Amien dalam buku Putra Nusantara.

(Baca juga: Pak Dirman HW Tulen)

Beberapa hari kemudian intelijen itu melapor bahwa su­lit memben­dungnya. Usaha me­nyingkirkan Amien hanya akan menim­bulkan reaksi anti-Soeharto. Sedangkan orang Mu­ham­ma­diyah tidak ada yang bersedia menjadi pengurus tandingan sebagai mana dulu Abu Hasan membuat pengurus NU tandingan.

Akhirnya Amien terpilih de­ngan suara 98,5 persen. KH Mahbub Ichsan (alm) Ketua PDM Tuban, membisiki saya, “Saya tadi pilih Pak Amien karena pintar, sehat, tegas, dan ganteng. Ini sesuai rumus Alquran: basthatan fil ilmi wal jism (punya kelebihan ilmu dan fisik).” (Albaqarah Ayat 274) Baca sambungan hal 2 …

2 KOMENTAR

  1. selanjutnya bgm.?.? Reformasi yg amburadul pasca lengsernya Pak Harto & Habibie, terlebih pasca amandemen UUD 1945 yg serampangan. Logika Amerika mengalahkan logika Pancasila, UUD 1945, Al Qur’an & Sunnah

Tinggalkan Balasan