Beranda Kabar Umum Etika Ber-Medsos Umat Islam Masih Mengkhawatirkan

Etika Ber-Medsos Umat Islam Masih Mengkhawatirkan

1
BAGIKAN
Dua mata sisi berbagai Medsos dalam kehidupan umat Islam (ilustrasi: doc)
Dua mata sisi berbagai Medsos dalam kehidupan umat Islam (ilustrasi: doc)

PWMU.CO – Perilaku umat Islam dalam ber-media sosial (medsos) masih jauh dari ideal. Begitu salah satu penilaian Ketua Lembaga Informasi dan Komunikasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LIK PWM) Jatim 2015-2020, Muh Kholid AS, terhadap perilaku umat Islam dalam menggunakan medsos. Tidak sedikit umat, bahkan mereka yang disebut tokoh, seringkali menerus-nyebarkan sebuah berita atau peristiwa yang belum terverifikasi kebenarannya.

“Dalam 2 pekan ini saja, kita setidaknya dipenuhi dua isu yang melelahkan dan sangat-sangat tidak mencerdaskan,” kata Kholid. Isu pertama terjadi pada malam tanggal 8 Mei. Saat itu, beredar broadcast di berbagai medsos yang mengabarkan para eksponen Partai Komunis Indonesia (PKI) berkumpul di Madiun, Jawa Timur, pada 9 Mei. “Energi kita selama 2 hari seperti dihabiskan untuk membahas berita yang tidak jelas itu. Dan terbukti memang tidak ada peristiwa itu,” kata Kholid.

Berita dramatis kedua yang juga sama-sama melelahkan adalah perusakan rumah yang menimpa tokoh Muhammadiyah Garut, Jawa Barat, Ustadz Aban Sobana, (11/5). Entah bagaimana ceritanya, peristiwa kriminal yang sebenarnya biasa-biasa itu ternyata di medsos berubah menjadi sangat menyeramkan. Teror!!!. Bahkan, ada yang menilainya sebagai “cikal bakal kebangkitan kembali” PKI.

Kurang eloknya, tambah Kholid, ternyata banyak media online Islam yang “menggoreng” berbagai isu itu sedemikian rupa. Berita yang belum jelas asal-muasal dan kronologisnya ini pun tersebar luas menasional karena media online itu juga berperilaku medsos. Tanpa menunggu keakuratan berita, apalagi verifikasi ke pihak-pihak berkompeten, (boro-boro validitasi lapangan), mereka mengcopy-paste berita yang beredar dan dipermak layaknya tulisan berita.

(Baca: Ketika Kemajuan Informasi Tak Bisa Dihindari, Bagaimana Kita Memanfaatkannya? dan Kronologi-Filosofi Pendirian Website PWMU.CO)

“Betapa begitu menyesakkan di medos ini ketika berita hoax dibagi secara serampangan,” sebut Kholid tentang hoax merujuk “berita tidak akurat” yang dikemas seperti berita.  Ternyata, tambah Pemimpin Redaksi Majalah MATAN ini, tidak sedikit media online yang mengeluarkan berita layaknya sebuah individu saat ber-medsos. “Yakni, sepihak, menghakimi, salah tak mengklarifikasi.”

“Marilah kita belajar menjadi pengguna medsos yang beradab,” ajak Kholid. Caranya, jika dapat berita atau info, lebih-lebih dari grup, maka pertama kali yang harus dilakukan adalah memverifikasi, atau menanyakan kebenaran berita tersebut kepada pihak yang berkompeten. “Jangan mudah untuk mem-forward sebuah kiriman yang belum jelas kebenarannya ke medsos,” kata Kholid sambil pesan al-Quran surat al-Hujurat, ayat 6, yang menyatakan verifikasi (tabayyun) adalah pondasi utama dalam menyebarkan berita.

Untuk menanyakan kebenaran (tabayyun) ini pun, tambah Pemimpin Redaksi situs www.pwmu.co ini, juga mesti pakai etika. Jika punya akses ke narasumber utama, maka sebaiknya konfirmasi dilakukan lewat japri (jaringan pribadi) karena masih banyak masyarakat yang belum dewasa dalam ber-medsos.

Jika tidak mampu mengklarifikasi sebuah berita yang belum jelas pada pihak berkompeten, tambahnya, lebih baik jangan menyebarkannya ke publik. “Meski dengan alasan meminta konfirmasi ke publik sekalipun! Atau lebih parah lagi, jangan pernah melempar berita yang belum jelas akurasinya ke publik hanya  dengan alasan mem-forward sebuah postingan,” himbau Kholid.

(Baca: Inilah 5 Ciri Islam Berkemajuan dan Muhammadiyah Punya Semua Potensi untuk Jadi Teladan Bangsa)

Ketika sudah bisa mengklarifikasi sebuah berita, tambah alumnus Pesantren al-Mukmin Ngruki ini, jangan pula tergesa-gesa membaginya ke publik, meski berita itu benar sekalipun. “Kita perlu melihat, apakah berita itu bermanfaat atau tidak. Jika bermanfaat, silahkan disebar. Tapi jika tidak bermanfaat, lebih baik jangan disebar,” kata Kholid.

Jika sebuah berita valid saja perlu dilihat “kemanfaatannya” disebar atau tidak, tentu penerapan etika lebih ketat diperlakukan pada berita yang “belum pasti benar”, apalagi “tidak benar”. Sebab, itu sama saja menebar kebohongan. “Perilaku semacam ini kalau merujuk pada al-Quran, seperti orang yang pekerjaannya ke sana ke mari menghamburkan fitnah,” kata Kholid sambil mengutip QS al-Qalam ayat 11.

“Sebagai umat Islam, selayaknya kita jangan mudah untuk mem-forward informasi-informasi yang belum akurat. Toh, al-Quran sendiri telah memberi tuntunan pentingnya tabayyun dan larangan menyebarkan berita yang belum jelas akurasinya,” pungkas Kholid. Ayo, mari kita mulai beretika dalam ber-medsos, terutama  saat menerima dan menyebarkan sebuah berita sesuai dengan tuntunan Islam. (iqbal paradis)

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan