Beranda Kabar Umum Kisah Mbah Saturi, ‘Wonder Women’ Sepuh dari Gondanglegi

Kisah Mbah Saturi, ‘Wonder Women’ Sepuh dari Gondanglegi

0
BAGIKAN
Mbah Saturi saat berjualan kacang di depan Kantor Kecamatan, Gondanglegi, Kabupaten Malang (foto Lazismu)
Mbah Saturi saat berjualan kacang di depan Kantor Kecamatan, Gondanglegi, Kabupaten Malang (foto Lazismu)

PWMU.CO – Hidup sebatang kara. Tanpa sanak, tanpa kadang. Dan difabel sejak lahir (tanpa tangan kiri). Itulah sosok Mbah Saturi, perempuan tua asal Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Meski begitu, ia tetap gigih menjalani hidup. Bahkan ia jalani hidup secara mandiri. Sehari-hari ia berjualan kacang rebus di trotoar, depan Kantor Kecamatan Gondanglegi. Sedangkan tempat tinggalnya adalah sebuah bangunan kecil yang berada di teras salah seorang warga di Kampung Meduran, Kecamatan Gondanglegi.

(Baca: Muhammadiyah Peduli Arema dan Ketua Forum Guru Muhammadiyah yang juga Kepala SMKM 7 Gondanglegi: Sempat Ditentang Keluarga Ketika akan Kuliah di Unmuh)

Mengetahui sosok yang “fenomenal” itu, Lazismu Piminan Daerah Muhammadiyah Kabupten Malang bergerak cepat. Dengan dikomandani langsung Ketuanya, Herunanto Endroyono SH, Lazismu terjun menemui Saturi, Ahad dua pekan lalu (01/05), untuk memberikan sejumlah bantuan.

Heru, panggilan akrab Herunanto, mengatakan, salah satu sasaran Lazismu adalah membantu pemberdayaan masyarakat kurang mampu. Dengan harapan, agar ada peningkatan income mereka. Juga untuk kelanjutan perkembangan usahanya.

(Baca: Kisah Islamnya Firanda dan Bimbingan Ibu-Ibu Aisyiyah dan Wanita Singapura Ini Raih Gelar Doktor Tercepat di UMM)

“Mbah Saturi ini adalah contoh interpreneur sejati,” kata Heru. “Kita harus malu sekaligus respect pada beliau. Dengan kondisi tubuh yang sudah uzur, cacat, dan tenaga yang lemah, beliau masih semangat untuk berjualan. Tanpa minta bantuan orang lain,” ujarnya. “Mbah Saturi adalah sosok wonder women (wanita tangguh), yang patut dijadikan contoh bagi generasi muda kita.”

Kegigihan Mbah Saturi, menurut Heru, membuktikan bahwa ia adalah sosok yang memiliki semangat hidup tinggi. “Beliau tidak pernah menggantungkan orang lain. Berusaha untuk mencukupi kebutuhannya melalui usaha kecil: jualan kacang rebus,” tuturnya.

Mbah Saturi dan Lazismu
Mbah Saturi bersama Lazismu Kabupaten Malang (foto Lazismu)

Selain menyambangi Mbah Saturi, Lazismu juga memberikan bantuan pada Ibu Mpon yang tinggal di Kecamatan Kepanjen. Janda dua anak ini sudah lebih dari 5 tahun berjuang secara single parent untuk menghidupi keluarganya. Ia membuka usaha warung makan di pelataran rumahnya.

“Semoga Lazismu akan selalu memberikan kemudahan untuk membantu bagi umat yang membutuhkan,” kata Suhariadi, S.AP, Ketua Devisi Pengembangan Lazismu Kabupaten Malang.

(Baca: Muhammadiyah Kota Malang Luncurkan Beras “Sang Surya” dan Filosofi Martabak)

Suhariyadi mengatakan, dengan semakin meningkatnya jangkauan distribusi dana, maka ke depan Lazismu akan selalu melakukan inovasi dalam meciptakan kreatifitas penawaran programprogram pada caloncalon donator baru. “Lebih-lebih kepada para donatur yang sudah ada, baik yang rutin maupun yang insidentil. Kami juga harus terus-menerus meningkatkan kualitas layanan dan informasi yang mendukung terciptanya transparansi dan akuntabilitas pelaporan,” jelasnya.

Selesai memberikan bantuan, Lazismu juga menghadiri Musyawarah Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Gondanglegi. Pada kegiatan ini, Lazismu diberi kesempatan untuk mensosialisasikan program-programnya. Selain itu, Lazismu Kabupaten Malang juga mengutus Wakil Ketua Kahar Masyhur SPt, untuk hadir sebagai peserta Rakorwil Lazismu Jawa Timur di Ponorogo. (Hari/Rid)

Tinggalkan Balasan