Kenapa Sekolah Muhammadiyah Tidak Melahirkan Kader Muhammadiyah? Ternyata Ini Penyebabnya

Kenapa Sekolah Muhammadiyah Tidak Melahirkan Kader Muhammadiyah? Ternyata Ini Penyebabnya

1532
10
BAGIKAN
Suasana Pengajian
Suasana pengajian tiga bulanan ini bertempat di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo

PWMU.CO – Sekolah Muhammadiyah adalah tempat yang paling tepat sebagai penyemaian kader. Untuk itu, para pendidik harus serius dalam membimbing anak didiknya. Hal itu disampaikan Ustadz Fauzan dalam sambutannya pada acara Pengajian Tiga Bulanan Guru dan Karyawan Muhammadiyah se-Kota Sidoarjo.

(Baca: Ini Penjelasan Mengapa Sekolah Muhammadiyah Tak Harus Lahirkan Kader Muhammadiyah)

Pengajian tiga bulanan ini bertempat di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Tampak hadir guru dan karyawan sekolah Muhammadiyah se-Kecamatan Kota Sidoarjo. Mulai dari SD Muhammadiyah 1, SD Muhammadiyah 2, SMP Muhammadiyah 1, dan SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo.

(Baca juga: Tugas IMM Itu Menjaga Ideologi Muhammadiyah)

Dalam sambutannya, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo Fauzan menyampaikan keluhannya terkait minimnya sekolah Muhammadiyah yang mampu melahirkan kader-kader Muhammadiyah. Fauzan berharap, sekolah Muhammadiyah bisa menjadi tempat penyemaian kader.

“Kenapa sekolah-sekolah Muhammadiyah kok tidak melahirkan kader Muhammadiyah? Karena guru-gurunya tidak menunjukkan identitas Muhammadiyah-nya. Patut dipahami bahwa pengawalan Kemuhammadiyahan hanya dipasrahkan atau menjadi tanggung jawab guru-guru Ismuba (Alislam, Kemuhammadiyahan, dan bahasa Arab). Sementara guru-guru yang lain tidak,” ujarnya.

Pengajian yang diselenggarakan oleh PCM Sidoarjo ini mengambil tema “Esensi Ahlusunnah dan Posisi Muhammadiyah Darinya” Sedangkan yang dihadirkan sebagai pembicara adalah Ustadz Abu Hilal dari Kota Blitar. (ernam/aan)

BAGIKAN

10 KOMENTAR

  1. di samping itu ada masalah krusial, anak turun para tokoh muhammadiyah enggan sekolahkan di lembaga Muhammadiyah. Jadi ‘kader asli’ semkin lemah, tongkat estafetnya berhenti. Mak yg terjadi adalah Muhammadiyah beralih tangan kepada orang yg kurang faham, atau tidak faham sama sekali dg perjuangan Muhammadiyah. Alhamdulillah, simbah saya hingga anak cucunya konsisten ngurip-uripi Muhammadiyah hingga sekarang. Jadi mari, para tokoh didiklah anak cucu kita ttg Muhammadiyah, kelak Islamnya lebih mantab

  2. kenapa guru2 selain ismuba tidak menunjukkan identitas Muhammadiyah-nya? krn mungkin bisa jadi guru selain ismuba bukan warga dan kader Muhammadiyah, kenapa kok bisa guru2 selain ismuba di Muhammadiyah bisa jd bukan warga atau kader Muhammadiyah, karena sebagian besar proses prekrutan guru maupun pegawai di AUM kurang menjadikan status warga dan kader Muhammadiyah sebgai salah satu prioritas perekrutan, dan kurangkan (tidak adanya) proses kaderisasi Muhammadiyah untuk guru dan pegawai AUM di masing2 instansi/AUM Muhammadiyah

  3. Betul sekali sekolah, PT, Rumkit Dan AUM lainnya ibaratnya hanya sekedar temp at cari nafkah bukan lembaga milik muhammadiyah yg bervisi midi islami. Ketika sedang membangun maka warga muhammadiyah diminta infaq ketika sdh jalan Aum diserahkan PD orang2 yg TDK jelas ideologinya mrk hanya cari kerja Dan nafkah. Tidak salah akhirnya produk sekolah Dan Aum tidal ada yg merasa pernah dididk muhammadiyah Dan hanya sedikit yg punya rasa thd muhammadiyah

  4. Lebih dari itu adalah, kegiatan kaderisasi terhambat, atau kurang mendapatkan ruang pembinaan yg cukup. tugas dan tanggung jawab kepsek dalam menghidupkan HW, IPM, dan Tapak Suci tdk berjalan sebagaimana yg diinstruksikan oleh PPM Majlis Dikdasmen no.128/2008, itulah lembaga ortom yg sah sebagai pintu2 kaderisasi

  5. Saatnya ormas Muhammadiyah, melakukan evaluasi tentang pengkaderan, kurangnya kader menyebabkan perjuangan Muhammadiyah kurang greget/loyo, padahal Muhammadiyah adalah ormas yg besar, perlu kader-kader yg handal untuk ke depannya, calon kader2 muda yg potensial hendaknya dipersiapkan jauh hari sebelum kader senior mangkat

  6. Dengan dalih (klise) profesionalitas dan daya saing, _dalam banyak kasus_ mengesampingkan kepentingan2 persyarikatan dalam mengelola siswa sekolah sebagai modal dasar utk diproses dlm wadah2 gemblengan kader (baca=ortom). Wadah2 ini adl identitas kader yg akan mengambil perannya masing2 dalam ber-Muhammadiyah. Sebagai wings organization, ortom akan menerbangkan badan besar Muhammadiyah. Tanpa mengesampingkan point2 yg lain, tentu point ini penting utk diperhatikan…Allahu A’lam

  7. Sekolah muhammadiyah memang bukan sekolah kader persyarikatan yang mejadikan lulusan sekolah muhammadiyah menjadi aktifis muhammadiyah tapi sekolah muhammadiyah memberikan keleluasaan bagi alumninya menjadi aktifis dimanapun
    yang sekolah dimuhammadiyah tidak semuanya berasal dari keluarga besar muhammadiyah sehingga sudah tepat kalau sekolah tidak mengahruskan lukusannya menjadi aktifis muhammadiyah
    sementara rekaderisasi merupakan tanggung jawab majelis kader disetiap tingkatan terutama daerah dan cabang harus selalu mengoptmalkan tugasnya dalam bembinaan ortum (IPM, IMM, NA dan PM) dengan memberikan pembinaan dan arahan yang sesuai dengan manhaj muhammadiyah terutama pedoman hidup islami warga muhammadiyah

  8. Terjadinya krisis kader salah satunya terhambat serta tidak dijalankannya sistim perkaderan dimasing2 ortom,,dan disisih lain banyak tokoh muhammadiyah tidak bisa mengkader putra putrinya kelak nanti sebagai penyambung estafet orang tuanya,

  9. Alhamdulillah, ide dan saran di atas dari teman2 monggo segera direalisasikan mulai detik ini. Semoga menjadi kader2 Muhammadiyah yang militan, sholeh dn sholehah. Semoga semua lini ortom ter connected dgn baik. Koordinasinya rapi, elegan, santun, dan bersahaja.
    Bagi anggota2 ortom yg punya ide atau gagasan silakan nimbrung dan diskusi yg gayeng utk menghasilkan program kegiatan positif dan bermanfaat utk Muhammadiyah dan Muhammadiyyin.
    Salam Perubahan,

    Machmudi OJI/ Direktur Omah Jenius Indonesia.