Mengkafirkan dan Mencaci Pelaku Bid’ah Bukanlah Ajaran Muhammadiyah. Begini Tutur Pak AR

Mengkafirkan dan Mencaci Pelaku Bid’ah Bukanlah Ajaran Muhammadiyah. Begini Tutur Pak AR

14341
6
BAGIKAN
AR Fakhruddin, Pak AR
Ketua (Umum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1968-1990, KH AR Fahkruddin (foto: suaramuhammadiyah.com)

PWMU.CO – Salah satu “perusak” kerukunan dalam umat Islam Indonesia, adalah sikap mencela pihak lain yang berbeda. Bahkan, mengkafirkan pihak yang tidak sama. Apakah Muhammadiyah membenarkan sikap ini, bahkan kepada pelaku “bid’ah” yang suka menambah-nambahi atau membuat “rumusan baru” dalam ibadah mahdlah sekalipun?

Sejak tahun 1970, Ketua (Umum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1968-1990, KH A.R. Fakhruddin, menyatakan bahwa keduanya bukanlah sikap (warga) Muhammadiyah. Berikut catatan tokoh teduh-meneduhkan yang akrab dengan panggilan “Pak AR” itu….

***

Kalau Islam itu berarti damai, mengapa ada orang-orang Muhammadiyah suka membenci, malah ada yang suka mengkafirkan sesama orang Islam, hanya karena tak masuk dalam Muhammadiyah?

Itu tidak boleh jadi. Ajaran Muhammadiyah tidak demikian. Kalau ada yang berbuat seperti itu, membenci sesama Islam, apalagi sampai mengkafirkan kepada orang Islam bukanlah dari ajaran Muhammadiyah.

Orang tidak masuk Muhammadiyah belum tentu kafir. Sampai sekarang yang masuk Muhammadiyah dengan yang belum masuk, banyak yang belum masuk. Jadi tidak mungkin orang Muhammadiyah mengkafirkan secara Muslim.

(Baca: Ini Pesan Pak AR: Cara Menasehati Istri dan Anak dan 5 Pesan Pak AR untuk Suami-Istri agar Rumah Tangga Bahagia)

Sampai sekarang masih mempunyai pendirian sebagai suatu persyarikatan yang menjadi tugas pokoknya adalah dakwah.

Dakwah artinya mengajak-ngajak atau menarik atau menyeru-nyeru. Oleh Muhammadiyah difahami dan dimaklumi, bahwa orang yang belum masuk Muhammadiyah bukan karena benci tetapi karena belum mengerti apa dan siapa Muhammadiyah itu.

Kalau orang telah tahu bahwa Muhammadiyah itu persyarikatan yang mengajak kebaikan, menjauhi kejahatan tentu mereka suka masuk. Sebab tiap-tiap orang itu sesungguhnya suka kepada yang baik dan benci kapada yang buruk.

(Baca: 4 Pesan Pak AR pada Calon Pengantin dan Islam Tertawa yang Bedakan Islam Indonesia dengan Timur Tengah)

Kalau orang telah tahu bahwa Muhammadiyah itu persyarikatan yang mengajak masuk surga, mengajak mengikuti Nabi Muhammad SAW. sedangkan Nabi Muhammad itu orang yang dicintai Allah, tentu orang itu suka memasuki Muhammadiyah.

(Baca: Setelah Kongres Boedi Oetomo di Rumah Kyai Dahlan, Inilah Dampak Positifnya untuk Muhammadiyah dan 5 Pertanyaan Pak AR untuk Warga Muhammadiyah saat Mendesain Interior Rumah)

Kalau orang tahu bahwa Muhammadiyah itu persyarikatan yang mengajak meninggalkan bid’ah, padahal bid’ah itu meskipun wujudnya seperti ibadah tetapi dapat menjerumuskan ke neraka, tentu orang akan rela memasuki Muhammadiyah, sehingga selamatlah mereka dari neraka.

Menyikapi pelaku bid’ah…. halaman 2

6 KOMENTAR

  1. Dikit dikit bid’ah. Seakan akan kalo belum masuk muhammadiyah masih ahli bid’ah. Definisi, konteks kultur, pemahaman sangat berbeda antara awal awal berdirinya muhammadiyah dengan saat ini untuk membentuk makna bid’ah. Termasuk niat pelakunya. Jika pemaknaan bidah yang multi tafsir tersebut, maka jangan terlalu mudah menjustifikasi seseorang melakukan bidah. Porsi besar untuk pembahasan bidah itu sudah berlalu. Pada masanya saat itu. Sekarang porsi terbesar yang ada dihadapan adalah tantangan neo liberalisme. Yang dampaknya lebih besar dari yang mungkin dimaksudkan bidah oleh muhammadiyah. Karena muhammadiyah itu berorientasi kemajuan. Bukan romantisme masa lalu