Apa yang Terjadi jika Warga Muhammadiyah Jadi Imam Jamaah Nahdhiyin?

Apa yang Terjadi jika Warga Muhammadiyah Jadi Imam Jamaah Nahdhiyin?

1972
5
BAGIKAN

PWMU.CO – Tidak seperti di kota, yang adzannya dikumandangkan persis di awal waktu, di desa, adzan Ashar dikumandangkan pukul empat sore, berbarengan dengan pulangnya para petani dari sawah atau ladang.

Usai adzan Ashar, seperti biasa, mushala di salah satu desa di Jombang, Jawa Timur, melantunkan puji-pujian; sambil menunggu makmum lainnya datang. Hingga puji-pujian berjalan sekitar 10 menit, imam rawatib belum juga muncul. Makmun mulai menoleh kiri-kanan mencari siapa yang layak jadi badal (pengganti) imam tetap.

(Baca: Pertanyaan Usil Santri pada Kyai)

Akhirnya, dipilihlah salah seorang jamaah untuk jadi imam. Yang ditunjuk seorang jamaah yang tak memakai kopiyah. Majulah ia jadi imam. Dan dimulailah shalat Ashar. Tapi, imam ini ‘aneh’. Ia tidak mengeraskan niat seperti yang dilakukan imam Nahdhiyin pada umumnya. Jamaah mulai curiga. Ada sedikit rasa gusar.

(Baca juga: Cerita Sekolah Muhammadiyah di Daerah Non-Muslim)

Setelah shalat Ashar usai ditunaikan, imam diam saja. Imam tidak mengeraskan bacaan dzikir dan doa. Imam berdzikir dan berdoa dengan sirr (rahasia). Jamaah shalat pun semakin gusar. Bahkan sampai ada yang nyeletuk, “Waduh, ternyata yang ngimami tadi orang Muhammadiyah”.

He he .. orang Muhammadiyah menjadi imam shalat bagi jamaah Nahdhiyin tidak membatalkan shalat, kan? Begitu pula sebaliknya. Jika yang dari kalangan Nahdhiyin jadi imam jamaah Muhammadiyah? Akur deh!

Muhammad Ainun NajibDitulis oleh Muhammad Ainun Najib, dari sebuah pengalaman nyata. 

5 KOMENTAR

  1. pengalaman yg sama hanya sedikit berbeda dlm caranya. perbedaan itu ngundang tanya oleh mrk. nah inilah waktu tepat utk menjelaskan kpd mereka. oleh krn itu warga muhammadiyah jangan takut beda jk hal2 benar. siapkan jawaban yg mantab atas hal2 yg beda itu!

  2. Saya juga pernah khutbah idul fitri….dikalangan Nahdiyin,di dusun kecil di Glagah Lamongan…mulai khutbah sampai selesai gak ada masalah,tapi setelah selesai baru pak yainya tanya kpd panitia yg mengundang saya.Yang khutbah tadi orang Muhammadiyah khan?kok beda, ternyata konangan juga.mungkin dia menyimak beberapa bacaan saya yang tidak mengawali sholawat dengan kata kata sayyidina…mungkin ada solusinya?mhn komen teman2 muhammadiyah…

  3. waktu itu pernah sholat di Masjid Muhammadiyah Al Isra – Tanjung Duren, ada seorang anak muda yang sering menjadi imam, muadzin dan khotib yang bacaanya bagus dan suaranya merdu, sesekali pernah saat khotbah jumat sang khotib membaca sayidina, akhirnya saya coba bertanya kepadanya kok tumben yah bacaanya bagus padahal biasanya klo imam dan muazin dari muhammadiyah itu bacaanya biasa saja, eh…ternyata dia jawab kalau dia itu warga NU diminta untuk menggantikan Imam masjid yang belum lama telah wafat.

  4. Komentar:(Kisah nyata) saya tinggal lama di komunitas NU dan menjadi imam di sana ketika setiap sholat subuh saya jelaskan bahwa nanti pada waktunya silahkan membaca qunut sendiri” saya beri waktu dan begitulah seterusnya, dan suatu saat mereka minta jelaskan tetang qunut maka saya jelaskan apa itu qunut dgn membuka fiqh Islam karangan SULAIMAN RASYID, setelah mereka faham mereka tidak lagi meminta waktu untuk qunut. Giliran mereka imam dan berqunut saya juga tdk pernah protes atau menyalahkan mereka.