Bagaimana Tuntunan Puasa Sya’ban?

Bagaimana Tuntunan Puasa Sya’ban?

1887
0
BAGIKAN
Tuntunan Puasa Sya'ban
Ilustrasi (kaskus.co.id)

PWMU.CO – Pada hari Ahad, 8 Mei besuk, umat Islam di Indonesia kedatangan bulan Sya’ban. Menyambut bulan yang tertulis sebelum Ramadhan ini, ada sebagian masyarakat yang melaksanakan ibadah-ibadah khusus. Salah satunya adalah puasa Sya’ban dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan, tidak sedikit masjid-masjid melalui mikrofon mengingatkan masyarakat agar tidak lupa menjalankan puasa tersebut. Bagaimana sebenarnya tuntunan puasa tersebut? Inilah penjelasannya…

Suatu hal yang sudah membudaya di masyarakat Islam, apabila bulan Sya’ban telah tiba, menyongsong Ramadhan, mereka banyak melakukan ibadah-ibadah khusus, semisal puasa yang selajutnya dikenal dengan puasa Sya’ban, shalat dan dzikir khusus pada pertengahan bulan, yang selanjutnya dikenal dengan shalat Nisfu Sya’ban, dan lain-lain. Karena masalah ini adalah ibadah mahdhah yang secara prinsip harus mengacu pada sunnah Nabi saw, maka kita harus berdasarkan pada nash yang shahih agar terhindar dari bid’ah.

Menurut beberapa riwayat, Rasulullah saw pernah melakukan puasa Sya’ban, tetapi tidak ajeg atau tidak istiqamah. Riwayat-riwayat itu antara lain sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُهُ إِلاَّ قَلِيلاً بَلْ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ

Aisyah meriwayatkan, katanya: Aku tidak melihat Rasulullah saw dalam satu bulan yang lebih banyak berpuasa pada bulan tersebut, selain puasa di bulan Sya’ban, yaitu beliau  pernah puasa Sya’ban, yang bulan Sya’ban  itu hanya tinggal beberapa hari saja, bahkan pernah beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh. (HR Tirmidzi)

(Baca: Bagaimana Tuntunan Puasa Rajab? dan Teknologi Press Body: Antara Mobil dan Hijab)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي النَّضْرِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Aisyah meriwayatkan, katanya: Rasulullah saw pernah berpuasa yang hingga kami mengatakan tidak pernah berbuka, (tetapi juga pernah tidak berpuasa) hingga kami mengatakan beliau tidak pernah berpuasa, yaitu aku tidak melihat Rasulullah saw berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan, dan yang lebih banyak kulihat beliau berpuasa adalah puasa di bulan Sya’ban. (HR Bukhari)

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ حَدَّثَنَا سَالِمٌ أَبُو النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

Aisyah meriwayatkan, katanya: Pernah Rasulullah saw berpuasa hingga kami mengatakan tidak pernah berbuka, tetapi pernah juga beliau tidak berpuasa hingga kami katakan beliau tidak pernah berpuasa; dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan, juga aku tidak pernah melihat bulan yang lebih banyak beliau berpuasa selain puasa di bulan Sya’ban. (HR Ahmad)

Dan masih banyak lagi riwayat yang sama dan senada yang dibawakan oleh ulama ahli hadits, semisal Muslim, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan lain-lain, yang semuanya bersumber dari Aisyah.

Intinya, Rasulullah saw pernah berpuasa di bulan Sya’ban, kadang-kadang sebulan penuh, kadang-kadang tidak penuh, kadang-kadang beberapa hari saja dan kadang-kadang tidak sama sekali. Namun yang menjadi masalah adalah puasanya itu apakah memang puasa khusus Sya’ban atau puasa-puasa sunnat yang ada. Itu yang lebih banyak dikerjakannya di bulan Sya’ban daripada di bulan-bulan lain.

Selanjutnya: Tafsir kata “berpuasa penuh” di bulan Sya’ban…. halaman 2

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan