Hajriyanto: Pemimpin Muhammadiyah Itu seperti Satrio Pandito

Hajriyanto: Pemimpin Muhammadiyah Itu seperti Satrio Pandito

574
2
BAGIKAN
Hajiyanto Y Tohari
Hajiyanto Y Tohari dalam pelantikan PDM, PDM, dan PC IMM Kabupaten Sidoarjo (foto: Tahmid)

PWMU.CO – Memimpin Muhammadiyah itu, dalam budaya Jawa, seperti satrio pinandito (pandito), memayu hayuning bawono, yaitu kepemimpinan profetik (berjiwa kenabian). Kepemimpinan yang memadukan antara jiwa ulama dan umara. Demikian pesan Hajriyanto Yasin Thohari dalam Pelantikan Bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA), dan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kabupaten Sidoarjo, di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo, hari ini (5/5).

(Baca juga: Tiga Peran Penting Muhammadiyah dalam Memajukan Bangsa)

Menurut Hajriyanto, kepemimpinan seperti itu ada dalam diri Nabi Daud. Selain sebagai Nabi, kata Hajriyanto, Daud adalah seorang raja. Dua kekuatan itu membuat Daud menjadi pemimpin yang berwibawa dan disegani. “Maka dengan gagah perkasa Nabi Daud mampu mengalahkan Jalud. Kam min fiatin qolilatin gholabat fiatan katsirotan bi idznillah,” kata Hajriyanto sambil mengutip Alquran.

(Baca juga: Hajriyanto: Muhammadiyah Tak Perlu Banyak Produksi Kata-Kata)

Berbicara soal kepemimpinan ini, Hajriyanto juga mengutip pendapat Imam Ghozali. Dalam pandangann Ghazali, manusia digolongkan menjadi dua tipologi. Pertama adalah kaum awam, yakni masyarakat umum. Masyarakat kebanyakan. Kedua, kata Hajriyanto, adalah kaum khawas yakni orang-orang khusus.

“Kaum khusus itu adalah para pimpinan. Mereka harus dapat menjadi inspiring dan provoking,” jelasnya. “Karena itu pimpinan harus bastotan fil jismi. Pemimpin harus perkasa. Seperti Nabi Daud.”

(Baca juga: Ketika Pimpinan Aisyiyah Dilantik dengan Pantun)

Selain mengutip Imam Ghazali, Hajriyanto juga mengutip Ibnu Rusd, yang mengelompokkan manusia menjadi tiga golongan. Pertama, kaum terpelajar. Yakni orang yang alim dan juga pintar. Inilah golongan ulama.

Kedua, kata Hajriyanto, golongan pembaca. Kelompok ini mendapat ilmu pengetahuan dengan membaca. Dan ketiga, adalah golongan pendengar. Mereka tidak suka membaca. Tapi mendapat ilmu dengan cara mendengar. ”Nah di Indonesia ini kebanyakan adalah golongan yang ketiga,” tandasnya.

(Baca juga: Jadi Pimpinan Muhammadiyah Itu Harus Menggembirakan Umat)

Berkaitan dengan kepemimpinan itu, Hajriyanto mengajak para pemimpin Muhammadiyah agar berbagi kegembiraan. “Dalam ber-Muhammadiyah, pimpinan tugasnya adalah selalu bergembira dan menggembirakan. Jangan dibuat susah ber-Muhammadiyah iu,” katanya. (Tahmid/Aan/MN)

2 KOMENTAR

  1. apa yg disampaikan bp Hajriyanto sangat tuk warga Muhammadiyah sekarang dan kedepan mudah2an kita dapat melaksanakan amin

Tinggalkan Balasan