Kartini Jadikan Al-Qur’an sebagai Inspirasi Pembaharuan

Kartini Jadikan Al-Qur’an sebagai Inspirasi Pembaharuan

866
0
BAGIKAN
Kartini Jadikan Qur’an sebagai Inspirasi Pembaharuan
RA Kartini dalam gambar (ilustrasi: rehad humala)

PWMU.CO – Nama dan cita-cita Kartini menjadi sebutan dan disegani orang. Tiap tahun dalam bulan April, tepatnya tanggal 21, dia seperti bangkit kembali di tengah bangsa Indonesia. Banyak juga catatan dan penafsiran yang berusaha menguak berbagai sisi Kartini, terutama lewat berbagai suratnya yang telah dibukukan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dari sekian yang ada, sejarahwan Ahmad Mansur Suryanegara menilai perjuangan Kartini tidak lepas dari al-Qur’an.

Bagi Kartini, al-Qur’an adalah sumber cita pembaruan. Sehingga dia pun tercatat sebagai salah satu pencetus awal pentingnya penerjemahan dan penafsiran al-Qur’an. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, 21 Juli 1902, Kartini menyeru pada segenap perempuan bumiputera kembali ke jalan Islam. Tidak hanya itu, Kartini bertekad berjuang, untuk mendapatkan rahmat Allah, agar mampu meyakinkan umat agama lain memandang agama Islam, agama yang patut dihormati.

(Baca: Ketika Kartini Bertasbih dan Lebih dari Sekedar Kartini)

Disadarinya segenap usaha keperintisannya ini, dirinya hanya sebagai pembuka jalan, selanjutnya generasi penerusnya yang akan menyempurnakannya. Jeritan jiwanya yang terhimpit, dilayangkan dalam bentuk surat awalnya kepada Nona Zeehandelaar, “akan dating kiranya keadaaan barui dalam dunia bumiputera; kalau bukan karena kami, tentu orang lain.” (9 Januari 1901).

(Baca: Ini Salah Satu Perbandingan Kartini dan Siti Walidah)

Tentu tidak hanya kepada Zeehandelaar, Kartini menuturkan cita-cita pembaruannya. Tetapi juga kepada M.C.E Ovink Soer, asisten residen Jepara, Prof.Dr. G.K Anton dan nyonyanya di Jerman, DR. N. Adrini pakar bahasa dan Bijbel genootschap,T.H. van Kol anggota 2de Kamer, dan J.H.Abendanon dan istrinya, serta anaknya yang dikenal dengan nama, E.C Abendanon.

Mengawali perjuangannya, Kartini mencoba merobohkan benteng pingitannya dengan mendekatkan dirinya dengan orang Barat yang bebas, melalui korespondensi. Tetapi dampak surat-menyurat dengan orang Belanda, menyebabkan Kartini diajak untuk melepaskan keyakinan Islamnya, dan beralih kepada agama Kristen.

Selanjutnya halaman 2…

TIDAK ADA KOMENTAR