Beranda Kabar Umum Pimpinan Muhammadiyah Harus Tuntas Masalah Ekonomi

Pimpinan Muhammadiyah Harus Tuntas Masalah Ekonomi

2
BAGIKAN
Ketua PWM Jatim Dr Saad Ibrahim dalam konsolidasi PWM-PDM
Ketua PWM Jatim Dr Saad Ibrahim dalam konsolidasi PWM-PDM (foto Azka)

PWMU.CO – Salah satu hal penting bagi setiap pimpinan yang mengurus Muhammadiyah adalah sudah tuntas masalah keluarga atau ekonomi. Sehingga tidak menggunakan apa yang di Muhammadiyah untuk kepentingan pribadi. Demikian pesan penting Ketua PWM Jatim Dr M Saad Ibrahim dalam acara Konsolidasi PWM dan PDM Jatim di Aula KH Mas Mansur Gedung PWM Jatim Jalan Kertomenanggal Surabaya, Kamis (14/4).

Dalam kesempatan ini Saad membagi tiga tipe orang Muhammadiyah. Pertama, mereka yang tidak masuk di struktur, tapi memiliki “ideologi” Muhammadiyah. Kedua, mereka yang bekerja di amal usaha Muhammadiyah (AUM). Mereka bekerja secara profesional dan harus dihargai. “Hemat saya, untuk organisasi yang kaya seperti Muhammadiyah, maka orang yang seperti ini, harus diberi imbalan yang besar,” kata Saad.

Dan ketiga, mereka yang jadi pimpinan Muhammadiyah dari Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah, dan Pusat. Orang yang hadir di situ harusnya sudah selesai urusan-urusan keluarga atau ekonomi. Sehingga tidak menggunakan apa yang di Muhammadiyah itu. “Bahkan pinjam saja jangan sampai dilakukan. Nanti muru’ah-nya gak ada,” pesan Saad

(Baca: 3 Hal Penting dalam Konsolidasi, juga: PWM-PDM se-Jatim Gelar Konsolidasi)

Untuk kelompok orang Muhammadiyah yang di struktural ini, kata Saad, setiap pimpinan dilarang mencampuri AUM. “Adapun kita masuk ke dalam AUM itu menjaga agamanya. Ada penyimpangan tidak. Ini menjaga trust (kepercayaan),” katanya

“Kenapa tidak boleh masuk. Ya iyalah. Soal rumah sakit, apakah PWM atau PDM itu punya ilmunya,” jelasnya. Untuk bisa menenangkan semuanya, lanjut Saad, Muhammadiyah menerapkan kultur audit. Saad menambahkan, audit jangan dimaknai karena berprinsip tidak percaya. Tapi merupakan salah satu ciri Islam yang berkemajuan. (MN)

2 KOMENTAR

  1. berlomba-lomba mencari penghidupan di Muhammadiyah, ketimbang menghidupi orang yang tidak memikirkan dan memperjuangkan Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan