Kisah Dahnil Lamar Putri Kyai NU: Diterima karena Tak Merokok dan Tidak Poligami

0
1226
Pilgub Jawa Timur
Dahnil A Simanjutak memberi Kajian Oase Kebangsaan di Masjid Al-Muttaqien Pimpinan Ranting Muhammadiyah Daun, Bawean dalam rentetan program D2M3.

PWMU.CO – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan dakwah keteladanan adalah dakwah yang paling efektif. Dengan keteladanan, orang akan mudah mengikuti.

Selain itu berdakwah juga harus toleransi dengan sesama. Supaya mudah diterima oleh kalangan manapun. Dia mencontohkan, mertuanya yang merupakan aktivis Nahdlatul Ulama, namun menerima dirinya sebagai menantu.

“Mertua saya itu kyai NU di Cepu. Ketika lamaran, yang pertama kali menerima saya adalah (calon) ibu mertua. Sempat saya tanyakan, kenapa? Jawabnya, ‘Karena orang Muhammadiyah memiliki beberapa keunggulan. Orang Muhammadiyah itu jarang poligami. Orang muhammadiyah itu jarang merokok’,” ungkap Dahnil.

Menurutnya, inilah dakwah keteladanan. “Inilah contoh dakwah toleransi,” ujar Dahnil di hadapan ratusan jamaah Masjid Al-Muttaqien, Bawean, Kamis (30/11/17) malam.

Selain keteladanan dan toleransi, berdakwah juga harus ikhlas. Muhammadiyah adalah produk keikhlasan.

Berdakwah, lanjut Dahnil, harus dengan akhlakul karimah. Ber-Islam tidak cukup bersyariat. Tapi harus diiringi dengan akhlak yang sejalan satu tarikan nafas.

“Contoh saya datang ke masjid shalat berjamaah hanya pakai kaos dalam dan celana 3/4 (pusar dan lututnya tertutupi). Secara syariat shalat saya sah. Tapi secara akhlak tidak baik. Maka mari beragama dengan akhlakul karimah,” tegasnya.

Dakwah, ujar Dahnil, harus solutif. Dia tidak sepakat dengan dakwah yang hanya ceramah saja. Tapi, harus ada langkah konkrit untuk membantu umat.

“Jangan hanya ceramah kepada orang yang sedang lapar. Tapi santuni kebutuhan mereka. Sama seperti hari ini. Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur tampil memberi solusi dan menginspirasi. Ketika Bakis (Balai Kesehatan Islam) di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sangkapura diaktifkan kembali setelah mati suri. Bahkan di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Daun juga berdiri klinik. Ini dakwah solutif,” katanya.

Dahnil juga menyinggung soal budaya Pulau Bawean yang unik. Saat tiba di Pulau ini, dia mengaku heran ketika disambut oleh Ketua PCM Sangkapura dengan pakaian adat setempat yang menurutnya mirip dengan adat Palembang. Dia juga tak menyangka bahwa ada warga bawean yang menggunakan tutur Bahasa Melayu.

Menurut Dahnil, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Pulau Bawean telah banyak mengalami akulturasi budaya. Banyak tradisi di luar Jawa Timur yang mempengaruhi.

“Saya amati orang Bawean banyak terjadi akulturasi budaya. Biasanya orang-orang seperti ini sangat berkemajuan. Karena nenghargai perbedaan dan unik ketika memberikan ajakan kepada kebaikan,” katanya. (Fery/Ilmi)

Tinggalkan Balasan