“Memanfaatkan” Ustadz Mu’ammal

“Memanfaatkan” Ustadz Mu’ammal

530
2
BAGIKAN
Oleh: Drs Nur Cholis Huda MSi
Oleh: Drs Nur Cholis Huda MSi

Ramadhan dua tahun lalu, TvMu, stasiun televisi milik Muhammadiyah, menayangkan serial kisah nabi Yusuf. Masih menjadi kontroversi jika seorang Nabi dalam sebuah cerita diperankan secara nyata oleh orang. Ada yang berpendapat boleh dan ada yang tidak. Padahal dalam cerita Nabi Yusuf bukan hanya seorang Nabi, tapi dua orang nabi tampil. Yaitu nabi Yusuf dan nabi Ya’qub, ayah beliau.

Mungkin untuk menghindari keraguan, kritik bahkan kecaman dari pemirsa, maka sebelum cerita dimulai ada teks pernyataan dari ustadz Mu’ammal. Isinya penayangan ini tidak melanggar ajaran agama karena tidak bermaksud mengultuskan nabi Yusuf, tapi bertujuan membuat cerita lebih jelas. Ust. Mu’ammal “dimanfaatkan” (dalam arti positif) untuk mencegah berbagai tanggapan dan kritikan yang mungkin tidak produktif. Cara TvMu berhasil.

Muktamar Muhammadiyah di Malang tahun 2005 akan dibuka Presiden SBY pada jam 19.00. Muktamirin dan pengggembira sudah berdatangan ke stadion sebelum Maghrib tiba. Bagaimana shalat Maghribnya? Bagi orang Muhammadiyah sudah tahu apa yang harus dilakukan. Tapi bagi orang luar Muhammadiyah, termasuk wartawan, bisa timbul tanda tanya bahkan sangkaan bahwa Muhammadiyah lebih mengutamakan acara pembukaan daripada shalat.

(Baca: Setahun Perginya Ulama Bersahaja Tempat Bertanya, kemudian Terantuk di Dewan Kembali ke Persyarikatan, serta  Penulis Produktif dan Moderat)

(Baca juga: Bayangan Sampai Kenyataan dan Komentar serta Kesan dari Kolega)

Maka lagi-lagi “memanfatkan” ust. Mu’ammal untuk menjelaskan. Di stadion tempat pembukaan itu, di layar sangat lebar diputar video fatwa Ust. Mu’ammal bahwa bagi pengunjung yang datang sebelum shalat Maghrib hendaknya shalatnya nanti dijamak dengan Isya’. Ini nampak sepele, tapi kalau tidak dijelaskan bisa menganggu, bakan menjadi berita liar.

Ketika muktamar ke-40 di Surabaya, para wartawan bertanya kepada Pak AR Fakhruddin soal shalat ini. Sebelum maghrib stadion Gelora 10 Nopember Tambakari sudah penuh pengunjung. “Bagaimana shalat Maghribnya? Apakah sekian ribu orang tidak shalat?” tanya wartawan.

Selanjutnya halaman 02…

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan