Peneliti Indonesia Jangan Jadi Periset dalam Tempurung

97
0
BAGIKAN
Farish Noor dan pimpinan FISIP UMJ. (Foto istimewa/PWMU.CO)


PWMU.CO
– Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki sumber daya pendidikan yang kaya.

Hal itu dibuktikan dengan adanya ribuan peneliti dan perguruan tinggi yang tersebar di seluruh tanah air. Hanya saja, kebanyakan peneliti di Indonesia masih asyik meneliti tentang persoalan sosial, politik, dan agama yang berkembang di Indonesia. Ibarat pepatah, seperti katak dalam tempurung.

Akibatnya, sulit mencari peneliti Indonesia yang memahami dengan baik perkembangan masyarakat di negara lain.

Pandangan tersebut disampaikan Farish Noor dari RSIS Nanyang Technology University Singapura dalam sebuah studium generale yang diselenggarakan Prodi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Selasa (14/11/17).

Kegiaan bertema “Kehadiran Amerika Serikat di Asia Tenggara” itu Farish Noor menyatakan, kecenderungan untuk meneliti persoalan sosial dan politik di negara sendiri tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga di seluruh negara-negara Asia Tenggara.

“Padahal penelitian lintas bangsa dan negara sangat dibutuhkan untuk menjalin kerjasama ilmiah antarperguruan di tingkat ASEAN,” kata Direktur Program Doktor di Rajaratnam School of International Studies, Singapura ini.

Apalagi, lanjutnya, kini negara-negara Asia Tenggara telah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan pergerakan barang dan manusia tanpa hambatan.

“Maka, agar kebijakan MEA bisa berjalan dengan lancar dan tidak menimbulkan dampak negatif, sangat dibutuhkan pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang masyarakat negara-negara ASEAN,” tegasnya.

Selama ini, lanjut Farish Noor, masyarakat akademis di negara-negara ASEAN hanya mengandalkan pengetahuan sejarah sosial dan politik Asia Tenggara dari buku-buku yang ditulis oleh orang-orang Barat dari Amerika Serikat dan Eropa.

“Akibatnya, banyak informasi yang sering tidak bisa lepas dari bias kolonialisme. Maka, sudah saatnya kini para peneliti di Indonesia untuk menerapkan paradigma penelitian yang outward looking, yang memproduksi pengetahuan sendiri tentang masyarakat Asia Tenggara,” pesan dia.

Dalam kesempatan itu Farish Noor memaparkan karya mutakhirnya tentang kehadiran Amerika Serikat di Asia Tenggara pada abad ke-19 dan dampak kolonialisme bagi perkembangan sosial dan politik masyarakat Indonesia, khususnya, dan ASEAN pada umumnya.

Studium generale yang dibuka oleh Wakil Rektor I Kahar Maranjaya itu dihadiri oleh Dekan FISIP Endang Sulastri, Wakil Dekan I Ma’mun Murod Al-Barbasy, dan Wakil Dekan II Evi Satispi, dosen dan ratusan mahasisiwa FISIP UMJ tersebut, (MN)

Tinggalkan Balasan