Ketika Redaktur PWMU.CO Duduk di Kursi Terdakwa

284
0
BAGIKAN
Dari kiri: Muh Kholid AS, Sugeng Purwanto, Fajar Arifianto, Faishol Taselan, Agus Wahyudi, Zainal Arifin, Nurudin MZ, dan Arifah Wikansari. (Foto MN/PWMU.CO)

PWMU.CO –  Salah satu sesi Kopi Darat Kontributor PWMU.CO pada Jumat (27/10/17) adalah tampilnya para redaktur di depan panggung.

Saat mempersilahkan maju, Ketua Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) PWM Jatim Muh Kholid AS menyebut mereka sebagai “terdakwa’. Tentu saja itu hanya candaan Kholid yang dikenal dengan julukan Pria Kalem itu.

Maksudnya, para redaktur itu diminta ke depan untuk menjawab segala aspirasi, bahkan komplain, dari para kontributor. Mungkin, bisa jadi ajang “penghakiman”.

Benar saja. Berhamburan pertanyaan dan pernyataan, yang intinya “pelayanan” radaktur kurang memuaskan. Atas komplain seperti itu, Kholid menyampaikan permintaan maaf.

Lebih dari sekadar menjaring aspirasi, tujuan dari sesi tersebut adalah saling mengenal antara kontributor dan redaktur, karena selama ini banyak yang belum pernah bertatap muka secara fisik. Selain itu, juga sebagai sarana menyamakan persepsi agar tulisan menjadi layak muat. Baik dari segi tata bahasa maupun penggunaan kalimat dan tanda baca yang benar.

Salah satu redaktur yang tampil, Sugeng Purwanto, menjelaskan bahwa kesalahan dalam menggunakan kata dan tanda baca merupakan pemborosan waktu bagi redaktur dalam proses editing berita.

Maka tawa pun pecah memenuhi Aula Mas Mansyur saat SGP—julukan jurnalisnya—mengulas tulisan dari kontributor yang dikirim tanpa jeda kalimat. Sehingga dia membaca rangkaian kata tanpa adanya titik koma.

“Saat saya sampaikan pada Pak Najib, ‘Ini bagaimana Pak?’ Sebab selain tak berjeda karena membacanya satu nafas, tak ada titik komanya pula. Apa Jawab Pak Nadjib? ‘Diedit saja agar layak tayang. Anggap saja sebagai vitamin.’,” ungkap SGP.

Lain lagi dengan Arifah Wikansari, satu-satunya redaktur wanita yang hadir di “sidang para terdakwa” itu. Dia menyampaikan bahwa dirinya menjadi editor berawal dari kecelakaan. “Karena Pak Nurfatoni saat itu harus berangkat haji maka saya yang awalnya sebagai kontributor diberi tanggung jawab tambahan sebagai editor,” ungkapnya.

Padahal, lanjutnya, latar belakang saya adalah pustakawan, yang nota bene berbeda dengan redaktur lain sebagai jurnalis dan penulis. “Tapi saya bersyukur diberi kesempatan belajar di PWMU.CO,” kata Arifah mengakhiri paparannya.

Semua redaktur PWMU.CO memiliki kesibukan masing-masing di luar kerja dakwah ini. Karena semangat ‘jihad digital’, maka mereka meluangkan waktu untuk bersama-sama mengelola website resmi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim ini.

Wakil Ketua PWM Jatim Nadjib Hamid menyampaikan bahwa baru kali ini LIK PWM mengadakan kegiatan di hari Jumat. “Karena kalau hari Sabtu-Ahad, yang datang orangnya sepuh-sepuh. Kalau hari Jumat kan enak, yang datang muda-muda dan tidak terkendala mengisi acara khutbah Jumat,” ujarnya yang disambut gerrr hadirin. (Yulia)

Tinggalkan Balasan