Di Tepi Bengawan Solo, Dasar-Dasar Kepahlawanan KH Ahmad Dahlan Diungkap untuk Cermin Berjuang Warga Muhammadiyah

38
0
BAGIKAN
HM Sulthon Amien dalam Pengajian PCM Laren di Desa Keduyung. (Foto Maslahul Falah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Dalam Pengajian Pimpinan Muhammadiyah Cabang (PCM) Laren yang dihelat di Halaman Perguruan Muhammadiyah Desa Keduyung, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan—hanya berjarak 5 meter dari Bengawan Solo—Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Drs H. Moh. Sulthon Amien MM. mengingatkan kembali beberapa dasar Pemerintah Republik Indonesia menetapkan KH Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional dalam Surat Keputusan Presiden No. 657 tahun 1961.

Sulthon mengungkapkan, ada 4 alasan yang mendasarinya. Pertama, KH Ahmad Dahlan telah memelopori kebangkitan umat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.

Kedua, lanjutnya, dengan Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikannya itu, KH Ahmad Dahlan telah banyak menunjukkan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya.

“Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam,” jelas dia. Dalam hal ini, tambahnya, Muhammadiyah telah berjasa menjadikan Islam modern di Tanah Air.

Alasan ketiga karena Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam,” papar pengusaha di bidang laboratorium kesehatan dengan brand Parahita ini.

Dasar keempat karena Muhammadiyah—dengan organisasi perempuan bernama Aisyiyah—telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Lebih lanjut Sulthon menegaskan bahwa dengan dasar-dasar penetapan itu, warga Muhammadiyah harus mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan ber-Muhammadiyah. “Tentunya dengan pendekatan dan cara baru dalam konteks Muhammadiyah sudah memasuki abad kedua,” pesannya.

Sulthon juga mengingatkan agar dalam pengajaran Kemuhammadiyahaan di sekolah-sekolah tidak hanya terpaku pada tanggal lahir dan wafat tokoh-tokohnya, termasuk KH Ahmad Dahlan.

“Tetapi bagaimana para siswa bisa mempelajari sejarah dan perkembangan Muhammadiyah di Ranting. Kalau di desa belum ada Ranting-nya, bisa nulis tentang Ranting sebelah atau menulis alasan mengapa orang tuanya menyekolahkan anaknya di Muhammadiyah,” urainya.

HM Sulthon Amien (kedua dari kanan) bersama beberapa tokoh Muhammadiyah setempat meninjau gedung SMPM 17 Larena yang terancam longsor. (Foto Maslahul Falah/PWMU.CO)

Sebelum memberi ceramah, Sulthon Amin berkesempatan menyaksikan langsung kondisi Gedung SMP Muhammadiyah 17 Keduyung yang tinggal berjarak satu meter dari Bengawan Solo karena tergerus arus sungai.

Dalam Pengajian PCM Laren putaran ketiga untuk periode 2015-2020 yang berlangsung Ahad (22/10/17) ini, warga Muhammadiyah se-Cabang Laren berduyun-duyun menuju Ranting Muhammadiyah Keduyung.

Cuaca panas tidak menghalangi warga untuk memadati acara yang juga dihadiri oleh sesepuh Muhammadiyah Cabang Laren KH M. Syamsi, pendekar Tapak Suci yang juga Wakil Ketua PD Muhammadiyah Lamongan KH Ahmad Kasuwi Thorif, dan Kepala Desa Keduyung Edi Purnomo.SH.

Selain berisi ceramah, kegiatan juga diisi oleh pemberian santunan dari Majelis Pembina Kesehatan Umum dan Pelayanan Sosial PCM Laren kepada dua warga Muhammadiyah Keduyung. (Maslahul Falah)

Tinggalkan Balasan