Meruginya Menjadi Guru Muhammadiyah

185
0
BAGIKAN
Penulis (kiri) bersama Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah Prof Baidhawi (kedua dari kiri). (Foto dok)

Opini oleh Bahrus Surur-Iyunk

PWMU.CO – Muhammadiyah adalah organisasi kemasyarakatan yang kaya dengan amal usaha, terutama yang bergerak di bidang pendidikan. Mulai dari Play Group (Kelompok Bermain), Taman Kanak-kanak, SD/MI, hingga Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).

Semua lembaga ini tentu saja membutuhkan guru dan dosen yang tidak terhitung jumlahnya. Semua tersebar di seluruh penjuru nusantara dan di beberapa negara.

BACA Berapa Gaji Guru Sekolah Muhammadiyah? “6 Koma …,” egitu Kata DR Abd. Mu’ti

Bagi banyak orang, menjadi guru Muhammadiyah merupakan kebanggaan tersendiri. Sebab, hampir di banyak tempat, sekolah Muhammadiyah selalu menjadi sekolah favorit/unggulan. Lebih menggiurkan lagi, sekolah Muhammadiyah SPP-nya tergolong tinggi dan tergolong elitis. Inilah perspektif orang luar yang bisa benar juga bisa salah.

Padahal, jika ditilik lebih dalam, menjadi guru Muhammadiyah sebenarnya tergolong orang-orang yang merugi. Bagaimana tidak, gaji guru Muhammadiyah mayoritas 5 koma. Bukan RP 5,5 juta dan seterusnya. Tapi, kalau sudah tanggal 5, dapur rumah gurunya “koma” alias “pingsan”, karena gajinya sudah habis terbelanjakan.

Di Jawa Timur, baru tahun ini saja ada Tunjangan Hari Raya yang diberikan kepada guru-guru Muhammadiyah. Itupun dengan syarat, guru tersebut gajinya tidak lebih 250 ribu per bulan. Belum lagi tugasnya seabrek. Di samping sebagai guru, ia harus menjadi aktivis dan pimpinan di Persyarikatan. Ia wajib mengikuti pengajian dan seluruh kegiatan yang dilakukan oleh oraganisasi. Jika tidak mengikuti, ia bisa diberhentikan.

Sekolah Muhammadiyah adalah lembaga pendidikan yang serius dalam pembelajaran berbasis karakter nilai-nilai Islam. Dalam pandangan sebagian orang tua siswa, bersekolah Muhammadiyah itu seperti mondok di pesantren. Bedanya, mereka tidur dan tinggal di sekolah.

Bahkan, dalam hal kedisiplinan dan ketertiban, sekolah Muhammadiyah justru menerapkannya lebih ketat. Jika demikian halnya, maka guru Muhammadiyah harus memperlakukan dirinya secara lebih ketat dan disiplin daripada peserta didiknya. Sebab, ia adalah teladan utama dalam pembelajaran dan pembentukan karakter.

Guru Muhammadiyah juga dituntut untuk melahirkan prestasi dan karakter Islami bagi peserta didiknya. Karenanya, ia harus selalu belajar dan meningkatkan kualitas diri sebagai seorang pendidik. Dalam hal keagamaan, misalnya, guru Muhammadiyah diwajibkan paham dengan cara beribadah ala Muhammadiyah. Di beberapa sekolah, kenaikan gaji dan pangkat kepegawaian dipersyaratkan dengan menambah hafalan Al-Quran. Jika hafalannya tidak bertambah, maka gajinya pun tidak naik.

Begitu repotnya menjadi guru Muhammadiyah. Pengajian banyak, penggajian sedikit. Pendapat (ilmu) harus tambah, tapi pendapatan belum tentu. Karena keadaan yang demikian itulah sesungguhnya menjadi guru Muhammadiyah itu bisa dikatakan rugi.

Dan akan bertambah merugi, jika menjadi guru Muhammadiyah itu hanya berharap men-dapatkan gaji bulanan, tunjangan, insentif harian, seragam tahunan dan sebagainya. Dia tidak mau bekerja, jika tidak ada honornya. Dia tidak mau bergerak, jika tidak ada uang trans-potnya. Dia tidak mau bekerja lebih dari yang ditetapkan, jika tidak ada tambahan upahnya.

Jika ia hanya berharap pada sisi dunianya saja, maka sesungguhnya ia telah menjerumuskan diri ke dalam jurang kerugian yang nyata. Dia hanya mendapatkan dunia yang sangat kecil itu. Di akhirat nanti, ia tidak akan mendapatkan apapun dari upaya dan perbuatannya yang sesungguhnya sangat mulia. Hampir apa yang dilakukan oleh guru itu selalu berbalut pahala. Bicara sedikit saja kepada murid ada pahalanya, karena selalu kebaikan dan pendidikan untuk menjadi lebih baik yang ditonjolkan.

Oleh karena itu, niat dan tujuan menjadi guru Muhammadiyah harus diluruskan. Niat tulus karena Allah harus ditancapkan lebih dalam. Menjadi guru karena Allah itu ibarat menanam padi di sawah. Di samping mendapat padi, ia juga akan mendapatkan rumput yang bisa dijadikan makanan ternak. Tetapi, jika ia hanya menanam rumput (mengharap dunia saja), maka ia tidak akan mendapatkan padi (akhiratnya). Hingga di sini, dunia adalah mazra’atul akhirat (ladang mencapai akhirat).

Cara pandang seperti di atas penting ditanamkan agar tidak “tersesat” masuk ke dalam sekolah Muhammadiyah. Orang ikhlas itu melaksanakan tugas melebihi beban tanggung jawabnya. Ia akan mendapatkan energi lebih dari Allah karena keikhlasannya. Ia sudah tidak lagi tergantung pada besar kecilnya honor yang ia peroleh. Ia sangat yakin bahwa Allah akan memberi tambahan rejeki dari pintu-pintu yang kita sendiri tidak pernah menduganya. Kuncinya, tetap berusaha dan bertawakkal. Wallahu a’lamu. (*)

Tulisan khusus untuk menyambut Silatnas Guru Muhammadiyah Se-Indonesia di Bandar Lampung, 24 Oktober 2017.

Tinggalkan Balasan