Kisah Cak Nun tentang Anis bin Abi Thalib, eh … Ali

57
0
BAGIKAN
Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun bersama sahabatnya. (Foto Cak Nun for PWMU.CO)

Meludai Wajah
Oleh Emha Ainun Nadjib

PWMU.CO – Pemuda belia Ali bin Abi Thalib, berduel meladeni tantangan Amr bin Abd Wad AlAmiri, mewakili pasukan masing-masing.

Pasukan apa? Jangan. Ini kisah tentang zaman di mana suatu bangsa bisa berperang besar di antara mereka karena mempertengkarkan satu kata. Misalnya: pribumi, radikal, kafir, makar, khilafah, dan lain-lain.

KOLOM LAIN Cak Nun Membaca Amsal: Kamu Pribumi ya?

Cukup beberapa episode pertarungan kecanggihan bermain pedang, Amr tergeletak, ujung pedang Ali menyentuh lehernya, tinggal menancapkannya untuk membunuhnya dan membuat seluruh pasukannya menang.

Tiba-tiba dari posisi telentangnya Amr meludah ke wajah Ali, mengenai sebelah pipinya. Termangu beberapa saat, kemudian Ali menarik pedangnya, menyarungkannya. Tidak menggunakan kesempatan dan haknya untuk menusukkan pedangnya ke leher Amr.

KOLOM LAIN Cak Nun tentang Cucu Garuda dan Inspirasi Berhala Latta-Uzza

Betapa terkejutnya semua yang menyaksikan, kedua pasukan maupun terutama Amr sendiri. Tatkala ditanya kenapa mengambil keputusan itu, Ali menjawab, “Aku terhina dan marah diludahi olehnya. Kutarik pedangku, karena aku kawatir membunuhnya karena amarah dan kebencian”.

Bukankah itu perang, sehingga Ali berhak membunuhnya untuk memenangkan Pasukannya, dengan kebencian atau alasan apapun? Jangan. Ini kisah tentang zaman di mana suatu bangsa kehilangan pengetahuan dan keseimbangan untuk mengerti proporsi antara kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan, dan kemuliaan.

KOLOM LAIN Cak Nun dan Kiai Hologram: Tuhan Itu Ada Beneran, Po?

Ini berbeda dengan kisah lain dari zaman antah berantah, ketika Anis (bukan Ali) bin Abi Thalib, dalam posisi ujung pedangnya menempel di leher lawannya, tetapi malah ia yang meludahi wajah lawannya yang telentang itu.

Sebenarnya ini soal momentum, yang menseyogyakan ketepatan ucapan atau tindakan. Kalau substansinya, mungkin ia punya sejarah pengalaman dan tumpukan pemikiran yang membuatnya layak bahkan merasa harus meludahi wajah lawannya. Hanya saja karena ia adalah pimpinan semua pasukan, mestinya dipertimbangkan kemungkinan lain formula tindakan dan pilihan ucapan yang lebih santun, bijaksana dan mengurangi wilayah pertengkaran.

KOLOM LAIN Cak Nun tentang Pancasila dan Karena Saya Manusia

Sesungguhnya Allah menciptakan wajah sebagai ekspresi keindahan dan harga diri kemanusiaan. Dan ludah sebagai alat untuk menikmati alam dan kehidupan. Tetapi ini adalah kisah tentang zaman di mana sebuah bangsa tak habis-habisnya bertengkar di antara mereka, karena semakin kehilangan kemampuan dan ilmu untuk merawat wajah dan menjaga lidah mereka.

Zaman di mana sebuah bangsa menjadi seakan kehilangan pengetahuan tentang bagaimana tidak merusak wajahnya, serta kehilangan kepekaan untuk meletakkan ludah pada ketepatan ruang dan waktunya. (*)

Kadipiro, 18 Oktober 2017

Tinggalkan Balasan