Belajar Safety pada Sekolah Vokasi Dunia: Lebih Baik Repot Satu Menit daripada Menyesal Seumur Hidup

71
0
BAGIKAN
Salah satu arena kompetisi WSC di Abu Dhabi, UEA. Penggunaan safety sarung tangan, apron di dada dan topi seperti ini seringkali tidak mendapat perhatian di Indonesia saat praktik di ruang workshop. Foto Pahri/PWMU.CO)

Catatan perjalanan Pahri, Principal SMKM 7 Gondanglegi

PWMU.CO – Kehadiran saya dan 54 Kepala SMK Jawa Timur di ajang World Skill Competition (WSC) Abu Dhabi 2017 sarat makna. Bermanfaat besar untuk mengelola sekolah vokasi yang bermutu dan berkelas. WSC mengajarkan kami bagaimana mendidik dan melatih siswa agar memiliki kompetensi yang standar dunia usaha dan dunia industri.

Kepala Bidang SMA-SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Dr Hudiono MSi dalam pengarahan berkali-kali mengingatkan peserta ovserver agar memperhatikan secara detail dan serius setiap sisi dari WSC dua tahunan ini.

BERITA TERKAIT Bangga, Merah-Putih Berkibar di Antara 77 Bendera Dunia Peserta Kompetisi WSC di Uni Emirat Arab

“Banyak pelajaran yang dapat saudara ambil, untuk kemajuan sekolah di tanah air,” kata Hudiono saat memberi pengarahan kepada para Kepala SMK Jawa Timur sebelum masuk ke arena Abu Dhabi National Exhibition Centre (ADNEC).

Contoh yang seringkali diabaikan di sekolah saat siswa praktik di bengkel atau di ruang workshop adalah keamanan kerja (safety). Tidak banyak di antara guru dan siswa yang peduli dengan keamanan kerja.

Penerapan safety dalam tata boga: topi cheft, sarung tangan, clemek, atau apron. (Foto Pahri/PWMU.CO)

Di arena WSC ini, safety menjadi perhatian serius. Peserta bisa didiskualifikasi jika tidak mengindahkannya. Misalnya siswa yang berlaga di bidang lomba welding, peserta wajib memakai sarung tangan, kaca mata las, apron (pelindung badan), sepatu boot, dan topi proyek. Demikian pula peserta yang bertarung di bidang lomba cooking (tata boga), mereka terlebih dulu mengamankan diri dengan sarung tangan, pelindung badan (clemmek), topi, dan sepatu cheft.

Saya amati, bentuk, model dan cara penggunaan safety yang ada di arena WSC Abu Dhabi 2017 sangat tergantung pada jenis bidang lomba. Pekerjaan yang berisiko tinggi, menuntut safety yang lebih ketat dan lebih rumit. Sebaliknya pekerjaan yang berisiko rendah dan zero insident, bentuk dan model safety lebih mudah dan lebih ringan. Namun demikian tetap sesuai dengan standar kerja masing-masing.

Delegasi Indonesia sangat mengapresiasi standar safety yang diterapkan panitia WSC Abu Dhabi 2017. Tidak hanya bagi peserta yang berlaga tapi juga bagi undangan dan observer. WSC Abu Dhabi 2017 benar-benar menginspirasi dan mencerahkan. Siap di-ATM-i (Amati, Tiru, dan Modifikasi). SMK Bisa SMK Hebat! (*)

Tryp Hotel Dubai Uni Emirat Arab, 16 Oktober 2017

Penulis (ketiga dari kiri) dan beberapa peserta WSC 2017. (Foto Pahri/PWMU.CO)

Tinggalkan Balasan