Kampong Air, Menolak Lupa Sejarah ala Bangsa Brunei Darussalam

44
0
BAGIKAN
Penulis (kanan) di atas perahu berlatar Kampong Anyer Brunei Darussalam. (Foto Pahri/PWMU.CO)

Catatan Perjalanan Pahri, Principal SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi

PWMU.CO – Bersama 54 Kepala SMK dan Kepala Bidang SMA-SMK Propinsi Jawa Timur, Dr Hudiyono MSi, saya bertolak ke Abu Dhabi Uni Emerat Arab, (12/10). Kali ini untuk menghadiri undangan bergengsi Worlds Skill Competition (WSC) 2017, sebuah pertarungan akbar kompetensi siswa vokasi tingkat Internasional. Para kontestan berlomba menjadi yang terbaik di antara yang baik.

Setelah singgah satu malam di Bandara Ngurah Rai Airport Denpasar Bali, penerbangan dilanjutkan ke Dubai via Bandar Seri Begawan Brunei Darussalam. Jam 09.45 waktu setempat, rombongan tiba di negeri para Sultan ini. Mengisi waktu 10 jam 40 menit—menunggu penerbangan lanjutan—Tour Leaders WSC Jawa Timur, mengagendakan kunjungan ke beberapa obyek wisata. Di antaranya: Jame’ Asr Hasanal Bolkiah Mosque, Istana Nurul Iman, Maritime Moseum, Malay Technologi Moseum, Omar Ali Saifuddin Masque dan Kampong Anyer.

BACA: SMK Mutu Gondanglegi Akan Jadi Sekolah Pertama yang Dikunjungi Konjen Australia Mr Chris Barnes

Bagi saya, obyek wisata yang terakhir bernilai tinggi, sarat sejarah. Kampung Anyer (Kampung Air) adalah kampung asal usul Bangsa Brunei. Kampung ini dibangun para pendatang dari India, China, Arab dan Melayu pada tahun 840 M. Rumah dibangun di atas air sungai yang membelah ibu kota yang berpenduduk 400 ribu jiwa.

Bangunan rumah berpondasi kayu dan sebagian beton. Menancap kuat ke perut bumi, 3 sampai 5 meter. Sebagian lantai dari kayu dan sebagian dicor secara permanen. Atap bangunan terbuat dari seng dan sebagian genteng. Jembatan dan transportasi air menjadi sarana penghubung antar rumah dan antar kampung.

Penulis kiri) bersama tokoh Kampong Anyer Brunei Darussalam H Husen (tengah) di atas Rumah Apung. (Foto Pahri/PWMU.CO)

Mata pencaharian masyarakat Kampung Anyer, nelayan dan sebagian kecil bekerja di sektor wisata. Seperti H Husen, saat libur kerja di sektor formal, rumah-nya menjadi obyek wisata. Ia bersama istri menyiapkan ruang tamu, menyediakan makanan ringan seperti lepet, manisan, teh dan kopi. Selama 90 menit, para pelancong cukup membayar 15 sen atau 45 ribu rupiah per-orang. Harga itu, sudah termasuk tiket perahu, tiket masuk rumah H Husen, serta mencicipi makanan dan minuman ringan.

Menghindari lupa akan sejarah negaranya, pemerintah Brunei Darussalam mempertahankan bangunan, bahasa, adat, dan tradisi masyarakat Kampung Anyer. Sekalipun mereka bukan lagi menjadi penentu, tapi Kampung Anyer menjadi peletak dasar Brunei Modern. “Jas Merah, Jangan Lupakan Sejarah,” demikian, Bung Karno Sang Proklamator RI mengingatkan kita. (*)

Brunei International Airport, 13 Oktober 2017

Tinggalkan Balasan