Beranda Gardu Anwar Hudijono: Menakar Djarot

Anwar Hudijono: Menakar Djarot

0
BAGIKAN
ANWAR HUDIJONO

PWMU.CO – Bagaikan derasnya arus ombak bawah permukaan, nama Djarot Saiful Hidayat jadi perbincangan deras di lingkungan umat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Perbincangan ini semakin lama menyebar sampai di luar lingkungan PDIP melalui alur komunikasi getok tular. Sementara yang mengarus di permukaan adalah Gus Ipul dan Khofifah.

Djarot, Plt Gubernur DKI, memang belum secara resmi mendaftar ke PDIP maju menjadi calon pada pemilihan gubernur Jatim tahun 2018. Yang sudah mendaftar justru Gus Ipul yang boleh dibilang sosok kabur kanginan tidak punya partai. Kendati demikian umat PDIP yakin pada akhirnya nanti PDIP akan mengusung kadernya sendiri seperti pada dua pilgub sebelumnya. Dan Djarot adalah kandidat paling kuat di samping Risma.

Mengapa Djarot? Dia memiliki reputasi prestasi yang baik saat menjadi Walikota Blitar. Dia kader yang memiliki komitmen kuat terhadap partai. Saat menjadi plt Gubernur DKI, Djarot menunjukkan bahwa dirinya bukan epigon Ahok. Dengan demikian dia tidak terganjal sentimen anti Ahok yang di Jatim cukup besar.

baca juga: Kagum pada Gus Dur, Tokoh Muda Muhammadiyah Ini Bilang: Sulit Mencari Penggantinya

Mengusung kader sendiri bisa jadi bagi PDIP adalah untuk menjaga marwah partai. Dengan memiliki 19 kursi di DPRD Jatim, PDIP hanya butuh satu kursi tambahan untuk mengusung calonnya. Kalau hanya untuk tambahan satu kursi, tidaklah sulit. Apalagi jika posisi calon wagub diberikan partai lain yang juga punya kursi.

Jago PDIP di dua kali pilgub memang keok. Tetapi hal itu tidak harus membuat miris untuk memajukan jagonya sendiri di pilgub 2018. Tentu harus dengan perbaikan di sana sini. Kegagalan di Pilgub 2008 dengan jago pasangan Sutjipto-Ridwan Hisyam. Kesalahan utama memilih Ridwan sebagai calon wagub. Ridwan memang mantan Ketua DPD Golkar Jatim tetapi saat maju dia tidak mewakili Golkar melainkan sebagai pribadi. Calon Golkar adalah Soenaryo. Maka boleh dibilang perolehan suaranya ya Cuma dari PDIP.

baca juga: KH Ahmad Dahlan, Muhadjir Effendy dan Pembaruan Pendidikan

Pada pilgub 2013 PDIP mencalonkan pasangan Bambang DH-Said Abdullah. Pasangan ini sama-sama kader PDIP. Boleh dibilang pasangan ini tidak bisa mendulang suara dari luar PDIP.
Di kedua pilgub ini terlihat suara PDIP solid. Tidak ke mana-mana. Jika bisa mempertahankan kesolidan ini, untuk Pilgub 2018 itu sudah modal besar. Tinggal bagaimana menarik pemilih dari non PDIP. Untuk itu, langkah pertama adalah merangkul partai lain untuk menjadi calon wagub. Bisa juga figur yang secara personal bisa menarik dukungan luas dari non PDIP. Bisa juga figur yang direkomendasi organisasi nonpolitik atau komunitas yang memiliki basis massa besar dan solid.*

Tinggalkan Balasan