Agar Potensi Tetap Terasah, Begini Cara Didik SMPM 9 Surabaya Kepada Siswa Berkebutuhan Khusus

0
5
Para guru SMP Muhammadiyah 9 Surabaya saat berdiskusi dengan wali murid soal pendidikan anak inklusi.

PWMU.CO – SMP Muhammadiyah 9 Jojoran Surabaya mengadakan pertemuan dengan wali murid siswa berkebutuhan khusus, Kamis (10/8) lalu. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk saling menguatkan antara wali murid berkebutuhan khusus dengan sekolah. Pasalnya, sekolah ini berkomitmen untuk menerima peserta didik baru dengan segala kondisi yang ada.

Sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan. Dalam sekolah inklusi siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensinya masing-masing. Selain itu, lembaga pendidikan yang dikenal dengan sekolah akhlak ini juga memberikan perhatian dan pelayanan terbaik untuk peserta didik reguler.

Pada tahun ini, SMPM 9 Surabaya menerima amanah dan tugas mulia untuk mendidik dan membina 10 siswa inklusi. Jumlah ini meningkat cukup signifikan. Karena tahun sebelumnya masih 2 ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).

(Baca:Ketika Warga Belanda, Vietnam, Tiongkok, hingga Kanada, Datang ke SMAM 1 Taman untuk Belajar Budaya dan Dari Bazar hingga Festival Topi Meriahkan Milad 54 SD Muda Ceria)

Koordinator ABK SMPM 9 Surabaya Alifah mengatakan, pertemuan antara sekolah dan wali murid ini adalah pertemuan perdana. Dalam silaturrahim ini diharapkan bisa melahirkan keseragaman dalam membina anak didik inklusi. “Pertemuan perdana ini sangat penting. Supaya kita ada keseragaman dalam mendidik dan membina anak mereka,” tuturnya.

Kepala SMPM 9 Surabaya, Imam Sapari mengatakan sekolah yang siap menerima anak ABK termasuk sekolah yang mempunyai jiwa filantropi tinggi. Adapun jiwa filantropi adalah bagian dari pendidikan katakter atau akhlaq. Dalam pertemuan sekolah dan wali murid ini, ada beberapa kesepakatan yang dihasilkan.

“Kesepakatan pertama, kesamaan dalam mendidik anak supaya menjadi siswa/siswi yang mandiri dan bertanggung jawab. Dua, Apa yang sudah diajarkan di sekolah akan ditindaklanjuti di rumah. Tiga, orang tua tidak menuntut banyak dalam hal edukatif, yang lebih ditekankan adalah siswa menjadi sehat dan tidak terbebani,” ujarnya. (fery/ilmi)⁠⁠⁠⁠

Tinggalkan Balasan