Ketika Cak Nun Bicara tentang Sorga Bernama Mad-Soc

0
69
Cak Nun bersama Mohamad Sobary. (Foto Cak Nun for PWMU.CO)

Mad-Soc, Semacam Sorga
Oleh Emha Ainun Nadjib

PWMU.CO – Barang siapa mau menjadi penduduk Negeri Mad-Soc, atau Mad Society, akan mendapatkan kemerdekaan yang semerdeka-merdekanya. Bebas dalam arti sebenar-benarnya bebas. Jargon Freedom of Spech, Freedom of Expression, sungguh-sungguh nyata dan mewujud. Setiap orang punya peluang untuk menjadi dirinya atau mengaku bukan dirinya. Setiap orang boleh mengungkapkan isi hati apa adanya. Setiap orang punya wadah untuk mengekpressikan pikirannya tanpa filter, tanpa sensor, tanpa harus dikontrol oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri.

Di Mad Society tidak ada aturan, etika atau sistem kontrol bagi setiap orang untuk memanifestasikan isi perasaan dan muatan pikirannya. Ibarat media, setiap orang bisa menerbitkan korannya sendiri-sendiri, bisa menayangkan siara tevenya sendiri-sendiri. Tidak harus berpikir untuk mempertimbangkan, menakar, menghitung resonansinya, atau mensimulasi akibat-akibatnya.

(Baca: Cak Nun tentang Negerinya Pak Amin)

Mad Society adalah sorga. Setiap warganya punya peluang penuh untuk jujur atau curang. Untuk obyektif atau subyektif. Untuk apa adanya atau menambahi. Silahkan mengutip ungkapan orang lain dengan mengurangi, mengubah, memotong-motong, memanipulasi dan mengeksploitasi, sesuai dengan visi missi Sampeyan. Ibarat pedagang sop buntut, kalau ada sapi lewat, silahkan potong buntutnya, untuk dimasak menjadi Sop Buntut sesuai dengan selera dan kepentingan masing-masing.

Pengurangan, penambahan, manipulasi, dan eksploitasi itu silakan dilakukan untuk berdagang tayangan, postingan, dan edaran. Atau untuk menghantam lawan politik. Untuk mengutuk siapapun yang Sampeyan benci. Mem-bully siapapun yang Sampeyan dengki. Alhasil Mad Society membuka pintu selebar-lebarnya bagi kepentingan ekspresi, kreativitas, pelecehan, penghinaan Sampeyan kepada siapapun.

(Baca juga: Permohonan Cak Nun agar Nabi Khidlir Hadir Kembali dan Memutar Arah Istana)

Misalnya kutip ayat Alqur`an, untuk teks tulisan atau meme, ditambahi dengan pencantuman identitas kelompok yang Sampeyan musuhi, dikurangi kata dan kalimat yang kurang mendukung kepentingan Sampeyan, atau apapun saja Sampeyan merdeka:

Juluran Lidah Anjing
Oleh Allah swt

Sesungguhnya Kami tinggikan derajat kaum radikalis dan intoleran, tetapi mereka cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah”.

(Baca juga: Cak Nun soal Budaya Politik Nasional: Pilih Celana atau Makanan; Korupsi atau Rasa Malu?)

Sembilan Naga
Oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki, Sembilan konglomerat, yang membuat kerusakan di muka bumi, yang membangun Meikarta dan reklamasi di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Sungguh mereka tidak berbuat kebaikan di bumi.

Pekak dan Tuli
Oleh Rahman Rahim.

Sesungguhnya Presiden yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah Presiden yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Sesungguhnya Presiden jenis itu, sama saja baginya, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, dia tidak juga akan percaya. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengarannya. Penglihatannya ditutup. Dan baginya siksa yang amat berat.

(Baca juga: Cak Nun tentang Lomba Ajal di Gerbang Perubahan, Ada Peristiwa Besar pada 26 Agustus 2017?)

Penyakit Indonesia
Oleh Gusti Allah

Dalam hati bangsa Indonesia ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang menyelenggarakan pembangunan, terutama infrastruktur”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Ulama Keledai
Oleh Ilahi Rabbi

Perumpamaan kaum Ulama dan Intelektual adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal di punggung mereka. Amatlah buruknya perumpamaan kaum berilmu namun tiada manfaat bagi masyarakatnya. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang dhalim. Setiap mereka bersuara, melontarkan pernyataan dan menyebarkan fatwa, itu adalah suara keledai. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

(Baca juga: Ini Kata Cak Nun: Indonesia Makam Pancasila)

Pejabat Munafik
Oleh Muhammad saw.

“Ciri-ciri Pemerintah dan pejabat-pejabat di Indonesia ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat”

***

Budaya Mad Society adalah wahana yang paling cemerlang untuk mengenali siapa dan bagaimana makhluk manusia yang sebenarnya. Adalah arena penelitian yang subur fakta tentang hakekat isi batin manusia. Adalah medan riset yang memuat segala yang terbaik dan yang terburuk pada jiwa manusia.

(Baca juga: Pilgub, Pilpres, Pilnab, dan Piltu Menurut Cak Nun)

Kalau Sampeyan ingin tahu betapa mulianya manusia, dan betapa kejinya manusia, masuklah ke wilayah Mad Society. Kalau Sampeyan berniat mendalami betapa suci dan kudusnya lubuk kalbu manusia, atau betapa kejam, lalim dan busuknya hati manusia, bergabunglah ke Mad Society.

Kalau Sampeyan bertugas untuk mendata tentang betapa semberononya cara manusia memikirkan sesuatu, memandang dan menilai sesuatu. Betapa pendeknya sumbu akal manusia, betapa parsial dan sempit pita persepsi di struktur pikiran manusia. Betapa nafsu dan kepentingan pragmatis keduniawian manusia sangat mudah mengalahkan akal sehat dan pikiran jernihnya. Betapa gagah beraninya manusia mendustai dirinya sendiri, mengakali rakyatnya, membohongi Tuhan dan Nabinya. Betapa curang analisisnya, betapa ngawur dan serampangan persepsinya. Betapa culas dan serakah nafsu, amarah dan kebenciannya.

(Baca juga: Ini Kata Cak Nun: Hinalah Aku, Jangan Islam, Please)

Tapi juga kalau Sampeyan ingin menyelami kebijaksanaan hidup, mengarungi kemuliaan jiwa, menatap dari jauh ufuk kesucian ahsanu taqwim, mencerdasi yang tersirat di balik yang tersurat, membuntuti “min haitsu la yahtasib”, mengagumi “wama romaita idza romaita walakinnallaha roma”, mengeksperimentasikan karma, “ngunduh wohing pakarti” serta “man ya’mal mitsqola draarotin khoiron wa syarron yaroh”—saya ucapkan selamat datang di Zona Mad Society.

Bahkan Sampeyan boleh memanipulasi kata, kalimat, dan konteks tulisan ini untuk menghancurkan saya atau melempar batu panas ke jidat musuh Anda. (*)

*) Emha Ainun Nadjib, budayawan.

Tinggalkan Balasan