Beranda Kabar Umum Gurihnya Bisnis Soto Pak Besar

Gurihnya Bisnis Soto Pak Besar

2
BAGIKAN
Gurihnya Bisnis Soto Pak Besar
Hj Lailatul Khairiyah di gerainya di kompleks waralaba terkemuka di kawasan Dharmahusada Surabaya (foto: agus wahyudi)

PWMU.CO – Bisnis kuliner tak pernah mati. Berbagai macam produk terus bermunculan. Dari brand asing maupun lokal. Salah satunya yang kini dijalankan H. Budiono atau kerap disapa Pak Besar. Ia merintis gerai soto ayam khas Kraksaan. Gerai soto yang dibuka empat bulan lalu, kini termasuk salah satu destinasi kuliner di Kota Pahlawan.

“Awalnya, banyak kolega yang mendorong buka warung setelah mereka makan soto di rumah saya di Probolinggo. Saya mulanya belum merespons. Namun setelah dijalani di Surabaya, alhamdulillah hasilnya lumayan juga,” ucap Budiono, ketika ditemui pwmu.co di gerainya di kompleks waralaba terkemuka di kawasan Dharmahusaha (Kaliwaron Pojok), Surabaya.

(Baca: Inspiratif … Muhammadiyah Surabaya Barat Garap Bisnis Bersama dan Ketika Bendahara PWM Bertemu Mak Comblangnya)

Sebelum menerjuni bisnis kuliner, Budiono adalah mantan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Probolibggo periode 2000-2010. Istrinya, Hj Lailatul Khairiyah, juga mantan ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) periode 2005-2015. Keduanya mengelola Rumah Sakit Anak dan Bersalin Fatimah (kini berganti menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak Fatimah) di Kabupaten Probolinggo.

Budiono mengaku punya hobi memasak sejak usia muda. Dia biasa mencoba berbagai resep masakan. Hobinya itu makin terasah ketika dia menemukan racikan soto. Soto buatannya itu kerap disuguhkan kepada kolega-koleganya, tak terkecuali para pimpinan Muhammadiyah yang kebetulan menghadiri acara di Probolinggo.

(Baca: Kisah Amien Rais yang Gagal Disingkirkan Soeharto pada Muktamar Muhammadiyah Aceh)

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah M. Amien Rais, misalnya. Dia sering mampir ke rumah Budiono dan mencicipi soto buatannya. Pun dengan Din Syamsudin, mantan ketua umum PP Muhammadiyah, juga punya cerita hingga kepincut makan soto buatan Budiono.

Ketika itu, sekitar tahun 2010, Din akan menghadiri acara di Genggong. Lantaran acaranya masih menunggu tiga jam, Din mengajak Budiono makan siang. Budiono lantas menawarkan diri diri untuk makan siang di rumahnya. Din pun menyanggupi.

(Baca: 7 Resep Murah Meriah Membangun Keluarga Sakinah dan Tipe-Tipe Warga Muhammadiyah versi Abdul Mu’ti)

Bukan hanya tokoh Muhammadiyah, Gubernur Soekarwo dan Hasan Aminudin (saat itu Bupati Probolinggo) juga sangat menggemari soto racikan Budiono. Massahi Takamo dan Noboru Namamura (keduanya mantan Konjen Jepang), Indria Samego (pengamat LIPI), Zawawi Imron (budayawan),   juga beberapa kali datang ke rumah Budiono dan memuji kelezatan sotonya.

Mayoritas Pelanggan Orang Tionghoa

Tahun 2015, Budiono dan Lailatul Khairiyah pindah ke Surabaya. Ini karena dia ingin lebih dekat dengan anak semata wayangnya, Siska Mawaddatun Nadila, yang menempuh studi di SMA Muhammadiyah 2 Pucang. Selanjutnya halaman 2…

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan