Ini Jawabnya, Mengapa Ibu Sering Mengulang Kata-Kata pada Anaknya

Ini Jawabnya, Mengapa Ibu Sering Mengulang Kata-Kata pada Anaknya

0
BAGIKAN
Wakil Ketua PWA Jatim Hj Rukmini saat memberi ceramah dalam Silaturahhim IGABA Gresik. (Foto Agustine Nurhayati/pwmu.co)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jatim Hj Rukmini mengingatkan bahwa dalam pendidikan Islam ada 3 hal yang harus ditekankan pada siswa didik, baik di sekolah maupun di rumah. Hal itu dia sampaikan dalam Silaturrahim Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Gresik, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik, Sabtu (15/7). (Berita terkait: Kata Mubalighah Aisyiyah tentang 5 Bentuk Kasih Sayang Orangtua pada Anaknya)

Pertama, taklim yaitu mengajarkan suatu ilmu atau ketrampilam seperti, membaca, menulis, menggambar, situasi bersikap dan sebagainya. Kedua, tadris, yaitu latihan-latihan. Dan ketiga takhdib atau pembiasaan.

(Baca: Kader Aisyiyah Harus Bisa Menggerakkan Dakwah di Lingkungannya)

Menurut Rukmini, poin ketiga itu lekat dengan budaya. “Dengan pembiasaan, pelaksanaan sunah jadi mudah dalam kehidupan sehari-hari. Dan ini adalah peran utama ibu sebagai madrasah pertama buat anak di rumah,” ungkapnya.

Itulah mengapa, tambah Rukmini, setiap ibu selalu mengulang-ulang kata yang sama. “Itu adalah cara mengajarkan nilai pada anak dengan mengulang kata berkali-kali karena memang itu prinsip mendidik. Sesuai fungsi otak perempuan, di mana otak kiri lebih dominan,” jelas dia.

(Baca juga: Bukan Sekadar Saling Kenal, dalam Ukhuwah Islamiyah juga Harus Ada Unsur Penjaminan)

Di sekolah pun, ujar Rukmini, pembiasan perbuatan baik harus dikuatkan. Mulai hal kecil seperti membuang sampah, berdoa setiap hendak melalukan sesuatu, hingga bagaimana cara melakukan ibadah. “Hal ini adalah tugas guru di sekolah dengan tanpa mengabaikan peran orang tua di rumah terutama ibu,” kata dia.

Dia berpendapat, tanggungjawab agar anak didik menjadi kuat (akidah dan akhlak) adalah tergantung keluarga dan sekolah. “Dimulai dari rumah dikuatkan di sekolah,”ucapnya. Alasan itulah, lanjutnya, yang menjadi pertimbangan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Prof Muhadjir Effendy akan menerapkan 5 hari sekolah. Harapannya, siswa didik memiliki kesempatan belajar dari keluarga dan para guru juga memiliki kesempatan untuk ngramut’ anak dan keluarga sendiri,“ papar Rukmini yang disambut tepuk tangan seluruh undangan yang hadir.

Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik Uswatun Hasanah mengajak beberapa guru menghafalkan doa. (Foto Agustine Nurhayati/pwmu.co)

Sebanyak 300 guru yang berasal dari 45 TK dan 36 Kelombok Bermain (Kober) hadir dalam acara tersebut. Kepada IGABA, Rukmini menekankan pentingnya pendidikan dasar dan peran guru TK sebagai pendidik. “Mengajar bukan hanya memberikan pengetahuan tapi juga membentuk sikap,” Rukmini mengingatkan. Dia juga sempat mengangkat syair dalam Mars Lembaga Kebudayaan LK) dan IGABA, yang di dalamnya terdapat syair budaya Islam, keluarga sakinah, dan qaryah thaiyibah.

“Ini bukan sekadar lagu yang dinyanyikan dan dihafalkan. Tapi adalah program yang harus dilaksanakan oleh Aisyiyah. Menjadikan Islam sebagai budaya artinya membiasakan diri mengikuti aturan dan ajaran Islam. Mendarahdagingkan ajaran Islam pada anak-anak TK dan Kober adalah tugas guru, yakni mendasari pendidikan dengan ketakwaan pada Allah SWT,” jelasnya.

(Baca: Tokoh Agama Aisyiyah pun Terpanggil, karena Penaggulangan TB-HIV Bukan Hanya Tanggungjawab Paramedis)

Tugas guru, tambahnya, adalah menjadikan anak didik menjadi kuat dengan  menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Rukmni juga mengatakan bahwa “PR” IGABA melakukan pembinaan pada wali siswa untuk mensosialisasi dan bekerja bersama dalam melaksanakan program pembinaan pada siswa terutama dalam hal ubudiyah.

Acara silaturhami IGABA Kabupaten Gresik diisi juga dengan kegiatan Workshop Jilba Islami sesuai Tuntunan. Pemberian door prize di akhir kegiatan sempat membuat suasana heboh. (Agustine Nurhayati)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan