Usai Program LeX, 5 Mahasiswa UMM ke Jepang

Usai Program LeX, 5 Mahasiswa UMM ke Jepang

480
0
BAGIKAN

menunjukan prototype yang dibuatnya (Foto: Humas UMM)
menunjukan prototype yang dibuatnya (Foto: Humas UMM)
PWMU.CO – Setelah Program Belajar Cepat (Learning Express, LeX) resmi berakhir, Kamis (24/3) kemarin. Lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) didaulat bertolak ke Jepang pada bulan September 2016 mendatang. Hal itu setelah kelima mahasiswa tersebut bekolaborasi dengan peserta lain membuat prototype untuk membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya di Kota Batu.

Asisten Rektor Bidang Kerjasama, Drs Soeparto MPd mengatakan ada tiga produk yang dibuat oleh ke-68 peserta program LeX. Ketiga prototype tersebut akan dimatangkan konsepnya di Jepang untuk dibuatkan barang jadinya. ”Bulan September 2016 mendatang (prototype) akan dimatangkan di Jepang dan sekaligus mengundang lima mahasiswa kita kesana,” ujar dia, Jum’at (25/3).

Lebih lanjut Soeparto menjelaskan program LEX merupakan kerjasama empat kampus dari tiga negara, yakni UMM, Singapore Polytechnic (SP), Kanazawa Institute of Technology (KIT) Jepang, dan Kanazawa Technical College (KTC) Jepang. Selama empat hari mahasiswa dari ketiga negara tersebut melakukan observasi di Desa Temas, Batu.

”Tiga UMKM yang menjadi fokus perhatian para peserta LeX, yakni usaha pemotongan ayam, pabrik tahu, dan wisata tani,” jelasnya.

Dari hasil observasi yang dilakukan mahasiswa program LeX, dihasilkan beberapa prototype sesuai dengan permasalahan UMKM yang ada. Diantaranya pada unit usaha pemotongan ayam. Salah seorang peserta LeX dari mahasiswa Biologi UMM Adjar Yusrandi Akbar menemukan permasalahan dalam pengelolaan pembersihan ayam potong. ”Diperlukan alat tambahan seperti panci berlubang dengan pegangan tangan yang berfungsi untuk menampung ayam beserta kotorannya. Pegangan di panci berlubang akan memudahkan dalam memutar ayam. Sehingga tidak perlu memakai kayu lagi,” papar Adjar.

Sedangkan Anggita Elma Winda menemukan permasalahan di pabrik tahu, desa Temas. Penduduk sekitar merasa tidak nyaman dengan asap berwarna hitam, karena dinilai mengganggu kesehatan dan aktivitas warga. “Dari permasalahan itu perlu alat untuk dapat mengurangi warna pekat hitam tersebut. berupa dua corong untuk memisahkan uap dan asap,” terangnya.

Sementara untuk permasalahan wisata tani Hanum Shirotu Nida, mahasiswa Teknik UMM menjelaskan lebih menarik jika tanaman ditata rapi dan dibedakan sesuai jenisnya. “Dalam prototype yang kami buat terdapat tanaman hias, sayur-sayuran dan buah-buahan yang dibedakan sesuai dengan lahannya. Di setiap tanaman juga diberi keterangan untuk mengedukasi pengunjung. Kami juga menyediakan tempat yang dapat menjual tanaman organis yang dikelola oleh warga setempat. Sehingga dapat menjadi pemasukan lebih bagi warga setempat. Terlebih, lokasinya berada di dekat wisata rafting sehingga banyak orang yang akan berkunjung ke kampung wisata ini,” ujar Hanum.

Selain 3 prototype dihasilkan, program LeX juga mendapat apresiasi dari peserta. Salah satu mahasiswa SP Wiyata Sadikin mengaku program ini sangat menarik dan bermanfaat. “Kita bisa belajar satu sama lain. Mahasiswa Jepang orangnya disiplin, mahasiswa Indonesia orangnya fun, dan tidak gampang tersinggung. I feel great di kegiatan ini,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkap Yuki Kano mahasiswa KIT. Dia mengatakan, desa Temas mirip dengan sebuah tempat di Kanazawa, Jepang, namun suasananya lebih indah di sini. “Meskipun kita terbentur bahasa, penduduk desanya sangat friendly,” katanya.

Bahkan, Pemilik usaha budidaya ulat dari Batu, Suardi, yang menjadi salah satu perwakilan UMKM yang dibantu LeX tahun lalu turut hadir untuk menerima alat bantu yang telah dibuat peserta LeX di Jepang. Alat tersebut bernama larvae separator. Suardi mengaku, dia sangat terbantu dalam mempermudah usahanya memisahkan larva dengan ulat. “Terimakasih sudah dibantu,” katanya singkat. (humas UMM/aan)

TIDAK ADA KOMENTAR