Dibanding Negara Lain, Kesenjangan di Indonesia Lebih Berbahaya. Ini Penyebabnya Menurut Wapres JK

Wapres M. Jusuf Kalla saat menutup Tanwir Muhammadiyah 2017 di Islamic Center, Ambon (foto: alfarisy/pwmu)

PWMU.CO – Wakil Presiden M Jusuf Kalla atau JK mengingatkan, kesenjangan yang ada di Indonesia sudah dalam taraf yang cukup membahayakan dibandingkan negara lain. Salah satu pemicu kebahayaan itu adalah karena adanya perbedaan agama antara yang kaya dan miskin.

Demikian salah satu poin pikiran dari sambutan JK saat menutup agenda Tanwir Muhammadiyah di Islamic Center, Ambon (26/2). “Kesenjangan di Indonesia cukup berbahaya dibanding di negara lain. Di Thailand yang kaya dan miskin sama agamanya. Di Filipina juga begitu, baik yang kaya maupun miskin memiliki agama yang sama,” kata JK.

(Baca juga: Jawaban Jokowi atas Kritik Haedar Nashir tentang 1 Persen Warga yang Kuasai 55 Persen Aset Nasional)

“Sementara di Indonesia, yang kaya dan miskin berbeda agama,” demikian kata JK. Dalam pandangan JK, sebagian besar orang kaya di Indonesia adalah warga keturunan yang beragama non-Muslim. Sedangkan orang yang miskin sebagian besar adalah warga negara yang beragama Islam, dan sebagian kecil beragama Kristen.

Sebagai sunnatullah bahwa kesenjangan, jika tidak teratasi dengan baik, akan memunculkan kecemburuan dan sejenisnya. Karena itu, JK mengajak semua pihak, terutama Muhammadiyah, untuk bersama-sama mengatasi masalah kesenjangan ini. “Ini sangat berbahaya. Karena itu kita harus berusaha bersama untuk mengatasi hal ini,” kata JK.

(Baca juga: Din Syamsuddin Pertanyakan Keadilan Sosial: Masak 1 Persen Orang Kuasai 50 Persen Aset Nasional?)

Meski demikian, JK juga menjelaskan bahwa kesenjangan bukan hanya masalah yang dimonopoli oleh bangsa Indonesia. Sebab, kata JK, ketimpangan itu ternyata juga terjadi di berbagai negara, baik yang maju maupun tidak. “Di Amerika pun juga terjadi kesenjangan,” kata JK.

Dalam pandangan JK, kesenjangan memang harus segera diatasi sebagai salah satu amanat falsafah bangsa Indonesia. Terutama, terkait dengan pengamalan sila kelima Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

(Baca juga: Ketika Ada yang Bisiki agar Tidak Hadiri Tanwir karena sudah Hadiri Muktamar Muhammadiyah, Begini Jawaban Jokowi)

Terkait dengan sila kelima ini, meski memang belum terwujud sepenuhnya dalam fakta kehidupan bukan berarti pemerintah tidak berusaha untuk melaksanakannya.

Hanya saja, kata JK, memang masih sangat sulit dan seringkali terlambat. “Pancasila bukan tidak kita laksanakan. Hanya sila kelimanya sangat sulit kita laksanakan,” kata JK.

(Baca juga: Rizal Ramli soal Ketakadilan Ekonomi: Seharusnya Pemerintah Berpihak pada Kelompok Mayoritas)

“Itulah instropeksi kita semua. Kita menikmati kemajuan secara bersama-sama, tidak sebagian kecil saja yang menikmatinya. Kemajuan semuanya maju,” tegas JK.

Karena itu, JK meminta setiap elemen bangsa untuk meningkatkan semangat masyarakat untuk maju agar tercipta keadilan sosial. Kemajuan memgandung etika, pendidikan, kejujuran, dan dakwah yang baik.

(Baca juga: Dibuka Presiden Ditutup Wakil Presiden, Tanwir Muhammadiyah Lahirkan 5 Resolusi)

“Keadilan adalah ketika semua orang sama-sama merasa senang. Bukan sama-sama merasa sakit,” kata JK.

“Kita tidak adil kalau sama-sama susah. Kita ingin adil kalau sama-sama senang. Tujuannya sama-sama senang, maju dan menikmati bangsa ini.” (iqbal paradis)