Filosofi Martabak

Filosofi Martabak

1042
0
BAGIKAN
Filosofi Martabak
drh Zainul Muslimin, Ketua Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah (Lazismu) PWM Jatim 2015-2020 (foto: istimewa)

PWMU.CO – Siapa yang tidak suka martabak telor? Mengapa makanan ini disebut dengan “martabak telor”, kok bukan “martabak bawang prei”, misalnya? Padahal bawang preinya jauh lebih banyak daripada telor. Juga ada potongan-potongan dagingnya walau terkadang cuma sedikit.

Dalam martabak telor, ada bahan yang punya peran sangat besar. Ia tidak disebut-sebut, tapi tidak pernah protes. Apalagi bahan yang perannya cuma kecil, mosok mau protes jika tidak disebut.

(Baca juga: Teknologi Press Body: antara Mobil dan Hijab)

Bukan hanya itu yang menarik dari martabak telor. Coba lihatlah proses pembuatan kulit martabak! Dari yang tadinya kecil, tidak ada segenggaman tangan, tapi ia bisa melar, melebar, dan membesar. Untuk proses itu, kulit martabak itu harus ditekan-tekan, kemudian dibanting-banting (dikeplek-keplekno!). Lebih daripada itu semua, sang kulit martabak ternyata menyiapkan dirinya menjadi sebuah diri yang lembut lentur. Tidak pernah keras dan kaku.

Sahabat, hidup memang harus senantiasa diliputi dengan ujian, cobaan, dan tantangan. Hidup memang harus terbanting-banting sesekali melenting. Senantiasalah berharap memohon kepada-Nya untuk menjadikan diri kita tetap lembut lentur menyerah pasrah, sabar syukur ikhlas atas semua fakta nyata karunia-Nya.

Ketika saatnya hidup terasa dibanting-banting dan ditekan-tekan, saatnya pula akan datang hidup yang melar, melebar, dan membesar. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. (Zainul Muslimin)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR