Muhammadiyah Tak Sarankan Shalat Gerhana Bulan Penumbra

Muhammadiyah Tak Sarankan Shalat Gerhana Bulan Penumbra

2259
4
BAGIKAN
Muhammadiyah Tak Sarankan Shalat Gerhana Bulan Penumbra
Ilustrasi gerhana (foto: istimewa)

PWMU.CO – Tepat 2 pekan setelah gerhana matahari total, pada Rabu malam lusa, 23 Maret 2016, akan terjadi gerhana bulan penumbra (GBP). Mulai pukul 16.40 wib sampai dengan pukul 20.55 wib, terjadi GBP yang tidak terlalu berbeda dengan bulan purnama. Hanya saja bulan akan tampak sedikit gelap, yang itupun juga sulit dilihat secara kasat mata.

“PWM Jatim menyarankan tidak ada shalat sunnah gerhana pada 23 Maret ini,” begitu kata Ketua PWM Jatim, DR M. Saad Ibrahim tentang maraknya pro-kontra shalat GBP. Saat fenomena GBP terjadi, bulan seakan-akan tidak mengalami gerhana dan tetap bersinar seperti biasanya. Barulah jika diamati dengan menggunakan teleskop, maka akan tampak wilayah permukaan yang sedikit gelap.

(Baca: Ini Alasan Mengapa Tidak Disunnahkan Shalat Sunnah Khusuf saat Gerhana Bulan Penumbra)

Berangkat dari makna literal kusuf dan khusuf sebagai nama shalat gerhana matahari atau bulan, Muhammadiyah memandang tidak perlu dilakukan shalat sunnah GBP. Meski dalam istilah fiqih, kusuf dan khusuf, tapi redaksi hadits Nabi seringkali tidak membedakannya. Kata “khusuuf” secara keseluruhan mengandung makna terbenam, hilang, berkurang, membolongi, dan menyobek. Adapun makna kusūf adalah tertutup, atau terpotong. Kaitannya dengan gerhana matahari atau bulan, shalat baru ditegakkan ketika matahari atau bulan tertutup atau piringannya tampak terpotong yang berakibat pada sinarnya berubah menjadi suram.

Bertitik tolak dari analisis semantik itu, Majelis Tarjih dan Tajdid berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan jika terjadi gerhana yang piringan dua benda langit tampak berkurang atau tidak utuh atau hilang seluruhnya. “Dalam kasus gerhana penumbra, piringan bulan tampak utuh dan bulat, tidak tampak terpotong, hanya cahaya bulan sedikit redup dan terkadang orang tidak bisa membedakannya dengan tidak gerhana. Oleh karena itu dalam kasus gerhana bulan penumbral menurut Majelis Tarjih dan Tajdid tidak disunatkan melakukan shalat gerhana,” begitu tegas Majelis Tarjih dan Tajdid dalam fatwanya, Jumat, 18 Maret 2016. (kholid)

4 KOMENTAR

  1. Apai itu Gerhana Penumbra? Mengapa bulan hanya sedikit meredup, dan bukan gelap sama sekali? Apa sebabnya? Kalo gelap total baru sholat? Mengapa?

  2. Lebih baik PWM memberikan penjelasan ttg arti penumbra baik secara bahasa atau istilah serta asal muasalnya dari sudut ilmu falak, agar ummat lebih tercerahkan.

Tinggalkan Balasan