Jika Waktu Dimanfaatkan secara Produktif, 24 Jam = 100 Jam ++

0
842
Pilgub Jawa Timur

Kolom oleh Munahar *)

PWMU.CO – Saya menghampiri seorang pekerja yang sedang santai beristirahat. Waktu masih menunjukkan pukul 08.15 WIB . Sambil menikmati hidangan khas Angkringan, saya bertanya, “Belum berangkat kerja, Mas?” “Belum, Pak, masih santai,” jawab pekerja tersebut. “Masuk kerja, jam berapa?” tanya saya menimpali. “Jam 08.00,” jawab pekerja itu santai sambil menyeruput kopi hitam di hadapannya.

Setiap manusia diberikan waktu yang sama, yakni 24 jam sehari-semalam. Namun setiap orang berbeda dalam memanfaatkan waktu tersebut. Ada yang menggunakan 8 jam bekerja, 8 jam istirahat (tidur), dan 8 jam lagi untuk hiburan atau sejenisnya. Ada juga yang 12 jam bekerja dan 12 jam beristirahat. Tapi tidak sedikit orang yang tidak mampu mengelola waktunya dengan baik.

(Baca: 3 Kiat Menyiasati Waktu agar Berkah)

Sebenarnya, yang paling penting dari waktu adalah kualitas pemanfaatannya. Cobalah kita baca kembali firman Allah SWT dalam surat Al-Asr ayat 1-3: “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”

Itu artinya, orang yang rugi adalah orang yang tidak mampu memanfaatkan waktunya dengan baik. Mari kita tengok di sekolah kita. Ada di antara guru yang hadir mendahului datangnya siswa, menyambut calon pemimpin masa depan. Masuk kelas sebelum bel berbunyi, menyiapkan pembelajaran, mendatangi dan menyapa serta memotivasi anak yang tampak murung.

Setelah berdoa, pembelajaran yang enerjik, kreatif dan inspiratif pun dimulai. Beliau tersenyum saat melihat siswa-siswinya bisa mengikuti dan memahami apa yang dia sampaikan.

Guru ini pun berbisik dalam hati, “Alhamdulillah, perangkat pembelajaran yang saya siapkan kemarin tidak sia-sia untuk menjadikan anak lebih faham terhadap apa yang saya sampaikan.”

Bel istirahat berbunyi. Di saat guru yang lain dengan segera beranjak dari kelas menuju ruang berkumpul untuk bersilaturahim dan bercengkrama, namun guru ini tetap berada di kelas. Dia menemani siswa yang sedang makan bersama. Bahkan, terkadang dia membagikan lauknya kepada siswa yang tidak membawa. Baca sambungan di halaman 2: Setelah memastikan muridnya selesai …

Tinggalkan Balasan