Ini Perbedaan Sistem Pemilu di Indonesia dan Amerika Menurut Konjen AS

Ini Perbedaan Sistem Pemilu di Indonesia dan Amerika Menurut Konjen AS

705
0
BAGIKAN
ipumm
Di tengah, Konjen AS Surabaya Heather Variava memberikan kuliah tamu tentang sistem pemilu di Amerika. (foto: Humas)

PWMU.CO – Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (IP UMM) mengadakan kuliah tamu bertajuk “The Dynamic of Presidential Election in America”, Kamis (15/9). Kuliah tamu tentang sistem pemilu di Amerika ini  menghadirkan Konsul Jenderal Amerika Serikat (Konjen AS) Surabaya, Heather Variava.

Heather menjelaskan, persamaan dan perbedaan antara sistem pemilihan presiden di Indonesia dengan di Amerika. Menurut Heather pemilu di Indonesia dan di Amerika memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menganut pemilihan secara langsung.

(Baca: Kapolri Tito Dikukuhkan sebagai Keluarga Kehormatan UMM dan Ratusan Maba Asing dari 18 Negara Kuliah di UMM)

Lebih lanjut Heather memaparkan,  Komisi Pemilihan Umum (KPU) hanya sebatas general rule, atau sekadar bentuk kepatuhan terhadap prosedur yang berlaku. Sedangkan KPU Daerah (KPUD) berperan penting terhadap pelaksanaan pemilu. ”Sebaliknya di Indonesia KPUD hanya sekadar representasi saja. Bertindak sebagai kepanjangan tangan dari KPU dan KPU memegang peranan penting pada pelaksanaan Pemilu Presiden,” ungkapnya.

Heather lantas membahas tentang sistem pemilu untuk anggota House of Representative dan senat. Di Amerika, Heather menerangkan, pemilihan House of Representative atau setara DPR di Indonesia, dipilih tiap 2 tahun sekali dan presiden dipilih tiap 4 tahun sekali. ”Sedangkan di Indonesia, baik DPR, DPD, maupun Presiden, dipilih tiap 5 tahun sekali,” ujarnya.

(Baca juga: Doa Kapolri Tito untuk Mahasiswa UMM dan 4 Filosofi Hidup yang Antarkan Prof Muhadjir Effendy ke Gerbang Kesuksesan)

Kepala Program Studi IP UMM, Hevi Kurnia Hardini MA menambahkan, suara terbanyak pada hasil pemilu presiden di Amerika tidak menjadi patokan untuk menentukan presiden. Sebaliknya, di Indonesia kandidat presiden yang mendapatkan suara terbanyak pada pemilu, secara otomastis menjadi presiden. ”Di Amerika, hasil pemilu dari tiap state yang menjadi patokan dengan jumlah daerah pemilih yang menjadi tolak ukur kemenangan presiden, bukan jumlah suara,” ujar Hevi.

Kuliah tamu ini dihadiri oleh 50 mahasiswa IP semester 5 yang sedang menempuh Mata Kuliah Sistem Pemilu dan Kepartaian, serta perwakilan kelas dan anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan. (humas/aan)

TIDAK ADA KOMENTAR