Terancam Longsor Bengawan Solo, Sekolah Muhammadiyah Ini Butuh Penanganan Darurat

Terancam Longsor Bengawan Solo, Sekolah Muhammadiyah Ini Butuh Penanganan Darurat

2932
0
BAGIKAN
Proses pembuatan plengsengan untuk menyelamatkan gedung SMPM 17 dari longsor Bengawan Solo (foto Hariadi)
Proses pembuatan plengsengan untuk menyelamatkan gedung SMPM 17 dari longsor Bengawan Solo (foto Hariadi)

PWMU.CO – Setahun terakhir ini Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Keduyung, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dibuat galau. Pasalnya, salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) milik Ranting yang terletak di tepi Bengawan Solo terancam longsor.

Seperti pernah dilaporkan pwmu.co April 2016, SMP Muhammadiyah 17, AUM-Pendidikan milik PRM Keduyung, terancam longsor. Ketika debit air Bengawan Solo tinggi, jarak sekolah dengan tepi sungai (Jawa: jurang) tinggal 1 meter.

(Baca: Tergerus Arus Bengawan Solo, SMPM 17 Lamongan Butuh Perhatian Pemerintah dan Perjalanan Dakwah Off Road ke Lamongan)

“Jika tidak segera dicari solusi, maka gedung SMP Muhammadiyah 17 ini bisa ambles dan amblas pada musim hujan tahun depan. Sedangkan biaya relokasi dan membangun kembali gedung membutuhkan dana yang jauh lebih besar. Dan mumpung ini masih kemarau,” ujar Munawar Cholil, Ketua PRM Keduyung. Menurutnya, persoalan ini sudah pernah disampaikan kepada pihak yang terkait, termasuk kepada salah seorang anggota Wakil Rakyat di Dapil tersebut. “Tetapi belum ada kejelasan.”

Dimulainya proses penyelamatan gedung SMPM 17 di tepi jurang Bengawan Solo (foto Hariadi)
Dimulainya proses penyelamatan gedung SMPM 17 di tepi jurang Bengawan Solo saat air surut di musim kemarau (foto Hariadi)

Agar kegalauan itu tidak berkepanjangan dan aset pendidikan Muhammadiyah terselamatkan, maka pada akhir Agustus 2016 PRM Keduyung mengambil tindakan kongkrit: membuat plengsengan. “Ini istilahnya ‘bonek’ (bondo atau modal tekat, red). Anggaran yang dibutuhkan minimal Rp 75 juta. Sementara belum ada uangnya,” tambah Zainul Arifin, salah satu panitia pembuatan plengsengan ini.

(Baca juga: Terharu Spontanitas Warga Desa saat Insiden Perjalanan Dakwah dan Pentingnya Pendidikan Agama di Tengah Godaan Setan Global)

Meski sampai saat ini (8/9) dana yang terkumpul baru Rp 31 juta, tetapi ‘proyek’ penyelamatan itu sudah dimulai. “Sebagian materialnya kita utang. Semoga ada pihak-pihak yang terketuk hatinya untuk ikut membantu,” harapnya.

Dana sebesar Rp 31 juta itu adalah hasil swadaya dari pimpinan dan warga Muhammadiyah, dewan guru, keluarga Muhammadiyah asal Keduyung yang tinggal luar Lamongan, dan Balai Pengobatan (BP) Muhammadiyah Keduyung. Dana tersebut termasuk sumbangan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan sebesar Rp 5 juta yang diserahkan langsung saat kunjungan ke lapangan yang dipimpin Wakil Ketua PDM Lamongan H Muthalib Sukandar, Rabu (7/9) siang.

(Baca: Lewat WhatsApp, Para Alumni Galang Dana untuk Almamater dan PWM Ajak Ngaji Online Jamaah Muhammadiyah Laren)

Selain SMP Muhamadiyah 17, di lokasi longsor juga dekat dengan Masjid Attaqwa Keduyung, AUM lainnya. “Penangganan harus cepat mengingat tiap tahun tanah longsor bisa mencapi 1 – 3 m,” jelas Arifin. Sebelum mengalami longsor, kisahnya, jarak AUM dengan tepi Benganwan Solo masih jauh karena masih dipisahkan oleh satu bidang tegalan, kurang lebih 100 meter.

Agar proyek ini bisa selesai, PRM Keduyung menghimbau pada pemerintah atau pimpinan Muhammadiyah terkait agar ikut memerhatikan persoalan ini. “Ini untuk penyelamatan proses pendidikan anak-anak desa,” kata Arifin yang menitipkan pesan bagi lembaga atau pribadi yang tergerak membantu bisa berkomunikasi dengannya di nomer handphone 085230639254. (Hariadi/MN)

Wakil Ketua PDM Lamongan H Munthalib Sukandar (batik merah) saat menyerahkan bantuan secara simbolis yang diterima Ketua PRM Keduyung Munawar Cholil. (Foto )
Wakil Ketua PDM Lamongan H Muthalib Sukandar (batik merah) saat menyerahkan bantuan secara simbolis yang diterima Ketua PRM Keduyung Munawar Cholil dengan latar belakang salah satu sudut gedung SMPM 17 (Foto istimewa)

TIDAK ADA KOMENTAR