Agar Para Santri Panti Asuhan Tak Masuk Gawat Darurat Literasi

Agar Para Santri Panti Asuhan Tak Masuk Gawat Darurat Literasi

800
0
BAGIKAN
Suasana pertemuan enam pimpinan Panti Asuhan Muhammadiyah dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Pemerintah kota Surabaya (foto Ferry)
Suasana pertemuan enam pimpinan Panti Asuhan Muhammadiyah dengan Badan Arsip dan Perpustakaan Pemerintah Kota Surabaya (foto Ferry)

PWMU.CO – Jika ingin mengenal dunia, maka membacalah! Dan jika ingin dikenal oleh dunia, maka menulislah! Itulah tagline (semboyan) yang populer di dunia literasi (baca-tulis).

Meskipun besar manfaatnya, tetapi budaya baca-tulis bangsa Indonesia masih tergolong rendah. Bahkan menurut Ketua Majelis Pelayanan Sosial (MPS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Feri Yudi Antonis Saputra SHI MPdI, saat ini bangsa Indonesia sedang ‘gawat darurat literasi’. Karena anak-anak dan generasi muda banyak yang larut dunia gadget dan game-game yang tidak mencerdaskan.

(Baca: Trensains Akan Diadopsi untuk Panti Pesantren Muhammadiyah di Surabaya dan Ketika Anak Panti dengan Imaginatif Menulis Cerita)

“Karena itu, untuk meningkat minat baca para santri panti, MPS PDM Kota Surabaya berinisiatif melakukan terobosan di bidang penguatan literasi dengan menggandeng Badan Arsip dan Perpustakaan Pemerintah Kota Surabaya untuk menempatkan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di panti-panti Muhammadiyah dan Aisyiyah,” jelas Feri.

Sebagai tindaklanjut dari terobosan itu, pada Rabu (7/9) bertempat di panti Asuhan Muhammadiyah Kenjeran, MPS PDM Kota Surabaya mengundang  Kepala Panti Asuhan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Kota Surabaya dalam rangka sosialisasi program tersebut.

(Baca juga: Ayu sang Hafidzah Tunanetra dari Panti Aisyiyah Itu, Jadi Penguji Indonesia Menghafal dan Pingin Regenerasi, Munir Tolak Jabat Kepala Panti)

Sekretaris MPS PDM Kota Surabaya Amang Muazam SThI MPdI, ada 6 panti yang akan dijadikan pilot project untuk menyelenggarakan TBM, yaitu Panti Asuhan Muhammadiyah Kenjeran, Rungkut, Sambikerep, Krembangan, Tandes, dan Panti Asuhan Aisyiyah Kebonsari.

“Program ini adalah bentuk kepedulian dan intervensi Pemerintah Kota Surabaya untuk mewujudkan Surabaya sebagai Kota Literasi,” kata Wibowo Purnomohadi dari Badan Arsip dan Perpustakaan Pemerintah Kota Surabaya.

Salah satu pengurus Panti Asuhan KHA Dahlan Krembangan Surabaya, Arief Himmawan SThI, mengatakan bahwa program ini sangat bagus karena merupakan bentuk keperdulian negara pada peningkatan kulaitas SDM, khususnya di kalangan para santri panti asuhan. “Mereka juga harus berbudaya literasi.” (MN)

TIDAK ADA KOMENTAR