Jangan Jadi Kader yang Tidak Berbuat Apa-Apa atau Bekerja tapi Tidak Tuntas

Jangan Jadi Kader yang Tidak Berbuat Apa-Apa atau Bekerja tapi Tidak Tuntas

1473
0
BAGIKAN
Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari (baju putih) dan Zainuddin Maliki bersama Pimpinan Daerah Aisyiyah Tulungangung 2015-2020 (foto)
Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari (baju putih) dan Zainuddin Maliki bersama Pimpinan Daerah Aisyiyah Tulungagung periode 2015-2020 (foto)

PWMU.CO – Kemajuan sebuah bangsa bukan karena faktor sumber daya alam yang melimpah. Juga bukan karena jumlah penduduk yang besar. Tetapi maju mundurnya sebuah bangsa ditentukan oleh berapa jumlah penduduk yang terdidik dan baik moralnya.

Pendapat Emerson Devis di atas dikutip Wakil Ketua Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Prof Zainuddin Maliki saat memberi semangat pada pimpinan dan warga Muhammadiyah yang hadir dalam acara Pelantikan Bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Tulungagung.

(Baca: Jangan Jadi Umat Islam Sontoloyo dan Hajriyanto: Muhammadiyah Tak Perlu Banyak Produksi Kata-Kata)

“Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan untuk memperbaiki moral. Maka Muhammadiyah harus mengambil peran dalam memperbaiki moral bangsa,” tegas Zainuddin.

Senada dengan Zainuddin, Ketua PP Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari mengatakan, KH Ahmad Dahlan itu diberi gelar pahlawan—menurut Kepres yang dibuat Bung Karno—karena mengajarkan Islam yang murni, yaitu Islam yang mencerdaskan, mencerahkan, dan berkemajuan. “Ahmad Dahlan mampu menyadarkan masyarakat bahwa mereka terjajah dan harus berusaha membebaskan diri dari penjajahan” ujar dia.

Menurut Hajriyanto, Ahmad Dahlan adalah man of action, tidak banyak berpidato namun banyak aksi. Karena itu para kader Muhammadiyah harus banyak berbuat untuk Muhammadiyah dan sekaligus untuk bangsa. “Jangan jadi kader yang tidak berbuat apa-apa atau bekerja namun tidak tuntas.”

(Baca juga: 3 Pilar untuk Kebangkitan Muhammadiyah dan Ada Mukidi di Pelantikan Muhammadiyah)

Untuk bisa meneladani pendiri Muhammadiyah yang penuh aksi itu, Hajriyanto menghimbau agar para Pimpinan Muhammadiyah harus kuat dan sehat. “Jangan dikit-dikit diajak berjuang alasan pusing, mules, atau mencret. Warga Muhammadiyah harus sehat supaya bisa mengunjungi warga di wilayah perjuangannya; Pengurus Pusat ke seluruh provinsi, Pimpinan Wilayah ke seluruh kabupaten, Pimpinan Daerah ke cabang-cabang, dan seterusnya.”

Menyingung soal makna pelantikan, Hajriyanto menjelaskan bahwa pelantikan itu intinya adalah perjanjian. Berjanji bukan saja kepada warga tetapi kepada Allah. Berjanji untuk berjuang, yang dalam bahasa agama disebut misaqon ghalidha, perjanjian yang berat. “Kalau ada yang merasa berat ndang (segera) mundur agar tidak sontoloyo.”

(Baca juga: Hajriyanto: Pemimpin Muhammadiyah Itu seperti Satrio Pandito dan Spirit Berkemajuan Itu Ada dalam Benak Pendiri Bangsa)

Acara yang dilaksanakan di Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung, Sabtu (27/8) ini dihadiri oleh 1000 lebih undangan, termasuk Wakil Bupati Tulungagung Maryoto Birowo beserta jajaran Forum Pimpinan Daerah Kabupaten Tulungagung, pimpinan ormas setempat, dan pimpinan Muhammadiyah dan organisasi otonom.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung Anang Imam Massa Arif, mengatakan, salah satu upaya memperkuat dakwah pencerahan adalah dengan bersinergi dengan pemerintah daerah. “Muhammadiyah Tulungagung siap bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk mewujudkan Tulungagung berkemajuan,” tegas Anang. Wakil Bupati Tulungagung Maryoto Birowo, dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada Muhammadiyah karena dengan prinsip rahmatan lil alamin dapat mempercepat Pembangunan Tulungagung. (Muslih Marju)

TIDAK ADA KOMENTAR