Neraka Berada di Keluarga yang Berantakan

Neraka Berada di Keluarga yang Berantakan

743
0
BAGIKAN
Wakil Ketua PWM Jatim M Sulton Amien saat memberikan cerama di Kabupaten Jombang
Wakil Ketua PWM Jatim M Sulthon Amien saat memberikan cerama di Kabupaten Jombang.

PWMU.CO – Andaikan di dunia ini ada surga, maka surga itu adalah keluarga yang bahagia. Juga sebaliknya, bila di dunia ini ada neraka, maka neraka itu adalah keluarga yang berantakan. Itulah sepenggal pesan yang disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur (Jatim) M. Sulthon Amien MM dalam acara Kajian Ahad Pagi di Kabupaten Jombang, Ahad (21/8).

Dari pengalaman di lapangan, ditemukan bahwa anak-anak bermasalah di sekolah, akar masalahnya merupakan turunan dari keluarga bermasalah juga. Jika tesis tersebut diurai, maka tidak bisa hanya bermuara pada anak didik, orang tua harus ikut terlibat menjadi bagian dari mencari solusi.

(Baca: Melalui RIASA, Aisyiyah Berdayakan Ekonomi Keluarga dan Bekal Membentuk Keluarga Sakinah)

“Ibarat sakit panas, tidak hanya dikasih resep penurun panas saja. Tetapi dicari penyebab utamanya,” kata Sulthon di hadapan para Jama’ah.

Kata sakinah memiliki akar kata yang sama denga sakan yang artinya rumah. Keluarga sakinah, tenang, damai, dan tentram harus dimulai dari rumah. Menurut Sulthon Amien, ada beberapa fungsi rumah. Yakni sebagai madrasah, mushalla, istirahat (hiburan), penyemai generasi, dan last battle (benteng terakhir).

“Kalau keluarga itu damai, maka mawaddah akan berkembang denga baik. Mawaddah yang berarti cinta kasih mempunyai akar kata dari sifat Allah Al Wadud. Dan yang terakhir, Ar Rahmah. Ini akan turun dengan sendirinya, mana kala sakinah dan mawaddah telah diraih,” demikian kata penulis buku spiritualitas pernikahan ini.

(Baca juga: 7 Resep Murah Meriah Membangun Keluarga Sakinah dan Berikut Ciri Suami yang Baik. Anda Masuk Kategori Ini?)

Sulthon Amien mengatakan, Membangun rumah seperti surga atau baity jannaty tidak bisa seorang diri, harus berdua. Suami dan istri saling bersinergi, saling memberi dan menerima, serta saling kerjasama. “Tetapi kalau mau menghancurkannya cukup seorang suami atau istri saja,” ujarnya.

Menurut dia, married education belum terpikirkan untuk dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Sex education sebenarnya juga bagian dari married education yang sangat perlu untuk disampaikan. (ilmi)

 

 

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan