Beranda Persyarikatan Alhamdulillah, Anakku Nakal…

Alhamdulillah, Anakku Nakal…

0
BAGIKAN
Menganti
Guru SDM Kreatif Menganti, Gresik bersama Miftahul Jinan (empat dari kanan). (Foto: Taufiq)

PWMU.CO – Beginilah jika Master Trainer Parenting Nasional Drs Miftahul Jinan MPdi mengisi sebuah acara. Dengan santai ia memulai memberi materi tentang “Mendidik Anak Cerdas dan Berkarakter” dengan sebuah pertanyaan. Kepada sekitar 70 peserta Smart Parenting Skill Traning SD Muhammadiyah 1 Menganti, Gresik, Jinan bertanya tentang difinisi anak. “Anak adalah…?” tanyanya.

Spontan para peserta, yaitu para wali murid SDM 1 Menganti pun mengacungkan tangan. Mereka berebut untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jinan. Samsul Bakri SPdi, selaku pembawa acara, akhirnya menunjuk satu-persatu siapa saja yang menjawab. Salah seorang di antaranya adalah Anifah. Menurutnya, anak adalah titipan Allah yang harus dibimbing, agar menjadi anak yang shaleh dan shalehah. “Sekaligus sebagai investasi kelak kemudian hari,” jawab Anifah.

(Baca: 5 Cara Emas Mendidik Anak Menurut Imam Al-Ghozali dan Ini Dia Pola Tokcer Pengasuhan Anak)

Lain lagi dengan jawaban Ahmad. ”Anak adalah fotocopy orang tuanya.” Jawaban ini disambut dengan tawa peserta lain. Senada dengan itu, Muslim pun menjawab anak adalah kader penerus orang tua. ”Maka anak harus dididik dengan memberikan suri tauladan yang baik,”ujarnya.

Diiringi dengan antusias para peserta, Jinan lantas menguraikan satu-persatu jawaban peserta tersebut. Jinan memulainya dengan ungkapan “anakku nakal”. Kemudian bilang “Alhamdulillah”. Dengan stressing kenakalan anak itu, menurut Jinan sesungguhnya menunjukkan bahwa anak itu pintar dan dinamis. ”Hanya saja terkadang, kita sebagai orang tua menjadi tidak sabar dan cenderung suka marah-marah. Apabila melihat anaknya sedang berkreatif dan inovatif,” urainya, Ahad (14/8).

(Baca: Bagoes Ajari Cara Mendidik Anak dan Kak Seto: Dunia Anak adalah Bermain, Didiklah Anak dengan Cara Bermain)

Tidak sedikit orang tua menganggap seorang anak yang sering bermain dan sulit disuruh belajar sebagai anak nakal. “Padahal sesungguhnya setiap anak diberi karunia untuk bermain, yang memungkinkannya dapat mengembangkan seluruh kemampuan motorik, otak dan emosi mereka,” jelas Jinan sambil menyatakan bahwa bermain merupakan ‘alat canggih’ seorang anak untuk masuk dalam sebuah kegiatan yang paling serius, penting dan paling mengundang minat.

Sebagai orang tua atau guru, tambah Jinan, tidak selayaknya begitu mudah melabelkan kata nakal pada anak-anak. Anak yang aktif, usil, kadang tidak mau menurut orang tua, suka menggoda adik kakaknya, dan beberapa kali berantem bukanlah anak nakal.

“Karena bisa jadi ‘kenakalan’ tersebut adalah tahapan yang harus dilewati seorang anak, yang akan menjadikannya lebih banyak mengalami, mampu merasakan kesedihan dan kegembiraan orang lain serta menjadikannya mengetahui apa yang harus dilakukan,” jelasnya.

(Baca juga: Tugas Mendidik Anak pada Ayah, Bukan Ibu apalagi Sekolah dan Ibu Harus Jadi Tempat Curhat dan Sahabat Bagi Anak)

Jika anak melakukan kenakalan yang “luar biasa” sekalipun, kata Jinan, cara untuk menghentikannya jangan dengan sikap reaktif, memarahi, memaki, atau mengancam. Apalagi dengan sikap tersebut orang tua berharap anak nya akan kapok dan tidak mau mengulangi perbuatannya lagi.

“Cara yang instan dan serba ingin cepat justru akan merusak hubungan orang tua dengan anak, di mana akhirnya perilaku tersebut akan lebih sulit dihentikan”. Bahkan, lanjut Jinan, pada beberapa kasus anak yang disikapi terlalu reaktif oleh orang tuanya justru merasa tertantang untuk mengulangi perbuatannya tanpa sepengetahuan orang tua.

(Baca juga: Cara Nyai Ahmad Dahlan Mendidik Anak dan Neno Warisman: Biarkan Anak Bermain yang Bermanfaat, Baru Diberi Tanggung Jawab)

Jinan pun bertanya kepada peserta, apakah kita tergolong orang tua yang hobby menghukum atau orang tua yang selalu kooperatif dan berusaha berdiskusi dengan anaknya? Jika biasa menghukum anak, saran Jinan, mulailah berubahmenjadi orang tua yang selalu berusaha kooperatif dan berdiskusi dengan anak.

Di akhir sesi, Jinan pun menutup materi dengan apresiasi, penghargaan, dan motivasi kepada orang tua. ”Orang tua harus menapak tilas sukses anak pada setiap proses atau setiap perubahan yang baik pada anak,” pungkasnya. (taufiq/aan)

Tinggalkan Balasan