Beranda Persyarikatan Bangkit Kembali setelah Mati Suri 10 Tahun

Bangkit Kembali setelah Mati Suri 10 Tahun

0
BAGIKAN
Para peserta pertemuan "kebangkitan" kembali PRM Ngampelsari, Candi, berfoto dengan Rektor UMSIDA (foto: david f)
Para peserta pertemuan “kebangkitan” kembali PRM Ngampelsari, Candi, berfoto dengan Rektor UMSIDA (foto: david f)

PWMU.CO – Dinamika perjalanan organisasi Muhammadiyah berbagai tingkat memang cukup beragam. Ada yang setelah didirikan langsung berlari cepat. Tapi ada pula yang sebaliknya. Karena itu, upaya untuk membangkitkan dinamika yang kedua ini juga sangat diperlukan.

Hal itulah yang dilakukan oleh 30-an warga Muhammadiyah Desa Ngampelsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Setelah ranting di desa ini mati suri selama 10 tahun, mereka kembali berkumpul untuk membangkitkan syiar Persyarikatan. Berkumpul dan bermusyawarah di rumah Solichan Arif, Perumahan Bumi Candi Asri, mereka bertekad untuk bangkit, (14/8).

(Baca juga: Tentara Ini Jadi Ketua Ranting dan Wakafkan Rumah-Tanahnya untuk Dakwah dan Inilah Ranting Baru Penuh Inovasi Gerakan Dakwah)

“Insyaallah dengan tekad bulat dan kekompakan, gerak dakwah Muhammadiyah di ranting kita ini akan segera kembali semarak,” kata Solichan Arif dengan mantap. Tekad itu juga diamini oleh semua peserta pertemuan, yang masing-masing juga memberikan sumbangsih pemikiran.

Sebagai awalan kebangkitan, PRM ini juga menghadirkan Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), DR Hidayatulloh. Dalam uraiannya, pria yang juga Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim ini mengharapkan semua warga Muhammadiyah setempat untuk bersemangat dalam berdakwah.

(Baca juga: Dosen Ini Berdayakan Ranting Melalui Pembelajaran Bahasa Asing dan Menggerakkan Ranting Melalui KKN)

Tak ketinggalan, Hidayatulloh juga memberi semacam orientasi baru dalam visi pergerakan sesuai dengan tantangan zaman. “Untuk pusat dakwah, silahkan menggunakan masjid yang ada di kampus 2 Umsida yang berada di Candi,” jelasnya.

Tekad kebangkitan ini juga diapresiasi oleh para simpatisan Muhammadiyah yang hadir. Tentara aktif Kolonel Ir Suta Wijaya, misalnya, menyatakan bahwa pertemuan itu merupakan kesempatan istimewa. Apalagi sebentar lagi datang hari Raya Idul Adha, maka sesungguhnya ada momentum bagi Persyarikatan untuk bangkit.

“Orang-orang hebat itu tidak pernah memandang strata, yang ada di angannya adalah berkarya dan memberi manfaat dengan sesama,” kata simpatisan yang ber-NBM ini kepada peserta pertemuan.

(Baca juga: Seperti Bus Antar Kota, Ranting Baru Ini juga Lintas Kota dan Grombolan Moehammadijah: Asal Muasal Ranting)

Pertemuan itu sendiri sudah dihadiri oleh 30-an orang Muhammadiyah di sekitar desa Ngampelsari. Namun, sebagaimana kata Solichan Arif, seiring dengan perjalanan organisasi, hampir dipastikan simpatisan Muhammadiyah sesungguhnya berjumlah lebih. Tentu saja semarak itu akan terjadi jika Pimpinan Persyarikatan menjalankan roda organisasi dengan baik.

Selamat berjuang! (david f)

Tinggalkan Balasan