Beranda Headline Inilah Alasan Bung Karno Memilih Angka 17 untuk Bacakan Proklamasi Kemerdekaan di...

Inilah Alasan Bung Karno Memilih Angka 17 untuk Bacakan Proklamasi Kemerdekaan di Bulan Suci

0
BAGIKAN
Bung Karno saat membacakan proklamasi Kemerdekaan RI pada 9 Ramadhan 1364 H yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945 (foto: wikipedia.org)
Bung Karno saat membacakan proklamasi Kemerdekaan RI pada 9 Ramadhan 1364 H yang bertepatan dengan 17 Agustus 1945 (foto: wikipedia.org)

PWMU.CO – Di sebuah  pondok  bambu berbentuk panggung  di tengah persawahan Rengasdengklok, 8 Ramadhan 1364, atau 16 Agustus 1945. Siang itu terjadi perdebatan panas. Para pemuda yang menculik Soekarno dan Hatta menekan keduanya untuk melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia saat itu juga! Perdebatan berlangsung seru, bahkan nada ancaman pun datang silih berganti.

Puncaknya, Bung Karno pun beranjak dari kursinya dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara. “Kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut Soekarno yang bersikeras memproklamirkan kemerdekaan RI besok harinya, 17 Agustus 1945. 9 Ramadhan 1364 H.

(Baca juga: 3 Fase Keagamaan Bung Karno: dari Muslim KTP Jadi Muslim yang Yakin dan Begini Cerita Bung Karno Masuk Muhammadiyah)

“Saya seorang yang percaya pada mistik,” lanjut Soekarno menjelaskan pemilihan 17. Kata ‘mistik’ memang terkesan erat dengan takhayul dan khurafat, tetapi apa yang dilakukan Soekarno 71 tahun lalu tampaknya jauh dari dua makna negatif tentang ‘mistik’ yang selama ini terkesan dengan kemusyrikan.

“Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik,” kata Soekarno yang direkam secara jelas oleh saksi sejarah, Lasmidjah  Hardi.

(Baca juga: Puan Maharani: Saya adalah Keluarga Besar Muhammadiyah dan 5 Cerita Kedekatan Presiden Bung Karno dan Ketua PP Muhammadiyah KH Mas Mansur)

“Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” lanjut Soekarno.

Meski alasan Soekarno masih kurang disetujui para pemuda yang menginginkan proklamasi saat itu juga, 16 Agustus, Soekarno-Hatta tetap tidak bergeming. Setelah melalui perundingan yang lama dengan negosiator Achmad Subardjo, kedua proklamator itu akhirnya dapat dibawa kembali ke Jakarta.

(Baca juga: Drama di Balik Pencoretan 7 Anak Kalimat Pancasila Versi 22 Juni dan Spirit Berkemajuan Itu Ada dalam Benak Pendiri Bangsa)

Sampai di Ibukota sekitar pukul 23.00 wib, mereka menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol 1, setelah menurunkan Fatmawati dan Guruh di rumah Soekarno. “Rumah Laksamada Maeda dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno dan tokoh-tokoh lainnya,” kenang Achmad Subardjo, Menteri Luar Negeri pertama RI.

Setelah sempat menemui kepala  pemerintahan umum (Somobuco), Mayor Jenderal Nishimura, keduanya balik lagi ke rumah ini untuk membicarakan langkah menuju kemerdekaan RI.

(Baca juga: 3 Tokoh Muhammadiyah Jatim yang Diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit Pemerintah dan Ternyata, Ada 4 Tokoh Muhammadiyah Jatim yang Diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit Pemerintah!)

Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan  tokoh-tokoh lainnya,  baik  golongan tua maupun  pemuda, menunggu di serambi muka. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di  lantai dua ketika peristiwa itu berlangsung. Perumusan proklamasi berjalan secara alot, hingga penyelesaiannya hampir Subuh, 04.00 wib.

Setelah selesai merumuskan teks Proklamasi, ketiganya menuju serambi muka untuk menemui orang-orang yang berkumpul di  ruangan itu. Soekarno membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep.

(Baca juga: Soal Lahirnya Pancasila 1 Juni, Piagam Jakarta, dan Peran Politik Umat Islam dan Ternyata Tata Negara Bangsa-Bangsa Barat Meniru Konsep Rasulullah)

“Sementara teks Proklamasi diketik, kami  menggunakan kesempatan untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang dapur, yang telah disiapkan sebelumnya  oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami belum makan apa-apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh,” lanjut Soebardjo.

(Baca juga: Ahmad Dahlan, Cucu KH Ahmad Dahlan yang Gugur dalam Pertempuran Pertahankan Kemerdekaan RI dan 3 Masjid yang Jadi Monumen Perjuangan Merebut Kemerdekaan RI)

Dalam penanggalan, waktu shalat Subuh pada 17 Agustus 1945 jatuh pada pukul 4.47 wib untuk wilayah Jakarta. Artinya, masih ada waktu untuk makan sahur selama 43 menit bagi pemimpin bangsa itu. Mereka menyantap makan sahur dengan lahap. Selain karena berbuka puasa ‘sekedarnya’ pada puasa sebelumnya, kenikmatan sahur Jum’at itu juga karena bangsa ini akan memasuki era Indonesia baru yang merdeka.
Selanjutnya halaman 2

Tinggalkan Balasan