Beranda Persyarikatan Berpakaian Adat, Berperang Melawan Pokemon Go

Berpakaian Adat, Berperang Melawan Pokemon Go

0
BAGIKAN
90f7fa46-c1fe-4b46-9546-ffc07b97471e
Aksi teatrikal “Perang Melawan Pokemon Go” SMP Muhammadiyah 11 Dupak Bangunsari Surabaya.

PWMU.CO – Permainan game online bisa berdampak negatif bagi perkembangan anak. Salah satunya bisa menimbulkan kecanduan game online yang berdampak psikologis. Sebagai upaya untuk menangkal pengaruh negatif itu, pelajar SMP Muhammadiyah 11 Dupak Bangunsari Surabaya menyatakan perang melawan budaya negatif untuk Indonesia berkemajuan. Terutama pengaruh game online “Pokemon Go” dan game clash of clan (COC) yang kini sedang booming.

Sambil mengenakan pakaian adat Indonesia, puluhan pelajar SMP Muhammadiyah 11 Dupak Bangunsari Surabaya turun aksi kejalan serukan “Merdeka dari Game Online”, Rabu (10/8) pukul 10.00. Aksi diawali pelajar ini dengan pawai berkeliling Kelurahan Dupak Bangunsari Surabaya. Lalu disusul dengan aksi teatrikal “Perang Melawan Pokemon Go” yang dilakukan di depan sekolah. Aksi pun berlanjut dengan pembacaan puisi berjudul “Permainan Tradisional vs Pokemon Go”. Lantas kemudian para pelajar bermain permainan tradisional Indonesia. seperti Dakon, Gobak Sodor, Gangsing, Lompat Tali dan Egrang, serta Engkle.

(Ajak Siswa Baru Berburu POKEMON ke Taman Kota dan 3 Tertib untuk Membina Pribadi Pelajar)

”Aksi ini berawal dari keresahan akan dampak negatif yang ditimbulkan permainan game online. Karena permainan game online bisa menimbulkan kecanduan dan berpengaruh secara psikologis bagi perkembangan anak,” kata Azrohal Hasan selaku Guru IPS SMPM 1 Dupak Bangunsari Surabaya.

Azrohal menceritakan, dahulu anak-anak Indonesia bermain dengan permainan tradisional yang mempunyai nilai dan filosofi budaya masyarakat setempat. Permainan tersebut punya segi positif untuk melatih anak aktif bergerak, gotong royong, berkomunikasi, dan melatih kognitif dan psikomotor anak-anak tersebut. ”Namun seiring dengan arus globalisasi dan kemajuan teknologi, permainan tradisional mulai tergeser dengan permainan game online,” paparnya.

(Terkait Banyaknya Guru yang Dilaporkan ke Polisi, Ini Pesan Mendikbud untuk Pelajar dan Ratusan Pelajar Serukan Rawat Kebhinekaan dan Tolak Sektarianisme)

Azrohal menambahkan, aksi yang dilakukan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat. Terutama pentingnya pengawasan dari orang tua agar bisa menangkal dampak negatif dari kemajuan teknologi, terutama dari fasilitas gadget yang dipakai anak. Orang tua harus selalu menjalankan fungsi pengawasan, karena anak adalah objeknya.

”Dampak kecanduan game online, termasuk Pokemon Go dan COC dapat dijadikan contoh kongkrit. Orang tua, masyarakat, bahkan instansi pemerintah harus tersadarkan dan bisa mengontrol derasnya arus teknologi dan informasi. Selain itu penting untuk kembali mengenalkan kepada anak-anak Indonesia permainan tradisional yang lahir dari Tanah Air kita tercinta,” tandasnya. (aan)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan