Penjelasan Lengkap Mendikbud tentang Pro-kontra Full Day School

Penjelasan Lengkap Mendikbud tentang Pro-kontra Full Day School

13777
12
BAGIKAN
Mendikbud Prof Muhadjir Effendy saat berfoto bersama dengan jajaran pimpinan PWM Jatim di Surabaya, 6/8 (foto: mohammad nurfatoni)
Mendikbud Prof Muhadjir Effendy saat berfoto bersama dengan jajaran pimpinan PWM Jatim di Surabaya, 6/8 (foto: mohammad nurfatoni)

PWMU.CO – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendy mewacanakan full day school (sekolah sepanjang hari). Program ini merupakan penerjemahan dari visi Presiden Joko Widodo di bidang pendidikan yang tercantum dalam Nawacita yaitu pentingnya pembentukan karakter terutama pada level pendidikan dasar yaitu SD dan SMP.

Muhadjir menyampaikan, Presiden Joko Widodo berpesan bahwa kondisi ideal pembentukan karakter adalah pada saat pendidikan dasar. Menurut Presiden, peserta didik di tingkat SD perlu mendapatkan pendidikan karakter 80 persen dan 20 persennya pengetahuan sementara SMP 60 persen pendidikan karakter dan 40 persen pengetahuan.

“Kalau porsi pendidikan dasar masih seperti sekarang ini, maka tidak mungkin kita realisasikan visi Presiden itu,” kata Muhadjir dalam wawancara dengan Metro TV, Senin (8/8) malam.

(Baca: Ini Penjelasan soal KIP dan Pendidikan Vokasi, 2 Tugas Pokok yang Diamanatkan Presiden pada Mendikbud Baru)

Menurut Mendikbud, full day school tidak berarti peserta didik belajar sehari penuh di sekolah. “Jangan bayangkan terus nanti diberi pelajaran sepanjang hari.” Menurutnya, pelajaran diberikan tetap seperti sediakala tapi ada jam ekstra yang sifatnya menggembirkan dan membikin anak-anak nyaman. “Di situlah proses pembentukan kepribadian. Jadi bukan sekadar pelajaran. Tapi perilaku guru yang menjadi contoh. Memberikan contoh-contoh teladan.”

Tentang kekhawatiran bahwa program ini membuat anak-anak capek, Mendikbud mengatakan bahwa anak-anak akan diberi kesempatan beristirahat dan makan siang walaupun sekadarnya. “Itu nanti diatur oleh sekolah. Oleh karena itu tiap sekolah saya wajibkan ada Badan Gotong Royong Pendidikan.”

(Baca juga: Cerita di Balik Pengangkatan Mendikbud Muhadjir Effendy yang Serba Mendadak dan Sangat Rahasia)

Menurut Muhadjir, program ini sekaligus untuk mengantisipasi adanya waktu kosong antara jam pulang sekolah dengan jeda ketika anak-anak menunggu orang tua pulang dari kerja. “Waktu kosong yang itu sangat rawan dengan infiltrasi pengaruh-pengaruh negatif terhadap anak. Yaitu misalnya anak keluar dari sekolah itu berarti bukan tanggungjawab sekolah tapi juga belum sampai di keluarga juga. Itulah tempat untuk berbagai pengaruh seperti narkoba, ajaran-ajaran ekstrim, bahkan termasuk kekerasan terhadap anak.”

Kepada pwmu.co Kepala Humas UMM Nasrullah, yang kini merangkap staf Khusus Mendikbud, menjelaskan bahwa kegiatan ekstra kurikuler yang menyenangkan namun membentuk karakter dan kepribadian bisa berupa Pramuka atau Palang Merah Remaja. ”Tapi kalau misalnya ada kursus tambahan juga bisa dimasukkan, namun porsi pembentukan karakter tentu lebih besar,” katanya.

(Baca juga: Mendikbud Prof Muhadjir Effendy Sudah Diwakafkan Muhammadiyah untuk Negara dan Mendikbud Prof Muhadjir, Ternyata Juga Penggemar Rhoma Irama)

Selain itu, kata Nasrullah, dengan full day shcool, ikatan dan semangat espirit de corp antar peserta didik pun akan terjalin dengan baik, seperti kesetiakawanan dan toleransi. “Di sekolah nanti mereka akan makan siang bersama-sama sehingga keakraban akan lebih terjalin.”

Program sekolah sehari ini juga akan sangat membantu orang tua, di mana setelah mereka kerja mereka dapat menjemput buah hati mereka di sekolah dan merasa aman karena anak-anak mereka tetap berada di bawah bimbingan guru.

Menyinggung peran orang tua dalam program ini, Nasrullah mengatakan bahwa peran orang tua tetap penting. “Karena itu perlu juga dipikirkan hari Sabtu menjadi hari libur untuk keluarga sehingga ikatan emosianal dengan orang tua tetap terjaga dengan baik.”

(Baca juga: Mendikbud Prof Muhadjir Effendy di Mata Muhammadiyah Jatim dan Prof Muhadjir, Mendikbud Itu juga Seorang Qari’)

Dengan demikian, tambah Nasrullah, jangan sampai full day school justru mengungkung hak anak untuk bermain, misalnya. “Sebab, full day school justru bertujuan melindungi anak secara aman di sekolah dengan komunitas yang baik. Sementara pada hari Sabtu dan Minggu, mereka berada di rumah dalam didikan orangtua.”

Program full day shcool sebenarnya bukan ide baru. Beberapa sekolah sudah lama menerapkannya. Hanya saja, jika wacana ini menjadi kenyataan, maka program ini akan menjadi skala nasional. (MN)

12 KOMENTAR

  1. Pak Muhajir,,, program tsb baik tp harus didukung oleh anggaran yang cukup, terutama untuk kegiatan sore ( pramuka, guru les bahasa inggris, atau mungkin para phisikolog)
    Bagaiamana kalau sekolah di pedalaman?? ( satu sekolah SD hanya tersedia 4 orang Guru), dijawa masih banyak

  2. Saya setuju,namun sekolah harus benar2memiliki program yg jelas dan konsisten,guru harus punya komitmen,anggaran di kelola dg baik,ada kerja sama dg org tua,,
    Yang terjadi sekarang adalah sekolah tidak mennjadikan anak pembaharu dalam lingkungan anak tetapi sekolah mengikuti pola hidup di masyarakat yg serba tidak berkarakter.. ayo para guru berani nggak menjadikan anak didik anda menjadi duta ketertiban,kebersihan,kesopanan,keimanan,?

  3. Pak Muhajir,,,
    Setelah sy membaca di media yang terkait dengan program FDS, pro kontra luar biasa
    Sy memberi saran hendaknya setiap perubahan tersebut sebaiknya datang dari para Guru, PGRI dan orang tua murid.
    Bpk dialog dulu dengan beliau, hasilnya bisa dipakai pijakan untuk mengubah kebijakan.,,,Krn kalau langsung uji pasar mk akan terjadi pro kontra yg luar biasa
    Dan krn Bpk adalah kader tulen Muhammadiyah mk jangan segan2 minta maaf kesiapun bila kebijakan bpk tdk diterima oleh masarakat serta siap dilengserkan

  4. Saya yakin tujuan dari program ini baik namun terus terang saya sangat khawatir atas pendidikan agama anak kami yang nota bene beragama islam. Kelihatannya program pendidikan semacam ini memang akan dapat membentuk karakter yang kuat namun karakter yang minim pendidikan agama.
    Padahal pendidikan agama ini juga sangatlah penting bagi keluarga muslim Agar anak anaknya menjadi seorang yang MUKMIN bukan sekedar MUSLIM. Untuk itu kalaulah program ini di realisasikan hendaknya anak anak janganlah dibebani lagi dengan PEKERJAAN RUMAH agar anak anak pada malam harinya bisa belajar agama .
    Sekian.

  5. saya setuju, dulu ketika saya masih di MTsN, itu dalam satu minggu full dengan kegiatan belajar mengajar, dimulai pagi bahkan subuh hari, anak-anak mulai beraktifitas yang tentu mempersiapkan bekal untuk sekolah sampai sore hari..
    kegiatan belajar mengajar selesai pada pukul 12.30 siang, kemudian dilanjutkan dengan shalat dhuhur berjamaah dimushalla, semua murid harus shalat berjamaah, bagi ketua kelas masing-masing diberikan mandat untuk mengabses anak buahnya siapa yang shalat dan siapa yang tidak. selesai shalat dhuhur, sebgian siswa ada yang pulang ke rumah yang terdekat, siswa yang jauh tempat tinggal, bersama dengan siswa yang lainnya makan siang bersama-sama, disela waktu itu kita shering, bersenda gurau, walaupun sangat menguras tenaga, tapi benar-benar dirasakan tidak ada waktu yang terbuang, hingga sore hari. bgitulah aktifitas kami selama seminggu di MTsN. dan tidak ada kata “takut tidak ada waktu bermain”, “kecapek-an’.

    saya setuju dengan kebijjakan yang akan diambil, karna saat ini, orang tua sendiri juga disibukkan dengan aktifitasnya yang padat, wacana full day school saya rasa tepat untuk pengganti “orang tua” yang kesibukkan

  6. Saya sangat tidak setuju, karena bagaimana nasib anak-anak nanti kalau mereka tidak sekolah madrasah atau TPQ,jam sekolah madrasah dimulai dari jam 14:00 dan sampai sore. saya sebagai guru TPQ merasa prehaten dengan perkembangan anak saat ini, bagaimana kalau anak-anak yang biasanya sekolah madrasah/TPQ, kemudian harus berhenti, kyai2 para uztad, Uztadzah yang mengajar dan berjuang harus duduk2 dirumah, yang biasanya mengisi pelajaran agama.
    mayoritas di desa kami anak2 yang masih duduk di bangku SD adalah mereka juga yang mengisi bangku2 di madrasah dan TPQ, Pak Mentri yang terhormat, saya tahu kebijakan anda memang baik, tapi tolong pertimbangkan lagi. karena mungkin dikota2 besar sekolah full day school memang biasanya, tapi di sini dan diberbagai wilayah sini, madrasah juga sama pentingnya. malam harinya juga masih banyak anak2 yang mengaji.
    karena yang sebenarnya adalah belajar umum dan agama sama2 sangat penting, didalam pelajaran SD maupun SMP kita akan terpacu untuk menjadi orang sukses, dan dengan belajar agama di Madrasah2 anak2 akan mengerti bahwa kelak, semua ini hanya akan titipan dan kita tidak hanya berlomba2 pada kebaikan dunia saja tetapi Akherat juga.
    trima kasih….

  7. Penggunaan istilah full day school ini yang mungkin, sebagai salah satu, penyebab munculnya pro-kontra. Anak saya tahun ini masuk kelas 1 SD di Helsinki, Finland. Ada kegiatan yang kelihatannya serupa dengan deskripsi di atas. Namun demikian, bukan dinamakan full day school, namun afternoon activities. Oleh karena itu, tidak terkesan sekolah, namun aktivitas “ekstra” biasa. Barangkali ingin mengenal lebih jauh, sila di-searching “afternoon activities” helsinki.

  8. bpk Menteri,
    1. apa pembentukan karakter , atau tujuan lain ( Keduanya ends), mulainya tidak pada alat alatnya ( means) .pembentukan karakter amat terkait dengan tauladan guru , dan tauladan lembaga pendidikan.
    2. karakter apa yang akan dibangun , perlu dilakukan assessmen bersama.Kami melihat salah satu hal ialah dengan pendidikan sekuler ,manusia melihat kehidupan itu terhenti di dirinya; kebanyakan manusia jika harus menyelesaikan problem ,dan dengan pengetahuan umum yang ia miliki persoalan yang ada tak terselesaikan menjadi bingung -putus asa- stress ; banyak manusia tak tahu bahwa ingat kepada Allah amat bisa mendapat cara menyelesaikan persoalan yang buntu bagi dirinya. Daaalam dunia sains , setahu kami ilmu pengetahuan beranggapan Allah itu cuma bikinan manusia agar pada waktu tak tahu harus berbuat apa, manusia akan merasa tenteram
    3.Hal pembentukan lembaga gotong royong. kami fikir komite sekolah lah yang perlu di perbaiki .
    monitoring dan supervisi lah yang perlu ditingkatkan efektivitasnya.
    Mudah mudahan bpk berhasil mengarahkan dan menjadikan pendidikan kita menghasilkan karakter adil,jujur,semangat pengabdian.