2 PR yang Harus Segera Diatasi oleh Mendikbud Menurut Dewan Pendidikan Jatim

2 PR yang Harus Segera Diatasi oleh Mendikbud Menurut Dewan Pendidikan Jatim

1647
0
BAGIKAN
Prof Zainuddin Maliki (foto: aan haryanto)
Prof Zainuddin Maliki (foto: aan haryanto)

PWMU.CO – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendy, hari ini dijadwalkan menghadiri beberapa acara di Surabaya, Jawa Timur. Senyampang di Jatim, Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Prof Zainuddin Maliki, mengutarakan beberapa problematika pendidikan yang harus segera diatasi Mendikbud. Dua di antaranya tentang Ujian Nasional (UN) dan ambiguitas kurikulum.

Menurut Zainuddin, beberapa hal yang harus dilanjutkan Mendikbud baru ini adalah tidak menjadikan UN sebagai penentu kelulusan. “UN boleh dilakukan untuk pemetaan, bukan penentu kelulusan,” katanya. Hal ini dilakukan sebagai sarana agar anak-anak didik sadar belajar, bukan sadar mengejar kelulusan.

(Baca: Mendikbud Prof Muhadjir Effendy Pulang Kampung, Pamitan Minta Doa Restu dan Pendidikan Modern Harus Tanamkan Nilai dan Rasa)

Selain UN, Zainuddin juga menyuarakan pentingnya mengakhiri dualisme kurikulum yang berlaku di sekolah kekinian, yaitu K-13 (Kurikulum 2013) dan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). “Akhiri dualisme kurikulum itu dengan kurikulum terintegrasi yang antara lain ditandai dengan mata pelajaran yang sedikit, tapi didekati secara komprehensif,” kata pria yang juga tercatat sebagai Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2009-2014 itu.

Pembenahan kurikulum, tekan mantan Rektor Universitas Muhammadiyah (UMSby) ini, tidak berarti harus mengganti kurikulum. “Memang kalau bisa tidak perlu mengganti, tapi  kurikulum yang ambigu ini harus dibenahi agar tidak membingungkan para guru,” jelasnya.

(Baca: Ternyata, Para Cukong yang Menguasai Indonesia dan ME Awards Menyaring Kader Masa Depan)

Dengan mata pelajaran sedikit, kata Zainuddin, guru punya cukup waktu yang cukup untuk menerapkan strategi pembelajaran deep learning (pembelajaran mendalam). Tidak hanya learning to know (belajar untuk tahu), tapi guru bisa membawa anak didik ke level berikutnya, to do, to be hingga live together.

“Tugas guru sekarang memfasilitasi belajar anak didik atas dasar kesadaran sendiri, bukan karena diintimidasi oleh UN penentu kelulusan,” tambah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim ini. Karena itu, pembenahan kurikulum yang ditandai mata pelajaran sedikit dengan pendekatan komprehensif mengharuskan guru untuk meningkatkan kompetensinya dalam menerapkan pembelajaran aktif anak didik. (iqbal)

TIDAK ADA KOMENTAR