Kasus Tanjung Balai Menodai Wajah Damai Negeri Tercinta

Kasus Tanjung Balai Menodai Wajah Damai Negeri Tercinta

939
0
BAGIKAN
Kelenteng Tanjung Balai (foto merdeka.com)
Kelenteng di Tanjung Balai (foto merdeka.com)

PWMU.CO – Saat terjadi kasus perusakan sejumlah tempat beribadah di Tanjung Balai (29/7), peserta Summer Institute sedang Study Tour di Washington DC. Juga ada diskusi tentang isu-isu hak asasi manusia sebagai rangkaian agenda terakhir sebelum acara perpisahan (farewell party). Diskusi dilaksanakan di salah satu ruangan The Dupont Circle Hotel, Washington, tempat peserta menginap.

Rasanya sedih mengikuti kasus bernuansa SARA itu kembali terjadi. Saya sendiri mengikuti kasus itu dari sejumlah media online di Tanah Air. Kesedihan itu dikarenakan saya selalu membanggkan kondisi bangsa Indonesia yang toleran dan saling menghargai di tengah kemajemukan etnis, budaya, dan agama. Kasus intoleransi seperti terjadi di Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, harus menjadi atensi semua pihak.

(Baca: Jum’atan dengan 3 Kali Khutbah. Sisi Unik Umat Islam di Utah, Amerika dan Khatib Jumat yang Ber-HP dan Lempar Humor)

Seperti diberitakan di berbagai media Tanah Air, kembali terjadi kasus pembakaran Vihara dan Klenteng di Tanjung Balai. Kasus bernuansa SARA ini jelas bisa semakin menodai wajah Indonesia di mata dunia. Karena potret hubungan antarumat beragama di negeri tercinta selalu digambarkan toleran dan saling menghargai. Faktanya, hubungan antarumat beragama di Tanah Air ternyata laksana api dalam sekam. Antarkelompok, antarumat beragama, dan antaretnis bisa begitu mudah terhasut isu-isu yang menyesatkan.

Itu berarti kehidupan yang toleran masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, tokoh masyarakat, dan elit beragama. Padahal sejak negeri ini didirikan, semangat bersatu dalam keragaman (unity in diversity) selalu menjadi penyemangat tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negeri ini juga memiliki moto nasional Bhinneka Tunggal Ika. Motto ini menegaskan, meski negeri tercinta ber-Bhinneka namun harus tetap Tunggal Ika.

(Baca juga: Dirobohkannya Masjid Kami, Sebuah Kisah Nyata Intoleransi Mayoritas pada Minoritas)

Bangsa ini harus menyadari bahwa kemajemukan etnis, budaya, dan agama merupakan suatu keniscayaan. Bahkan sering juga dikatakan bahwa kemajemukan merupakan bagian dari rencana Allah SWT (sunnatullah). Karena itu, marilah kita buktikan pada dunia bahwa negeri tercinta ini layak menjadi laboratorium dunia untuk kehidupan umat beragama yang toleran dan saling menghormati.

Kasus perusakan sejumlah tempat ibadah di Tanjung Balai harus menjadi pelajaran berharga. Itu karena ternyata umat begitu mudah terpengaruh isu-isu SARA. Umat ini harus dididik sehingga bisa menjadikan keragaman sebagai spirit untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik (fastabiqul khairat). Jangan hanya karena terganggu dengan suara adzan dari masjid lalu membuat emosi keagamaan terguncang. Bagi umat Islam, adzan merupakan bagian syiar agama. Suara adzan juga panggilan salat dan hanya dilakukan lima kali dalam sehari. Karena itu, umat non-Islam yang berdomisili di sekitar masjid harus membiasakan diri dengan suara adzan. Apalagi jika adzan itu dikumandangkan dengan suara lembut. Pastilah suara adzan yang demikian bisa dinikmati.

(Baca juga: Pendirian Cabang Muhammadiyah Ini Pernah Diejek Hanya Dihadiri Kodok)

Sementara itu, masjid yang menyuarakan adzan atau lantunan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an melalui pengeras suara juga harus berempati pada tetangga yang non-Muslim. Jika umat yang berbeda agama saling menghargai, maka kehidupan yang toleran pasti terwujud. Satu hal yang penting diingat dalam beragama adalah adanya larangan berlebih-lebihan. Segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan, termasuk beragama, pasti akan berujung pada perilaku ekstrim.

Pesan ini penting disampaikan pada semua umat beragama. Karena itu, paham Islam menurut Muhammadiyah selalu menekankan pentingnya mazhab tengahan (Al-wasathiyyah) dalam beragama. Terlalu ekstrim ke kanan (fundamentalis) dan ke kiri (liberalis) bisa menjerumuskan diri pada sikap berlebih-lebihan dalam memaknai ajaran agama. Pada konteks inilah menjaga keseimbangan (al-tawazun) dalam beragama sangat penting.

(Baca juga: Kisah Terusirnya Mubaligh Muhammadiyah oleh Warga Mayoritas dan Kisah Terusirnya Tokoh Muhammadiyah Yungyang dari Mushala, tapi Akhirnya Dapat Hadiah Masjid)

Menyikapi kasus bernuansa SARA yang berujung perusakan tempat ibadah di Tanjung Balai, Muhammadiyah meminta aparat pemerintah bertindak tegas. Kasus ini harus diusut tuntas. Mereka yang terlibat, dari kelompok dan umat beragama apapun harus ditindak. Tokoh masyarakat dan agamawan juga bisa berkontribusi agar kondisi di Tanjung Balai segera pulih.

Sementara itu masyarakat juga harus mengendalikan diri. Jangan mudah terhasut dengan isu-isu yang menyesatkan. Tegasnya, semua komponen bangsa harus bersinergi untuk mewujudkan kehidupan yang toleran. Apapun alasannya dan siapapun pelakunya, perusakan tempat ibadah tidak bisa dibenarkan dalam agama. Apalagi jika dalam kasus-kasus intoleransi itu disertai korban jiwa. (*)

Biyanto di Washingthon DCCatatan DR Biyanto MAg, Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, peserta Summer Institute 2016 UCSB

TIDAK ADA KOMENTAR