Ketika Tiga Alumni Pesantren yang Berbeda Mengajak ‘Ayo Mondok’

Ketika Tiga Alumni Pesantren yang Berbeda Mengajak ‘Ayo Mondok’

536
1
BAGIKAN
Peserta Pembekalan SantriMBS Gondanglegi 2016 (foto Ridlo)
Peserta Pembekalan SantriMBS Gondanglegi 2016 (foto Ridlo)

PWMU.CO – Muhammadiyah Boarding School (MBS) Gondanglegi menyelenggarakan kegiatan pembekalan kepada santriwan-santriwati baru yang diselenggarakan di Masjid Al Ma’un, kompleks MBS Gondanglegi, Ahad (24/7) lalu. Kegiatan yang diikuti oleh 22 santriwan dan 19 santriwati tersebut dimulai pada pukul 07.00 hingga waktu shalat Dzuhur tiba. Sebagai pembawa acara adalah 3 santriwan-santriwati yaitu santriwati Rika asal Ampelgading Kabupaten Malang yang menggunakan bahasa Indonesia, santriwan Jimly asal dari Jakarta menggunakan bahasa Arab dan santriwan Aziz asal dari Pasuruan menggunakan bahasa Inggris.

(Baca: Santri Ini Terkesan dengan Masa Taaruf MBS Jombang)

Acara dibuka dengan penampilan Tari Indang Badinding oleh 7 santriwan yang pernah menjuarai lomba Tari Radar Malang Goes to School tahun 2015, dilanjutkan dengan penampilan lagu Religi berjudul Syukur oleh santriwati Novia Asari asal Ampelgading Kab. Malang dan penampilan group nasyid “Putri Al Ma’un”.

Acara Pembekalan ini dikemas dalam bentuk talkshow bertajuk “Ayo Mondok“ dengan menampilkan 3 narasumber yang juga merupakan pengasuh di MBS Gondanglegi. Tampil pertama adalah Ustadz Sugiono, SHI, alumni Ponpes Baitul Arqam Jember dan PPUT UMM. Dia menceritakan pengalamannya ketika masih jadi santri. Bahwa masing-masing pondok pesantren mempunyai keunikan sendiri-sendiri dalam mendidik santrinya. Biasanya sanksi fisik akan diberikan ketika santri terlambat mengikuti shalat berjamaah di masjid. Karena itu dia berharap santri MBS Gondanglegi mau mematuhi tata tertib yang telah dibuat agar tidak kena sanksi.

(Baca juga: Pesantren Muhammadiyah Bangun Mega Proyek Islamic Center)

Ustadz Ahmad Saddam Al Azis, SPdI, alumni Ponpes Al Ittihad Al Islamy Camplong Sampang Madura dan PUTM UMY, bercerita bahwa mencari ilmu di pondok pesantren itu awalnya terpaksa tapi lama-lama akan terbiasa dan akhirnya akan menyenangkan. Tradisi makan bersama dalam satu piring dan masak mie instan menggunakan air setengah matang yang pernah dialami di pesantren mengajarkan kepada dia tentang keshalehan sosial dan kebersahajaan dalam hidup itu penting sekali.

Sedangkan Pengasuh Putri yaitu Ustadzah Chotitah Anggun Dumiyangsari SIP, yang alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Mantingan Ngawi dan Hubungan Internasional UMM, menceritakan pengalamannya bahwa keberadaanya di pesantren adalah ‘paksaan’ dari sang Mama yang tidak mungkin dia tolak pada saat itu. Sanksi fisik dijemur di tengah lapangan adalah hal yang paling ditakuti oleh santri putri di pesantren tersebut dan makan mie instan bareng-bareng di tengah malam yang beraroma deterjen karena media memasak yang lupa dicuci terlebih dulu adalah pengalaman yang takkan pernah terlupakan dalam hidupnya.

(Baca juga: MBS HAMKA Putri Terima Wakaf Bangunan 1.605 Meter)

Ketiga pengasuh yang pernah merasakan kehidupan pesantren 4–7 tahun tersebut kini merasakan manfaat yang sangat besar yaitu kebiasaan disiplin, mandiri, keikhlasan dalam hidup dan ilmu yang sangat bermanfaat yang bisa ditransfer kepada santriwan dan santriwati MBS Gondanglegi.

Sekretaris PCM Gondanglegi, Masturin Adi Wijaya dalam sambutannya menyampaikan bahwa MBS Gondanglegi yang dihuni santriwan santriwati dari Papua, Sulawesi Tengah, Tarakan Kalimantan, Jakarta, Madura, Bondowoso, Pasuruan dan beberapa lagi dari Kabupaten Malang ini akan berusaha untuk mendidik dan mengajarkan agama kepada santriwan dan santriwati dengan suasana yang menyenangkan. Kegiatan IPM dan Tapak Suci diwajibkan untuk diikuti oleh semua santri sebagai bentuk komitmen kepada proses pengkaderan yang berkesinambungan di Persyarikatan Muhammadiyah.

(Baca juga: Muhammadiyah Gresik Resmikan Ponpes “Ulul Albab”)

Lina Safrida yang hadir mewakili PCA Gondanglegi berharap kepada santriwan dan santriwati baru agar selalu mentaati tata tertib asrama yang telah ditetapkan oleh Pengasuh. Beliau juga gememberikan resep ampuh kepada para santri yang merasa tidak krasan atau kangen dengan orangtua di rumah yaitu dengan membaca Alquran setiap merasakan hal tersebut. Resep itu juga yang diberikan kepada dua putra-putrinya yang juga sedang nyantri di ponpes dan resep itu dirasakan kedua anaknya sangat manjur.

Dengan berbagi pengalaman ini diharapkan santriwan dan santriwati yang sedang menuntut ilmu di MBS Gondanglegi bisa dengan ikhlas untuk selalu taat kepada tata tertib pesantren dan tetap tawadhu’ kepada para ustadz dan ustadzah. (Turin/Rid)

1 KOMENTAR

  1. Anak saya kelas 3 smp di MBS pleret bantul,jogja.setelah lulus smp mau melanjutkan tingkat sma.pinginny di MBS lagi ,tapi mbs pleret blm ada smanya.gmn ya sebaikny?mudh2an anak saya bisa diterima di mbs prambanan jogja.

Tinggalkan Balasan