Kunci Keberlanjutan Muhammadiyah Itu Ada di Kualitas Anggotanya

Kunci Keberlanjutan Muhammadiyah Itu Ada di Kualitas Anggotanya

232
0
BAGIKAN
467258ca-56bd-491f-b83d-3812b392ac49
Nadjib Hamid memberikan materi dalam Upgrading PDA Kota Malang. (Foto:

PWMU.CO – Kaderisasi memiliki peranan penting dalam eksistensi organisasi. Karena masa depan organisasi terletak disana. Jika proses kaderisasi bisa berjalan baik, dengan kualitas kader yang dihasilkan juga baik, maka organisasi itu tentu bisa berjalan baik sesuai dengan relnya. Demikian disampaikan Nadjib Hamid, wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM) Jawa Timur saat mengisi materi Upgrading Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Malang, Sabtu (23/7).

Nadjib Hamid menjelaskan, kaderisasi merupakan proses dari upaya pembentukan kader yang dilakukan secara striktural, kultural, formal maupun nonformal. Itu dilakukan demi eksistensi dan keberlanjutan organisasi. Output dari kaderisai itu sendiri adalah kader yang merupakan inti dari suatu organisasi. Mereka merupakan pelopor, penggerak dan generasi penerus organisasi.

(Baca: Perkuat Sinergi dengan Cara Upgrading dan Aisyiyah Bangun Budaya Organisasi yang Mencerahkan)

Lanjut Nadjib, sasaran kaderisasi itu sangat luas, tidak terbatas dalam lingkup formal saja. Tetapi kaderisasi bisa dimulai dari lingkungan keluarga, amal usaha, komunitas, siswa dan mahasiswa, serta Ortom dan Persyarikatan.

”Kaderisasi merupakan proses upaya pembentukan kader. Dengan harapan tercetak generasi yang memliki kualitas dan kapasitan unggul yang membedakan dengan lainnya. Ditangan kader yang merupakan anggota inti, pelopor dan penggerak terletak masa depan sebuah organisasi,” tegasnya.

Nadjib menambahkan potensi yang dimiliki Muhammadiyah Jatim sangat besar, dengan jumlah kurang lebih 10 juta warga dan ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), maka kaderisasi didalamnya perlu dimaksimalkan dan dikuatkan. Muhammadiyah, kata Nadjib, memiliki dua fungsi utama yaitu, sebagai state of mind atau gerakan pemikiran yang mengarah pada Islam berkemajuan dan organisasi sebagai sarana bersinergi.

(Baca: Aisyiyah Jangan Sering Menoleh ke Belakang, tapi Harus Fokus ke Depan dan Seperti Habibie-Ainun, Mughnijah adalah Sayap Sebelah bagi Fasich)

“Pola-pola managemen di Muhammadiyah harus diatur dengan menggembirakan dan memudahkan, berorientasi pada penyelesaian, efektif dan efisien, serta proaktif dan melayani. Untuk itu perlu sinergis, peduli, tertib dan disiplin, serta mengedepankan transparansi serta kejujuran,” ujarnya.

Terakhir, Nadjib mengungkapakan, peran dari Majelis Pembinaan Kader (MPK) dalam hal ini ada dua yakni sebagai unsur pembantu pimpinan Persyarikatan dalam pengkaderan dan sebagai panutan, sehingga perlu memiliki kapasitas organisasional yang mumpuni dan integritas personal yang juga harus baik. (Nuzula/aan)

TIDAK ADA KOMENTAR